• Ikuti kami :

Identitas dan Tradisi: Sudut Pandang (Beberapa) Orang Islam

Dipublikasikan Kamis, 31 Agustus 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Indonesia adalah sebuah negara yang khas. Tak ada negara lain, selain Indonesia, yang terbentang 5.077 km jauhnya, terdiri dari berbagai pulau besar dan kecil. Sejak mendaulat diri sebagai sebuah negara, Indonesia telah memiliki rupa-rupa keanekaragaman sosial dan budaya. Negara ini ditinggali oleh 87% penduduk muslim dan  13 % nonmuslim (data BPS tahun 2010) dengan ribuan tradisi, ratusan suku bangsa, dan berbagai bahasa daerah. Keberagaman yang amat mempesona dan bangsa ini menempuh kesehariannya yang beraneka dalam keadaan yang cukup damai serta terkendali.

Dalam edisi tradisi kali ini, redaksi nuun.id mewawancarai 7 orang muslim melalui perangkat elektronik jarak jauh untuk mengetahui pandangan mereka tentang Indonesia dan tradisi. Ketujuh orang responden kami tentu tidak dapat dikatakan mewakili pandangan muslim Indonesia secara keseluruhan. Akan tetapi mereka memiliki beberapa pandangan menarik yang boleh jadi berfaedah untuk para pembaca.

Responden kami kali ini terdiri dari 3 orang perempuan dan 4 orang laki-laki, berusia 26-31 tahun dengan profesi yang berbeda satu sama lain. Beberapa di antaranya turut dalam aktivitas dakwah dan sosial di luar pekerjaannya. Ada yang beprofesi sebagai pegawai negeri sipil (PNS), manajer di suatu perusahaan otomotif dari Jepang, dosen, guru al-Quran, guru privat Bahasa Inggris, serta seorang mahasiswa pascasarjana. Mereka tinggal di beberapa tempat (Jakarta, Depok, Solo, Lampung). Selain itu ada pula responden yang tengah menempuh pendidikan pascasarjana di Eropa. Seorang responden kini mengabdi di Pangkal Pinang namun merangkap studi di Bandung. Ketujuh responden berasal dari beragam latar belakang suku dan budaya.

Identitas dan Makna Hidup

Sebelum bertanya tentang tradisi, kami meminta mereka untuk mendefinisikan identitas dirinya secara berurutan, sebagai seorang muslim, bagian dari bangsa Indonesia dan suku tertentu di Indonesia. Sang PNS tidak mengurutkannya. Sebagai keturunan Jawa, ia tidak melihat banyak pengaruh kejawaan dalam kehidupannya sehari-hari. Memahami kejawaan baginya berguna hanya untuk dapat bersikap wajar dengan orang Jawa lainnya. Ia merasa menjadi Jawa hanya karena pertalian darah dengan orang tua dan dididik oleh keluarga yang berasal dari Jawa.

Seperti menjadi Jawa, bagi PNS kita ini, menjadi Indonesia pun bukan sesuatu yang dapat dipilih. Menjadi orang Indonesia ialah nasib yang tak dapat ditolak. Ia memandang dirinya sebagai warga negara yang diikat oleh hukum, diikat oleh kesepakatan bersama. Tidak ada yang terlalu khusus soal Indonesia, selain sebagai tempat kelahiran.

Sementara itu, menjadi Muslim adalah jati diri dan pilihan yang ia fahami memiliki konsekuensi panjang dan dalam. Melampaui usia di dunia dan batas-batas administrasi kedaerahan. Islam bukan hanya lentur untuk diterapkan di berbagai kebudayaan, tapi juga kekal untuk selalu diterapkan sepanjang zaman. Maka baginya, segala aturan yang mendasari keislaman harus dijaga dan dipelajari. Dengan menjadi muslim, ia menjadi faham tentang cara melihat dan menghadapi perbedaan dengan orang lain dari sudut pandang apapun. Baik kepada sesama orang Jawa, dengan orang Sunda (istri dan keluarganya), juga orang-orang Sumatera di kantornya.

Lain hal dengan sang manajer perusahaan Jepang. Baginya suku, agama dan kewarganegaraan adalah identitas. Ia memang tak mengurutkannya. Menurutnya setiap manusia mesti mempertahankan dan menyiarkan ketiganya sesuai dengan level atau posisi saat ini. Ia memberi contoh ketika kunjungan bisnis ke Jepang. Di akhir konferensi yang dihadiri oleh perwakilan beberapa negara biasanya diadakan gala dinner. Sebagai bagian dari suku Sasak, ia mengenakan syal khas suku Sasak yang dipadu dengan jas dengan tujuan mengenalkan Lombok. Sebagai muslim ia meminta ditunjukkan restoran halal, atau minimal restoran yang tidak memiliki menu babi. Ia pun menolak dengan santun rekan yang ingin menuangkan alkohol ke gelasnya, meskipun ini adalah tradisi penting di Jepang. Sebagai orang Indonesia ia merasa harus mengedepankan sopan santun sebagai identitas budaya Timur.

Guru al-Qur'an kita mendefinisikan dirinya dengan urutan seorang muslim, orang Jakarta dan Indonesia. Baginya identitas seorang muslim didahulukan karena manusia pada hakikatnya adalah hamba Allah. Allah memilki hak terbesar atas manusia. Allah Sang Pencipta yang menghidupkan dan mematikan, memberikan manfaat, menangkal bahaya, memberi rezeki, dan kepada-Nya kita semua kembali. Sebagai hamba, kita perlu manut kepada Allah. Melalui Rasul-Nya, Allah mengajarkan manusia untuk mencintai, memberi kebaikan, dan memenuhi hak orang-orang di sekitar kita selama itu bukan maksiat kepada-Nya. Keluarga, masyarakat dan bangsa bagi guru al-Qur’an kita ini harus ditempatkan setelah Allah dan Rasul-Nya.

Dosen di salah satu universitas di Depok pun mengurutkan demikian. Baginya, menjadi muslim adalah identitas yang dibawa terus sampai kehidupan setelah kematian. Sedangkan status sebagai orang Indonesia tak akan dibawa mati. Pun halnya suku Jawa tempat asalnya. Keduanya tidak abadi, hanya akan melekat sampai kita meninggal.

Guru privat Bahasa Inggris kita memandang ia adalah seorang muslim yang qodarullah ada di Indonesia. Dengan agak bergetar, ia mengatakan harapan agar Allah menghendaki ikrarnya ini, menjadi seorang muslim, hingga akhir hayat. Baginya, identitas seseorang semestinya bukan dalam konteks keberadaan, entah Indonesia, Mesir atau negara lainnya. Islam atau din ialah suatu identitas yang tak dibatasi tempat, suku, atau teritorial tertentu.

Ia pun tak dapat mendefinisikan diri sebagai orang Indonesia atau suku tertentu. “Saya tidak bisa mengedepankan nasionalisme atau suku. Mentang-mentang saya berasal dari suku Lampung, ini adalah suku yang terbaik. Tidak begitu,” ujarnya. Ia memegang erat sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Daud, “Bukan golongan kami orang yang menyeru kepada ashabiyah, bukan golongan kami orang yang berperang atas ashabiyah dan bukan golongan kami orang yang mati atas ashabiyah”. Baginya, tindakan dan anggapan suatu suku atau negara paling baik diantara yang lain adalah ashabiyah.

Kawan kita ini memandang, akidah seharusnya cukup menjadi landasan yang dapat meng-cover perbedaan-perbedaan yang Allah terangkan dalam Al Quran. Ia pun menukil surat al-Hujurat ayat 13, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal”.

Sang mahasiswa pascasarjana yang sedang kuliah di Eropa merasa identitas seperti ini tidak untuk diurutkan karena bukan sesuatu yang sifatnya berurutan atau bisa dikomparasi. Ia terlahir dari orang tua yang punya latar belakang suku yang beragam. Ibunya Yogyakarta-Padang, ayahnya suku Bugis yang hidup di Pontianak dan lekat dengan adat Dayak. Jadi ia mendefinisikan diri sebagai bagian dari banyak suku yang pada akhirnya bermakna Indonesia. Sementara sebagai muslim, ia mempelajari agama dan maknanya sehingga menjadi bagian dari diri dan keyakinannya. Semuanya dapat menjadi bagian dari dirinya dengan padu.

Terakhir, seorang dosen di Jakarta. Ia menjelaskan identitasnya dengan lumayan panjang lebar. Ia lahir dari ayah berdarah Sumatera Selatan dan Ibu berdarah Tionghoa dari Timur Indonesia. Namun, karena masa kecil hingga dewasa lebih sering dihabiskan di kota Jakarta, pengaruh kesukuan orang tua sangat terbatas. Ia tidak fasih berbicara bahasa daerah kelahiran orang tua. Ia melihat dirinya sebagai seorang muslim nasionalis tulen. Nilai-nilai ini banyak dibentuk di keluarga yang majemuk dan pelbagai kegiatan serta organisasi yang diikutinya. Ayahnya yang seorang jaksa, banyak mengajarkannya nilai-nilai filasat pancasila, marhaenisme, serta sosialisme. Dalam banyak kesempatan, sang ayah sering mengutip tokoh-tokoh seperti Bung Karno, Tan Malaka, Socrates, Dante sampai pepatah-pepatah lama dalam nasihat-nasihatnya kepada anak-anaknya.   

Secara kultural, keislaman yang ia anut saat ini cenderung tradisionalis serta mengedepankan unsur mistisisme. Ia lebih suka menyebut dirinya sebagai Islam Nusantara. Sang ayah amat kental ke-NU-annya. Dapat dikata, ia tradisionalis tulen. Nilai-nilai keislaman yang tradisional ini, dipandangnya tak hanya diperoleh dari ulama serta para hababib yang dirujuk oleh sang ayah, tapi juga bersambung kepada sang kakek yang tokoh NU dan menjadi penghulu serta khotib di masa hidupnya. Unsur mistisme dalam dirinya sedikit banyak dipengaruhi oleh kepercayaan yang dianut ibu dan keluarga ibunya sebelum menjadi mualaf. Sang kakek dari ibu, semasa hidupnya mempraktekkan ajaran Konghucu dibandingkan Katolik (agama resmi di KTP-nya pada masa Orde Baru). “Penghormatan terhadap ajaran nenek-moyang dan leluhur sangat kental baik di keluarga besar bapak maupun Ibu saya” ujarnya.

Mengetahui latar belakang diri dan keluarga pada dasarnya adalah menemukan akar diri kita. Pohon yang kokoh dan menyediakan buah yang nikmat pada setiap musimnya adalah pohon yang memiliki akar, batang hingga cabang dan ranting yang sehat. Kehidupan kita bukanlah hal yang sederhana atau kebetulan belaka. Kehidupan tanpa buah atau dedaunan rimbun yang menyejukkan, seperti pohon tanpa tujuan, hampa dan seolah tumbuh dengan merugi. Dengan begitu, penting bagi kita untuk menanam akar dalam-dalam, mengenali makna, tujuan hidup dan asal usul kita. Setiap muslim telah mengetahui bahwa setiap kehidupan akan berujung pada kematian. Yang membedakan adalah pengenalan setiap manusia akan hakikat dan makna kehidupan. Seperti yang dikatakan guru privat Bahasa Inggris bahwa kita harus tahu darimana kita berasal dan untuk apa kita di dunia. Katanya, “Every single muslim has to know what the purpose of life”.

Demi mewujudkan makna hidup sebagai ibadah dan perjuangan, sang guru privat Bahasa Inggris menukil QS. Az-Zariyat: 56 yang menyebutkan, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. Aktivitas sehari-harinya yang mewujudkan makna itu adalah belajar dan mengajar. Selain mengajar privat, ia pun gemar menyerukan dakwah Islam. Ia mempelajari Islam secara tematik dan berkala dari seorang guru yang berasal dari institusi pendidikan tinggi di Lampung. Dengan tegas ia menyampaikan, “Allah tegaskan bahwasannya hidup ini untuk beribadah dan tak mungkin beribadah tanpa ilmu. Tugas kita ini belajar kemudian mengamalkan. Jika kita tahu tujuan hidup, itu yang membuat kita bergerak dan melakukan berbagai hal dalam kehidupan”.

Tidak terlalu berbeda, guru al-Qur'an kita memaknai hidup sebagai anugerah dan sekaligus ujian dari Allah. Ia berujar, “Dalam hidup ini Allah menguji siapa yang taat sehingga dibalas dengan kebaikan dan siapa yang kufur dan durhaka sehingga Allah balas dengan balasan yang setimpal”. Ia sangat bersyukur kepada Allah, saat ini ia berusaha belajar dan mengajarkan ilmu yang didapatkannya serta mengabdi di sebuah lembaga tahfidz al-Qur'an. Dengan begitu, ia berharap dapat memberikan kebaikan kepada manusia dan berharap Allah membalasnya di akhirat kelak.

Sang manajer perusaahan Jepang memandang Islam adalah rahmatan lil 'alamin, “Hal ini bila dikonfigurasikan kepada penganutnya akan bermakna manfaat. Artinya dalam hidup, setiap manusia harus bisa bermanfaat bagi keluarga, komunitas, agama, negara dan dunia,” terangnya. Cara ia mewujudkan makna hidup itu adalah bekerja dengan memberi kontribusi kepada perusahaan, atasan, bawahan, rekan kerja, khususnya keluarga, baik secara finansial maupun pendidikan. Ia juga ikut dalam suatu komunitas keislaman karena baginya, efek jamaah lebih besar dari sendirian.

Sang dosen di Jakarta lebih senang menyebut dirinya sebagai educator, “Walaupun orang boleh saja menyebut saya sebagai guru, teacher, tutor atau dosen,” terangnya. Dari berbagai pencarian makna yang telah dilalui sejauh ini, dosen kita mendapati bahwa mendidik diri sendiri serta juga orang lain adalah bentuk terbaik yang cocok dengan kepribadian, segala pernak-perniknya, dan jalan yang sejauh ini Allah gariskan untuknya.

“Hidup adalah untuk mengisi kehidupan. Sebagai manusia yang hidup, atau lebih tepatnya dihidupkan oleh Tuhan, kita dimaksudkan untuk menegakkan nilai-nilai yang mendukung kehidupan manusia secara keseluruhan, baik diri sendiri maupun orang banyak. Saya percaya Tuhan menghidupkan manusia bukan untuk sekedar menggali kuburnya menuju kematian. Allah sebagai Yang Maha Bijaksana, tentu tidak akan menghidupkan yang tadinya mati hanya sekedar untuk kemudian mematikannya kembali. Oleh karena itu, saya saat ini melihat hidup bukan sebagai jembatan kematian, tetapi sebagai yin-yang terhadap kematian itu sendiri. Tidak ada kematian tanpa kehidupan. Hidup dan mati sama pentingnya. Mati terhormat, hidup pun juga secara terhormat dan bermartabat. Saya percaya Allah menggariskan kepada manusia garis hidup dan kehidupannya masing-masing. Sejauh yang saya bisa refleksikan, menjadi pendidik memang sudah digariskan Tuhan untuk saya,” jelasnya panjang lebar.

Sang PNS dan dosen di Depok pun setali tiga uang. Bagi mereka kehidupan saat ini hanya sebuah tahapan yang akan berlanjut menuju tahapan berikutnya. Dalam masa sekarang ini, yang harus dilakukan adalah mempersiapkan tabungan untuk modal pulang ke kampung akhirat. Fikiran kita tidak boleh terbatas pada ruang dan waktu dunia kini saja, tapi juga harus harus memahami konsekuensi yang akan didapatkan pada fase kehidupan selanjutnya. Kini aktivitas sebagai PNS dimaknainya sebagai pengabdian buat negara, “Bukan buat Barat ataupun Cina,” kelakarnya sambil tertawa. Sebagai PNS yang sedang tugas belajar, ia lebih banyak menggunakan waktunya untuk belajar dan meningkatkan kualitas hidup. “Selain itu juga cari hiburan bareng anak istri buat ngurangin stres,” tambahnya. Untuk dijadikan ongkos pulang kampung kelak, dosen di Depok mengatakan, “Alhamdulillah Allah kasih saya kesempatan mencicip profesi dosen. Saya harap membagikan ilmu yang bermanfaat untuk mahasiswa, meneliti hal-hal baru untuk dunia akademik dan beberapa kegiatan pengabdian massyarakat dapat Allah hitung sebagai amal jariyah,”

Makna Indonesia dan Tradisi

Muslim adalah sekumpulan orang yang hidup dari zaman ke zaman dalam tradisi panjang. Penting bagi seorang muslim yang hidup di Indonesia untuk memaknai kebangsaan dalam keislamannya, juga keislaman dalam kebangsaannya. Dari tujuh orang responden yang kami wawancarai, semua sepakat bahwa Indonesia sebagai tempat kelahiran dan tempat tinggal. “Indonesia ini tanah air. Seseorang pasti memiliki ikatan psikologis sekecil apapun terhadap tanah airnya,” ujar guru al-Qur'an kita.

Sang PNS berusaha melihat Indonesia dari sudut pandang keislamannya. Baginya, Indonesia adalah wadah umat Islam untuk berkarya dan membuktikan ketangguhannya dalam membangun bangsa. Bukti-bukti sejarah tentang zaman keemasan Islam dianggapnya sebagai motivasi bahwa muslim yang baik adalah muslim yang produktif dan bermanfaat bagi siapapun. “Tidak ada batas pengabdian bagi seorang muslim untuk berkarya, karena Islam adalah rahmatan lil ‘alamin,” ujarnya berusaha melengkapi.

Sejurus dengan mahasiswa pascasarajana dan manajer perusahaan Jepang, Indonesia dipandang sebagai tanah yang dipilihkan Tuhan bagi mereka untuk lahir dan hidup. Sebagai tanda syukur, setiap manusia perlu untuk bermanfaat dan berbagi kepedulian di dalamnya. “Indonesia adalah Rahmat Allah SWT yang harus disyukuri serta sebagai ladang amal dakwah bagi kita sebagai penerus risalah ulama terdahulu,” tambah manajer perusahaan Jepang.

Dosen universitas di Depok mensyukuri Indonesia sebagai negara tempat ia dapat beribadah dengan tenang karena kebebasan beragama dijamin oleh undang-undang. “Indonesia ini banyak masjidnya, sehingga kalau shalat di jalan tak khawatir tidak ada tempat sujud yang bersih. Indonesia, mayoritas penduduknya beragama Islam, sehingga perayaan-perayaan keagamaan dapat saya nikmati sesuai dengan hakikatnya sejak saya kecil,” ujar dosen yang pernah menempuh pendidikan selama beberapa tahun di Jepang ini. 

Sama seperti guru al-Qur'an yang memaknai Indonesia sebagai bumi Allah, guru privat Bahasa Inggris pun mengungkapkan hal yang sama. “Sebagai seorang muslim saya memaknai Indonesia sebagai bumi Allah. Saya bertempat tinggal di sini. Tidak bisa meminta. Saya tidak pernah minta dilahirkan di Madinah atau di Indonesia, tidak pernah. Seluruh tempat di muka bumi, termasuk Indonesia adalah tempatnya Allah, buminya Allah tanpa terkecuali. Mentang-mentang saya lahir di Indonesia, saya tidak mengedepankan Indonesia sebagai yang terbaik karena negara muslim paling besar,” ujarnya lantang.

Hal ini sedikit berbeda dengan pemaknaan guru al-Qur'an mengenai Indonesia sebagai bumi Allah, ia mengatakan, “Sebagai seorang hamba, kita diperintahkan menunaikan perintah-Nya, di bumi manapun kita tinggal, termasuk Indonesia” jelasnya.

Agak lebih tajam dari pandangan-pandangan sebelumnya, dosen kita yang mengajar di Jakarta mengatakan Indonesia sebagai tanah tumpah darah serta nikmat luar biasa yang Allah berikan kepadanya. Oleh sebab itu Indonesia harus dijaga dan dirawat dengan segala daya dan kemampuan yang dimiliki. “Memang tidak semua muslim digariskan Tuhan untuk bertanah air Indonesia. Namun, apapun tanah airnya, seorang muslim harus memandang tanah air sebagai suatu nikmat berkah, nikmat yang bertambah-tambah lantaran dinikmati bersama-sama seluruh elemen bangsanya. Dalam hal Indonesia, berarti dinikmati siapapun dengan berbagai latar belakang kepercayaan, agama serta sukunya,” tegasnya. Baginya, garis yang Allah tetapkan untuknya kini adalah muslim Indonesia dan seyogyanya seorang muslim harus menjadi Indonesia.

Empat dari tujuh orang yang diwawancarai pernah merasa ada pertentangan antara keislaman dengan keindonesiaannya. Selebihnya merasa tidak ada pertentangan, atau kalaupun ada, masih jadi sesuatu yang dapat dikomunikasikan. Islam dianggap sangat lentur di tengah kebudayaan dan kepentingan apapun, bahkan dalam tataran tertentu Islam dengan Indonesia saling mendukung.

Ada beberapa alasan yang dialami beberapa orang ini hingga merasa mengalami pertentangan antara Islam dengan Indonesia. Pertama adalah beberapa pakaian daerah di Indonesia yang tidak bersesuaian dengan pakaian muslim, khususnya muslimah yang perlu berjilbab. Dosen di universitas di Depok semasa SD-SMP belajar tari Jawa-Bali dan beberapa kali tampil ke atas panggung. Ketika itu ayahnya menentang ia menari dan berbusana yang menampakkan aurat meskipun masih kecil. Aktivitas menarinya pun tidak dilanjutkan. Ia bersyukur saat ini sudah banyak kostum menari yang sudah disesuaikan dengan pemakai jilbab.

Kedua, guru privat Bahasa Inggris menganggap Indonesia mengadopsi ideologi atau disebutnya juga sebagai cara berfikir yang melahirkan sistem pendidikan, sosial, budaya, hukum dan tata kehidupan yang tidak Islami. Hal ini dinilai sangat berbenturan dengan kehidupannya sebagai muslim. Ia mengambil contoh pemerintah Indonesia yang menganut sistem demokrasi. Baginya demokrasi memuja kehidupan hedonisme yang jauh dari keislaman. Ini menjadi tantangan baginya agar bisa menggenggam aturan Islam dengan lebih kuat. “Begitu banyak fasilitas maksiat di luar sana yang bisa mengguncang akidah dan keimanan saya,” tandasnya.

Ketiga, menyambung dengan alasan kedua, syariat Islam yang tidak diterapkan di Indonesia disebut sebagai sumber malapetaka dan kezaliman bagi manusia. “Misalnya, sistem pendidikan yang diadopsi dari para kafir penjajah menjadikan hak pendidikan agama yang benar bagi warga Indonesia terzalimi,” terang salah satu responden kita.

Keempat, makna Islam yang pernah dipelajari tidak mendekatkan seseorang kepada Indonesia sebagaimana adanya. “Dalam salah satu fase hidup, saya sempat berada dalam kebimbangan antara Islam dan Indonesia. Apa yang saya pelajari tentang Islam saat itu tidak mendekatkan saya kepada Indonesia. Ketika itu, Indonesia dalam kacamata saya, bukanlah Indonesia yang oleh para pendiri bangsa diterima dan dicita-citakan sebagai negara yang lahir oleh karena adanya intervensi Allah, atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa,” terang dosen yang mengajar di Jakarta.

Pada perkembangannya, ketika mulai memahami realitas dengan lebih utuh, ia sampai pada pemahaman tidak ada pertentangan antara konsep bernegara bangsa Indonesia dengan ajaran Islam. Sang dosen memandang bahwa pertentangan antara Islam dengan Indonesia yang mengemuka tidak disebabkan oleh ajaran agama Islam, melainkan cara muslim dalam mendekati serta memahami Islam itu sendiri. Baginya, hubbul wathon minal iman, menjadi nasionalis adalah Islami dan menjadi Islami berarti menjadi Indonesia.

Sedikit berbeda dengan guru Bahasa Inggris dalam memahami al-Qur'an surat al-Hujurat ayat 13, ia memaknainya dengan: mengakui diri sebagai bangsa Indonesia adalah mengakui sunnatullah bahwa Allah sendiri yang menjadikan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa dengan iradat-Nya. Ia bahkan menegaskan, jika ada muslim Indonesia, tetapi menolak institusi negara Indonesia, ia sangsi dengan kedalaman pemahaman orang tersebut terhadap ajaran Islam yang dianutnya.

Terakhir, kami menanyakan kepada seluruh responden mengenai padangan mereka terhadap tradisi. Secara umum, semua memandang tradisi sebagai kebiasaaan suatu masyarakat tertentu yang diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi. Namun masing-masing memiliki sikap yang berbeda mengenai hal ini. Sang PNS menilai tradisi secara pragmatis saja. Baginya ada tradisi yang bermanfaat, ada pula yang tak diketahui manfaatnya. Terhadap tradisi yang bermanfaat ia tidak ragu-ragu untuk melakukannya.

Sama dengan sang PNS, dosen dari universitas di Depok melihat tradisi di Indonesia bukan hanya banyak tetapi juga unik. Sang dosen menyebut, melestarikan tradisi mungkin harus, tapi ia tak mau kalau diminta untuk menjadi pelestari. Apalagi ia lihat beberapa tradisi bertentangan dengan keyakinannya sebagai pemeluk agama Islam. Prinsip ini pun dipegang oleh manajer perusahaan Jepang, sebagai suatu warisan, tradisi tidak bisa diikuti seluruhnya dan perlu dipilah. Baginya, asalkan tidak bertentangan dengan syariat dan hukum Indonesia, tradisi sah-sah saja diikuti atau dilestarikan.

Sementara sang guru al-Qur’an tidak terlalu mementingkan soal tradisi ini, kecuali dari sisi etika. Ia bahkan mendorong kita untuk berlaku sesuai dengan adat tradisi yang ada disekitar, selama tidak menyalahi syariat Islam. Ia yakin pada dasarnya setiap manusia mencintai kebaikan, termasuk kandungan tradisi yang merupakan hasil fikiran manusia. “Hal ini sejalan dengan syariat yang memerintahkan kita berlaku baik terhadap sesama manusia sebagai pemenuhan hak mereka. Pada tradisi yang menyelisihi syariat Islam, berupa kesyirikan, faham khurafat, juga adat istiadat yang mementingkan penampilan di mata manusia, hanya mempersulit diri sendiri,” jelasnya. Meski begitu ia dapat memaklumi dan memandang pelakunya belum memahami Islam secara utuh.

Menariknya, sang guru privat memandang tradisi dalam perspektif Islam tidaklah ada. Baginya seorang muslim tak bisa mengikuti tradisi nenek moyang karena telah memiliki al-Qur’an dan Rasulullah sebagai role model, serta dapat merujuk pada salafush shalih. Baginya tanpa pakem dan mengikuti seluruh kemajemukan yang ada di masyarakat, kita akan terus berada di area abu-abu dan tak bisa memiliki standar khusus sebagai identitas diri.

Dosen kita yang berada di Jakarta memandang tradisi tidak hanya sebagai kebiasaan pada kelompok masyarakat tertentu saja. Ia juga menilainya sebagai identitas sebuah kelompok masyarakat. Kebiasaan itu dapat bersifat baik dan buruk, pengaruhnya pun bisa dalam ruang lingkup kecil ataupun komunal. Hal-hal yang diterima oleh generasi paling muda, difahaminya sebagai kebiasaan-kebiasaan masa lalu yang memiliki ketahanan dan berhasil melampaui masanya. “Ini bisa terjadi karena tradisi tersebut secara nilai mampu menyesuaikan diri dengan masa-masa yang lebih muda. Tradisi akan hilang jika secara nilai tidak lagi mendapat tempat di masyarakat yang datang belakangan,” ujarnya menjelaskan. Baginya, hal-hal yang sudah menjadi tradisi mestilah sesuatu yang baik dan cocok untuk banyak zaman, jika tidak pasti akan punah dengan sendirinya.

Lalu kami menanyakan pula kepada mereka mengenai tradisi yang masih dilakukan oleh diri dan keluarganya. Sang PNS merasa mungkin ada tapi tak sadar jika itu adalah tradisi. Dosen di Depok masih pula melakukan pengobatan tradisional. Akan tetapi ia sempat khawatir ada pengobatan yang termasuk syirik sebab memakai bantuan-bantuan jin. Guru privat Bahasa Inggris sebetulnya tak terlalu faham adat istiadat Lampung, asal usul diri dan keluarganya. Sehari-hari, keluarganya pun sudah tidak berbicara dengan Bahasa Lampung tapi selalu berbahasa Indonesia. Namun begitu, ia memandang keluarganya masih mengikuti tradisi Lampung dan adat istiadatnya dalam hal pernikahan. Misalnya pelaksanaan prosesi yang tidak ada dalam Islam dan campur baur antara laki-laki dan perempuan. Baginya mengikuti adat tradisi sama dengan sukuisme dan langsung dianggap bertentangan dengan Islam.

Bagi guru al-Qur’an, yang juga pendakwah, orang Indonesia itu mudah menerima kebenaran bila diterangkan dengan baik. Hal ini ia anggap tidak terlepas dari banyaknya tradisi di Indonesia yang erat dengan Islam. Misalnya, etika, sopan-santun, dan keramahtamahan. Baginya, di Indonesia lebih banyak tradisi yang diperbolehkan ketimbang yang dilarang Islam, khususnya dari sisi akhlak. “Ini sejalan dengan tujuan diutusnya Rasulullah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Keberkahan untuk orang Indonesia,” demikian doa dan harapannya.

Tradisi yang Indonesia yang sangat lekat dengan keluarga tiga orang lainnya, termasuk sang guru al-Qur’an, adalah momen Idul Fitri. Mudik dan berkunjung ke keluarga dan kerabat saat lebaran, dinilai sebagai silaturahim yang amat penting bagi seorang muslim. Sang mahasiswa pascasarjana yang sudah setahun lebih di Eropa sangat bersyukur karena Allah beri kemampuan dan kesempatan untuk mudik ke Indonesia dan berlebaran bersama keluarga pada 1438 H ini.

Sementara bagi dosen kita, banyak tradisi yang tetap terjaga karena nilai kekerabatan dan kekeluargaan masih tinggi dianut di Indonesia. “Bukan tidak mungkin tradisi-tradisi baik di Indonesia akan punah manakala kekerabatan dan kekeluargaan sudah tidak lagi seerat sekarang atau digantikan dengan tradisi lain yang secara nilai mirip tetapi lebih sesuai dengan zamannya,” terangnya.

Demikian perbincangan kami dengan kawan-kawan yang amat menyenangkan. Beragam pandangan dan penilaian terhadap identitas dan tradisi yang terpapar dari obrolan ringan kami menunjukan bahwa hubungan Islam dan Indonesia amatlah erat. Beberapa kekaburan mengenai keduanya memang kerap muncul. Oleh karenanya, wacana keislaman dan keindonesiaan harus tetap diasah, agar anak cucu kelak tak kebingungan mengenai agama, bangsa dan asal-usulnya.

Tulisan Terkait (Edisi Tradisi)

IKLAN BARIS