• Ikuti kami :

Hantu dalam Nalar Sosio-Historis Bangsa Kita

Dipublikasikan Jumat, 03 Maret 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Telaah sosiologis-sosiologisan dan historis-historisan atas kepercayaan terhadap hantu.


Ketakutan ialah sesuatu yang alami dalam diri manusia. Hal tersebut merupakan bagian yang nyata dalam hidup kita. Ketakutan bisa jadi lahir karena ketidaktahuan manusia atas alam yang ia tempati. Ketidaktahuan itu selanjutnya berpadu dengan daya khayal. Kemampuan mereka-reka kejadian dan peristiwa menjadi tatanan tertentu telah mendorong terciptanya keberhantuan. Budaya merayakan ketakutan secara kolektif, merasakan ketegangan bersama, rasa penasaran yang dalam, yang boleh jadi memiliki manfaat-manfaat sosial tertentu.

Manusia mampu memiliki daya reka di dalam pikirannya. Ini bisa bernilai baik, bisa juga bernilai buruk. Pada suatu hari seseorang melihat lelaki tampan. Kemudian lain kali ia melihat perempuan bergincu. Di suatu waktu ia melihat Aidit berpidato. Lalu pada kali yang lain ia memandang seorang tukang becak. Di dalam benaknya ia dapat merangkai empat pencerapan atas pengalaman itu menjadi sebuah narasi baru yang tak pernah hadir sebelumnya: Lelaki tampan bergincu berpidato seperti Aidit sambil mengayuh sebuah becak. Suatu perpaduan yang amat begitu itu.

Kemampuan ini juga dapat diterapkan pada hal-hal kehantuan. Suatu ketika seseorang melihat sebuah kecelakaan di perlintasan kereta. Ada korban tewas di sana dengan wajah remuk dan mata melocot. Pada suatu malam, beberapa hari setelah peristiwa mengerikan itu, ia melewati tempat kejadian. Ada sesosok tubuh yang tampak berjalan. Gelap membuat sosok itu menjadi samar. Tiba-tiba orang itu berlari sekencang mungkin dan tidak pernah memastikan tubuh siapa yang ia lihat di sana. Ia tak pernah tahu.

Pengalaman melihat sosok yang berjalan (boleh jadi itu ialah gelandangan atau petugas PJKA, tak ada pengetahuan yang pasti atasnya) kemudian dipadukan dengan pengalaman melihat korban kecelakaan. Hasilnya ialah cerita tentang hantu bopeng yang tersebar dari mulut ke telinga. Meluas dan meluas dengan alas katanya dan ceritanya. Menjadi kisah bersama, karya bersama, ditambahi dan dibumbui sedemikian rupa hingga menjadi cerita utuh yang menarik. Puncak tertinggi dari perjalanan kisah ini tentu saja hadir di layar kaca.

Hal itu tentu saja sangat sosiologis dan boleh jadi juga historis. Fenomena ketakutan kolektif masyarakat kita akan hantu memiliki nilai-nilai tertentu. Cerita-cerita itu bisa jadi memiliki fungsi sosial tertentu. Dan tentu saja menyejarah. Ia bisa ditelaah secara sosiologis-sosiologisan dan juga historis-historisan. Hantu sebenarnya terikat dalam konteks sosial-historis para penakutnya.

Kita sama tahu kalau hantu pocong hadir di ketakutan kolektif masyarakat kita pasti setelah Islam masuk ke bumi Melayu-Nusantara ini. Pengafanan jenazah adalah khas Islam. Daya khayal leluhur kita menyebut jenazah yang lupa dibuka tali kafannya akan mendatangi rumah-rumah untuk minta dibukakan tali kafannya itu. Bukan leluhur kita ini percaya pada hantu. Pada awalnya cerita itu dibuat dengan tujuan menakuti anak-anak bandel luar biasa yang masih bermain saja ketika malam tiba. Anak-anak bandel inilah yang mengembangkan cerita lebih lanjut. Turun-temurun hingga cerita itu sampai kepada kita.

Sementara kuntilanak jelas hadir setelah Belanda menjajah negeri ini. Atau paling tidak semenjak perempuan bangsa barat kita kenal lengkap dengan gaun putihnya yang panjang. Kita sama tahu kuntilanak itu tak berkemben, tak bersanggul, dan tak memakai kebaya. Kuntilanak bergaun putih dan berambut panjang terurai. Hantu semacam ini rasanya tidak lahir dari masa-masa Ken Arok terpesona betis Ken Dedes. Kuntilanak ialah hantu penanda masa kolonial.

Hantu ini lahir dari perkebunan-perkebunan Belanda. Kisahnya lahir dari kepusingan para penjaga dan aparat keamanan partikelir menghadapi anak-anak bandel yang nekat mencuri hasil kebun. Tata kelola keamanan macam apa pun dapat mereka tembus. Akhirnya dikembangkan cerita tentang hantu perempuan bergaun putih dengan punggung bolong dan rambut terurai. Tujuannya agar anak-anak bandel dan nekat itu takut dan tak lagi datang ke perkebunan. Akhirnya para penjaga kebun itu bisa hidup tenang tanpa harus mengejar anak-anak bandel itu.

Namun pada suatu malam, penjaga kebun itu merasakan udara yang menekan dalam gelap di perkebunan. Ia meraba kuduknya. Rasanya di antara pepohonan itu ada sosok yang ia ceritakan kepada anak-anak bandel itu. Rasanya. Ia bergidik dan berusaha melawan pikiran itu dengan lelap. Dan anak-anak bandel itulah yang menyebarkan cerita hingga menyebar ke seluruh negeri dan kemudian turun-menurun. Penjaga kebun itu juga sama mengisahkan ketakutan yang ia ciptakan sendiri. Anak-anak bandel, para penjaga kebun, dan orang-orang secara bersama-sama menikmati cerita itu. Sampai kepada kita.

Kelakuan anak-anak bandel yang suka mereka-reka dan membumbui cerita hantu itu kemudian diikuti oleh Raam Punjabi. Ketakutan kemudian terus dirayakan dengan fungsi yang berbeda. Setiap zaman dan setiap kelompok masyarakat memang dapat memperlakukan rasa takut dengan cara pandangnya masing-masing. Sebab pada ketakutan kita penasaran. Dan penasaran itu mengasyikan. Hantu itu selalu ada di kedudukan mungkin. Mungkin benar-benar ada dan mungkin hanya cerita.

Hal itu juga menandakan bahwa perhubungan manusia dengan alam dapat disikapi dengan beragam pola pikir. Kita bisa melihat segala hal hanya sebatas soal-soal sosiologis dan sejarah yang masuk akal. Kita bisa mencari pola-pola tertentu dalam ketakutan tersebut.

Tentu saja penelaahan dengan cara-cara demikian tidak akan sampai pada pembuktian hantu itu benar-benar ada atau hanya sekadar cerita. Semuanya jadi serba-mengambang. Mungkin ada tapi bisa jadi cuma cerita. Yang dapat dipaparkan hanya pola-pola yang wadag, yang dapat dilihat dan dikumpulkan dalam apa yang disebut sebagai data. Jin dan makhluk lainnya tentu tak bisa disensus dan dicari pola-pola kemasyarakatannya.

Begitulah. Kronik sosio-historis dari alam, manusia, dan hantu akan terus bersipadu menghasilkan bentuk-bentuk nisbi dari ketakutan. Kita tak akan menemukan kesimpulan pasti dari keberadaan hantu dengan cara-cara demikian. Pun halnya dengan segala sesuatu di wilayah wujud itu. Yang hakikat akan sulit didekati dengan cara-cara sedemikian. Hantu akan terus berkedudukan sebagai bisa jadi ada, boleh jadi cuma cerita.

Dan kita akan terus merayakan kepenasaran dan sensasi rasa takut itu. Kita akan terus mempenasari sesuatu yang tak dapat dipastikan itu. Mengembangkan cerita-cerita dan mencari bukti-bukti baru keberadaan hantu agar ketakutan dan kepenasaran tetap lestari. Hingga anak cucu. Tak lelah-lelah, tak sudah-sudah. Nisbi.

Tulisan Terkait (Edisi Alam)

IKLAN BARIS