• Ikuti kami :

Homo Homini Lupus: Politik Kita Hari Ini

Dipublikasikan Sabtu, 04 Februari 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Dalam dunia serigala, bertarung itu fardhu ‘ain hukumnya. Bertarung ini dalam artian saling memakan, membunuh atau dibunuh. Para serigala—seperti yang sering ditayangkan oleh siaran televisi khusus mengenai kehidupan alam liar—bertarung untuk dan demi apa saja. Mereka bertarung secara berkelompok demi mendapatkan makanan. Tak jarang mereka bertarung dengan kawanan serigala lain untuk merebut jatah makanan di hutan yang terbatas jumlahnya. Tak haram pula, di dalam kelompoknya, mereka juga saling bertarung demi meraih betina sebanyak mungkin.

itulah kehidupan serigala, dunia yang kejam.

                                                                                ***

Beromong-omong tentang bertarung dan serigala, dewasa ini kita disajikan peristiwa politik yang hampir melulu berbicara tentang tarung antarelit memperebutkan kekuasaan. Masing-masing pribadi, kelompok atau pun jamaah saling jegal satu dengan lainnya demi itu. Kenyataan ini kemudian oleh media massa dan saluran-saluran komunikasi lainnya disajikan kepada khalayak luas, melalui beragam contoh peristiwa.

Khalayak, karena serangan bertubi-tubi dari contoh beragam peristiwa itu, akhirnya cenderung melihat politik sebagai makhluk yang terkesan menjijikkan. Rasa apatis bermunculan di tengah-tengah khalayak mengenai hal-hal yang berbau politik. Tidak jarang pula sebagian dari kita melihat rebutan ‘kuasa’ sebagai yang paling sejati dalam tindakan politik. Bahwa politik juga bertujuan untuk menyejahterakan dan memakmurkan rakyat, selangkah demi selangkah menjauh dari benak sebagian dari kita. Tanpa sadar, makna politik di benak kita sudah sangat jauh dari kedua hal ini.

Ada pula sebagian dari kita yang mencoba melihat politik dari sudut pandang yang lebih baik. Tapi seringkali kecewa. Toh, kenyataan yang disajikan ke hadapan kita, memperlihatkan hal yang sebaliknya. Bertahan untuk tetap memandang politik secara baik menjadi sulit sekali dilakukan. Butuh tekad kuat, padahal untuk sebatas khusnudzan.

Begitulah kenyataan politik sekarang.

“Politik adalah bagaimana cara mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan”, demikian beberapa ilmuan kontemporer memaknai apa itu politik. Mereka berkutat kepada dan di sekitar kuasa sebagai titik pusatnya. Kuasa adalah hal yang dituju dalam tindakan politik kita hari ini. Mengapa begitu? Selidik punya selidik, ternyata ada gagasan pokok mengenai itu. Gagasan bahwa manusia secara alami memiliki hasrat untuk berkuasa, menjadi asasnya.

Fondasi itu kemudian diterjemahkan menjadi kerangka besar politik hari ini: homo homini lupus, manusia sejatinya adalah serigala bagi yang lainnya. Homo homini lupus menjadi aksioma. Manusia, ditilik dari pemahaman semacam ini, sejatinya adalah makhluk jahat. Manusia jahat ini kemudian akan menghabisi (memakan) manusia yang lain, demi pemuasan hasratnya. Agar tidak dimakan habis oleh serigala jadi-jadian ini, manusia yang lain harus mengubah sikap menjadi serigala pula. Sebab, dengan demikian, ia mampu untuk mempertahankan eksistensi dari serigala lainnya.

Manusia politik yang dibebani tugas sebagai serigala akhirnya menonjolkan sifat-sifat keserigalaan dalam segala laku. Awalnya untuk bertahan hidup, lama-lama untuk menghabisi hidup pihak lain. ‘Kill or to be killed’, kira-kira begitu hukum organisme hutan. Dan itu pula yang kemudian menjadi mantra politik masa kini. Kebanyakan pelakunya telah disusupi jiwa serigala. Serigala-serigala ini semakin berkuasa serta mempengaruhi manusia lainnya untuk menjadi serigala. Politik kita menjadi penuh dengan adat kaum serigala.

Maka para serigala dengan semangat keserigalaannya, saling berkelompok untuk melakukan apa saja demi memuaskan hasrat, agar kenyang nafsunya. Di dalam kelompok pun para serigala saling memakan untuk memperebutkan posisi alfa. Alfa, dalam dunia serigala adalah lambang kegagahan, kejantanan, demi meraih sebanyak mungkin makanan dan betina. Para serigala ini sedemikian rupa bertarung tanpa lelah. Sebab lelah berarti mati, berarti lenyap. Awalnya mereka bertarung demi tujuan tertentu. Kemudian, bertarung menjadi tujuan. Soal menang atau kalah yang dahulu menjadi pertimbangan, kini tidak diperlukan lagi. Yang penting bertarung. Bertarung menjadi soal kepuasan, dan juga soal kebuasan.

Barangkali ada hubungannya dengan sosok Remus dan Romulus, pendiri dinasti megah kerajaan Romawi Kuno. Dalam hikayatnya, kedua saudara kembar itu diasuh oleh serigala semasa bayi. Keduanya menyusu pada serigala. Hingga dewasa. Remus dan Romulus mengenal serigala sebagai ibu. Saudara kembar itu saling berbunuhan kemudiannya. Romulus selamat,  Remus meregang nyawa. Berdirilah kerajaan Romawi kuno yang luas dan megah kekuasaannya meliputi sepertiga bumi. Romawi berdiri di atas darah saudara sekandung, diasuh nilai budaya ibu serigala.

                                                                                ***

Tapi kita manusia bukan serigala. Kita adalah anak cucu Nabi Adam Alaihissalam. Kita inysaf bukan turunan Remus bukan pula Bani Romulus. Datuk-datuk kita, seperti pula diri kita, diciptakan oleh Yang Kuasa dengan sebaik-baiknya, menjadi sebaik-baiknya makhluk. Dijadikan jiwa kita dengan penuh kebaikan, diberikan kesadaran saat di alam alastu. Dia yang menciptakan kita dengan Kasih dan Sayang bertanya, memerintahkan sumpah setia kita kepada kebaikan yang sejati: menyembah-Nya.

Ketika kita berpolitik mustilah kita mengingat sumpah di alam alastu. Demikian, agar kita tidak lupa bahwa sebenarnya kita baik, pada dasarnya memang kita baik. Karenanya, tidak sudilah kita menerima sesuatu yang buruk, di ranah manapun, termasuk politik.

Demi kebaikan yang diajarkan-Nya, kita tidak dapat menerima bahwa berpolitik itu melulu sebagai seni untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan. Bagi kita, anak cucu Adam Alaihissalam, kuasa bukanlah mutlak milik kita. Sejatinya kita memang tidak punya kuasa apapun, kecuali dengan kehendak dan ridha-Nya. Kuasa yang kita miliki adalah titipan-Nya, demi memenuhi peran kita di muka alam sebagai perwakilan-Nya.

Di mata kita, kuasa bukanlah tujuan, akan tetapi wasilah untuk kebaikan. Dan untuk mencapai kebaikan, kekuasaan juga harus dijalani dengan cara baik. Homo homini lupus tertolak demi hukum kita, demi Allah yang memerintahkan kita.

Di mata para anak cucu Adam macam kita ini, politik adalah bagaimana membuat kebaikan di tengah-tengah kita pada tingkatan kemasyarakatan. Soal politik, kita akan berbicara tentang kemakmuran, tentang kesejahteraan, tentang kebahagian dan kegembiraan. Di penghujung semua itu, kita akan berbicara tentang pahala dan surga. Mesti itu. Memang seharusnya begitu. Ya, kan?



Tulisan Terkait (Edisi Politik)

Populer

IKLAN BARIS