• Ikuti kami :

Hamka, H.B. Jassin dan Beberapa Masalah yang Belum Selesai

Dipublikasikan Kamis, 07 September 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Abad ke-20 dalam kronik kebudayaan (Islam) Indonesia memiliki beragam warna dan rasa. Pergulatan memerdekakan diri dan kerja keras menyeleraskan negara yang dimerdekakan itu dengan iman merupakan kisah panjang umat Islam. Pergulatan itu melahirkan jalan panjang yang ujungnya kini kita tapaki di penggal kedua abad ke-21.

Penerjemahan al-Qur’an secara puitis oleh H.B. Jassin boleh jadi ialah peristiwa yang telah usang. Perdebatan yang mengitari peristiwa itu telah lama mereda. Namun kasus ini ialah suatu titik yang amat menarik. Hari ini perdebatan-perdebatan di seputar penerjemahan itu dapat kita telaah ulang dengan pembacaan yang lebih jernih. 

H.B. Jassin bukanlah seorang ahli bahasa Arab. Ia menggunakan terjemahan-terjemahan yang sudah ada (ketika itu menurutnya telah ada 10 buah) dan didukung terjemahan al-Qur’an dalam bahasa Inggris. Jassin membandingkan, menyusun dan kemudian (menurutnya) memberi unsur puitis pada terjemahan yang ia lakukan. Menurut Jassin, penerjemahan al-Qur’an selama ini lebih bersifat prosa dibanding puitis. Padahal al-Qur’an itu sendiri memiliki unsur puitik yang indah.

Ikhtiar kritikus sastra Indonesia itu kemudian menuai polemik. Salah satu yang mengemuka ialah gugatan beberapa fihak yang menilai Jassin tak memiliki otoritas untuk melakukan penerjemahan itu. Selain karena kurang faham bahasa Arab (yang lebih besar lagi) Jassin juga bukan ulama. Pria asal Gorontalo ini tidak menguasai syarat-syarat keilmuan yang musti dimiliki seseorang untuk menerjemahkan al-Qur’an. Padahal al-Qur’an bukan sembarangan. Meski ia mengandung keindahan puitis, tetapi ia ialah kitab suci, bukan buku sastra. 

Paling tidak polemik ini mengapungkan beberapa soal kebudayaan yang menarik. Persoalan prosa dan puisi; penerjemahan al-Qur’an ke dalam bahasa Indonesia; umat Islam dan Sastra; hingga masalah otoritas keulamaan dapat kita lihat dalam kasus ini. Persoalan-persoalan yang meski telah berlalu tapi bisa jadi belum benar-benar selesai. Bahkan hari ini kita merasakan persoalan kebudayaan semacam ini semakin akut dengan kesadaran umat yang semakin rendah atasnya. 

Tulisan di bawah ini redaksi NuuN.id olah dari majalah Panji Masyarakat tahun 1978. Isinya ialah pendapat Buya Hamka mengenai kasus terjemahan al-Qur’an H.B. Jassin. Namun bukan hanya itu, tulisan ini juga menunjukkan sikap pribadi Hamka terhadap Jassin. Perhubungan yang akrab di antara mereka berdua, juga keadaan politik yang menyerempet kebudayaan yang membuat keduanya “menjadi” satu kubu di penghujung Orde Lama tertuang dalam tulisan Hamka ini. 

Tujuan kami menyajikan ulang tulisan ini ialah sebagai pembuka ke arah wacana yang lebih luas. Polemik al-Qur’an Bacaan Mulia karya H.B. Jassin perlu ditelaah dengan lebih seksama. Insya ALLAH NuuN.id akan menampilkan telaahan atas kasus ini di masa yang akan datang. Tulisan Hamka di bawah ini dimaksudkan untuk memperkenalkan (kembali) persoalan ini kepada sidang pembaca sekalian. Redaksi melakukan penyuntingan dan penyesuaian ejaan seperlunya dari tulisan asli dengan sedapat mungkin tak mengubah maksud penulis.

***

Sambutan Terjemahan al-Qur’an H.B. Jassin

Setelah saya mendengar beberapa waktu yang lalu bahwa saudara H.B Jassin di negeri Belanda sedang berusaha menterjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Indonesia dengan bahasa yang bersifat sastra, saya menerima berita itu dengan terharu.

Sebabnya ialah karena ketika dia dihadapkan ke muka Pengadilan Negeri Jakarta untuk mempertanggungjawabkan cerita pendek karangan Ki Panjikusmin yang berjudul “Langit Makin Mendung”, saya telah diminta oleh Jaksa jadi saksi ahli. Ketika Hakim menanyakan pendapat saya, salahkah karangan itu? Saya telah menjawab dengan tegas memandang salah! Tetapi kemudian dengan tegas pula saya memohonkan kepada Hakim agar pesakitan (H.B. Jassin) dibebaskan saja. Sebab menurut pendapat saya pesakitan belum mengetahui lebih mendalam pandangan Agama Islam terhadap karangan seperti itu.

Sehabis sidang kami pulang bersama-sama dalam satu kendaraan. Saudara H.B. Jassin bersama isteri dalam mobil saudara H.B. Jassin berkata: “Perhatian saya kian lama kian mendalam kepada Al-Qur’an. Tiada saya biarkan satu hari berlalu yang saya tidak membacanya. Saya renungkan ayat demi ayat!”

Saya percaya apa yang dikatakannya itu, lama sebelum terjemahannya ini tersusun. Saya percaya sebab selama saya mengenal dia sejak pertemuan pertama tahun 1941 di Balai Pustaka dan pergaulan beberapa minggu bersama alm. Aoh Kartahadimadja dan Amal Hamzah tahun 1943 (Zaman Jepang) dan pada perkenalan seterunya saya mengenal Jassin bukanlah seorang yang berkata lebih dari pada apa yang dibuatnya. Bukan seorang yang suka mendedahkan diri, yang sikit-sikit “saya”. Dia orang yang sederhana mengatakan yang seadanya dan dia tidak akan menyanggupi hal yang dia tidak sanggup.

Saya lebih percaya lagi perkataannya itu, karena pengetahuan saya yang sedikit tentang pengaruh Islam dalam kehidupan orang-orang yang berasal dari Gorontalo. Meskipun di luar barangkali kelihatan pasif, namun suatu waktu bila Islam-nya memanggil, mereka akan menyahut. Apatah lagi satu waktu Jassin didesak oleh suatu keadaan yang memaksanya mencari sandaran jiwa yang kuat. Bagi dia sandaran jiwa itu tidak lain dari pada Islam.

Ketika itu komunis dengan LEKRA-nya hendak menguasai segala gerak budaya negeri kita, hendak menguasai sendi dengan segala cabangnya, secara agresif sekali mereka bertindak, membawa budaya dengan LEKRA-nya ke dalam arena pertentangan kelas. Ahli-ahli budaya dan sastrawan yang lemah dan ragu-ragu, asal mau menggabungkan diri ke dalam LEKRA akan lekas “dinaikkan”, dipopulerkan, dipuji dan dipuja, dikirim ke luar negeri, terutama negeri-negeri komunis sosialis. Karangan mereka disalin ke bahasa negeri-negeri itu. Atau meskipun belum disalin, “honorarium”-nya sudah lebih  dahulu diterima.

Budayawan atau sastrawan yang dianggap akan menghalangi jalannya LEKRA akan dihatam, dicuci, dicaci dan dimaki, bahkan dihacurkan sampai tidak bangkit lagi. Kalau orang yang dihantam itu tidak mempunyai mental atau Iman yang kuat kepada Allah bisa runtuh dibuatnya bahkan bisa bunuh diri!

Cara yang demikian telah dilakukan kepada diri saya, yang sejak semula telah dianggap oleh pentolan-pentolan komunis sebagai musuhnya nomor satu. Kongres yang bersifat Kebudayaan, selalu dengan tegas menyatakan pendapat yang berlawanan dengan faham mereka atau membendung sikap agitasi mereka yang hendak menguasai.

Mulanya kaum komunis menyangka H.B. Jassin orang “tidak apa-apa”. Mungkin orang yang bisa dibeli, diangkat-angkat, dikeluar-negerikan atau diberi honorarium banyak walaupun bukunya belum diterjemahkan ke bahasa asing. Tetapi tiba-tiba seketika hebatnya serangan komunis ke atas diri saya itu H.B. Jassin menyatakan dengan tegas, demi keahliannya dalam bidang kritik sastra bahwa karangan saya Tenggelamnya Kapal van Der Wijk, bukanlah plagiat (karangan orang lain yang saya salin dan saya curi) sebagai tuduhan kaum komunis.

Mau tidak mau dengan demikian H.B. Jassin telah menempatkan dirinya di tempat yang akan jadi tujuan panah kaum komunis. Tetapi di sinilah terletak kebesaran H.B Jassin! Bukan dia tidak tahu bahwa baginya sebagai ahli kritik sastra amat berbaya bersikap membela saya dan menantang komunis. Padahal pengarang lain sebelum Jassin belum ada yang berani menyatakan pendapat. Agaknya takut pukulan hebat kaum komunis.

Bukan sehingga itu saja. Jassin pun mengumpulkan kawan-kawan yang sefaham yang bertekad mempertahankan kebudayaan yang bebas. Lalu dia dengan kawan-kawannya menyatakan pendirian mereka dengan Manifes Kebudayaan. Yang wujud artinya ialah kebudayaan yang bebas bagi kepentingan kemanusiaan, kebudayaan untuk membangun bangsa dan bukan kebudayaan untuk menyuburkan rasa kebencian kepada segala sesuatu yang tidak menurut faham yang digariskan oleh partai dan sebagainya.

Bukan main hebatnya pukulan, penghinaan, percobaan menghancurkan H.B. Jassin terutama dengan Manifes Kebudayaan yang dipopulerkan oleh orang-orang komunis dengan nama potongannya Manikebu. 

Oleh karena itu saya terlebih dahulu telah mengalami betapa hebatnya kaum komunis untuk menghancurkan saya dengan cara mereka yang khas itu, dan tempat kita bertahan atau benteng yang lebih kokoh sebagai pemeluk agama tidak lain ialah bertawakal, sabar dan menyerah bulat kepada Tuhan, saya rasakan dalam diri saya: “Jassin akan bingung lantaran pukulan-pukulan nista ini kalau pertahanan jiwanya tidak kuat”. 

Orang komunis tidak percaya bahwa orang yang kokoh keimanannya dan sabar menerima percobaan karena imannya itu, tidak lah akan dapat mereka hancurkan. Cara mereka berfikir ialah materialistis. Mereka tidak percaya spiritualistis.

Sakit hati mereka bukan main melihat saya masih saja sehat wal afiat setelah mereka pukul bertubi-tubi. Masih saja berdiri dengan senyum simpul.

Akhirnya mereka ambil jalan lain yaitu memfitnah sehingga saya ditahan hampir 3 tahun. 

Dari jauh, karena kami jarang bertemu, saya melihat ketenangan Jassin. Meskipun dia disepikan orang, meskipun kaum komunis berhasil memakai tangan Presiden Soekarno buat melarang Manikebu, namun Jassin tidak hilang, tidak hancur sebagai yang mereka harapkan. Terutama bagi dia kesepian tidaklah nampak dalam hidupnya karena selamanya dia pun bukan bangsa “gembar-gembor”. Dia orang tenang.

Rupa-rupanya, di waktu demikian, Jassin mencari kontak dengan Tuhan melalui perenungan terhadap Al-Qur’an. Sebab itu, saya percaya ketika dia mengatakan bahwa tidak ada hari berlalu yang dia tidak membaca seayat dua ayat atau sehalaman dua halaman dari Al-Qur’an. 

Saya percaya karena di dalam al-Qur’an sendiri tersebut dia adalah Syifaaun Li Ma fishuduuri obat apa yang ada dalam dada (Qur’an Surat ke 10, Yunus, ayat 57). Maka kalau hati luka al-Qur’an lah obatnya.

Dan bagaimana pun musuh hendak melemparkan lembingnya, kalau tidak akan kena kata Tuhan pastilah tidak kena: Qul lan yushibana illa ma kataba-Lahu lana. Katakan lah sekali-kali tidak lah akan menimpa kepada diri kita, kecuali apa yang telah ditentukan Allah untuk kita (Surat ke 9, At-Taubah, ayat 51). 

Maka dapatlah difahamkan jika ia pada mulanya tertarik merenungkan Al-Qur’an, lalu tenggelam ke dalam keindahannya, lalu terjalin cinta kepada Tuhan karenanya, lalu timbul keinginan hendak turut berbakti kepada agama dengan menyalinnya ke dalam bahasa Indonesia dalam bentuk kesusasteraan yang indah. 

Seorang teman setelah mendengar berita H.B. Jassin menterjemahkan Al-Qur’an dengan bahasa Indonesia berbentuk kesusasteraan bertanya kepada saya: “Bagaimana Al-Qur’an hendak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan sastra? Bukankah yang dimaksud dengan sastra ialah puisi dan prosa? Bukankah Al-Qur’an sendiri yang menyatakan bahwa dia bukan lah syair dan Muhammad pun bukan seorang penyair?”

Saya jawab: “Al-Qur’an bukan syair dan Nabi Muhammad SAW bukanlah penyair. Memang Al-Qur’an adalah wahyu! Perbedaan di antara syair dengan wahyu adalah sangat besar. Syair berasal dari syu’ur yang berarti perasaan halus manusia. Sedang wahyu ialah turun dari Tuhan kepada Rasul, datang dihantarkan oleh Malaikat Jibril”.

Ketika Al-Qur’an diturunkan orang Arab sedang terpesona oleh syair-syair yang indah. Tiap tahun ada perlombaan sastra syair di Pasar ‘Ukkas. Mana syair yang paling indah mendapat kehormatan digantungkan di dinding Ka’bah. Sampai 10 banyaknya syair yang mendapat kehormatan buat digantungkan di Ka’bah itu. 

Wahyu datang kepada Nabi berangsur seayat demi seayat. Kemudian baru diangsur mengumpulkannya oleh Khalifah pertama Abu Bakar Shiddiq dan disempurnakan lagi dengan menyalinnya kepada beberapa naskah oleh Khalifah Ke Tiga Utsman bin Affan.

Kumpulan wahyu yang terdiri dari 114 surat, mengandung 6236 ayat itu lah yang bernama mushaf.

Bahasa wahyu tetap bahasa Arab. Dialek bahasa Arab di masa itu, sampai tujuh macam. Tetapi dialek yang rata terpakai ialah dialek Quraisy yang berpusat di Mekah. Sedang Nabi Muhammad orang Quraisy dilahirkan di Mekah. Dalam bahasa Arab dialek Quraisy itu lah Al-Qur’an diturunkan. Ketika Al-Qur’an telah turun, kagum seluruh Arab menerimanya. Bahasanya sangat indah dan ahli-ahli syairnya sendiri mengakui bahwa ini bukan syair. Dia berbahasa paling indah, mengatasi syair, mengatasi puisi dan prosa. Sedang mereka semuanya pun tahu, bahwa Muhammad sejak semula bukan seorang ahli pidato (retorika) dan bukan pula seorang penyair.

Ada suatu hadits (perkataan Rasulullah) diriwayatkan oleh Muslim, bahwa Nabi Muhammad SAW melarang membawa mushaf ke negeri orang kafir. 

Tetapi sekarang dunia sudah berubah bahkan sudah “kecil” karena mudahnya perhubungan. Di antara suatu bangsa dengan bangsa lain telah bercampur, telah bertemu, kebudayaan telah ambil mengambil. Orang memerlukan tahu akan al-Qur’an. Kalau di zaman dahulu membawa ke negeri orang kafir saja pun tidak boleh, sekarang beberapa naskah al-Qur’an terdapat dalam library penting di negara-negara besar di Eropa, Amerika dan Rusia. Bahkan beberapa naskah al-Qur’an ada dalam Library Vatikan. Dalam festival Islam di London tahun 1976 dipamerkan berpuluh al-Qur’an dengan berbagai bentuk seninya. Di antaranya mushaf yang ditulis di abad ke viii-ke ii hijriah. Sebagaimana juga “kitab Perjanjian Lama” dan “Perjanjian Baru” ada dalam library orang Islam. 

Ke dalam bahasa Indonesia pun telah banyak salinan Al-Qur’an. Yang mula sekali menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Melayu bersamaan dengan tafsirnya ialah Syeikh Aminudin Abdurrauf bin Ali al-Fanshuri pada pertengahan abad ke-17 (berguru di Madinah al-Manawarah kepada Syeikh Ibrahim al-Kourany sekitar tahun 1620). Sesudah itu berturut-turutlah disalin, diterjemah, dinukil, dan ditafsirkan sampai kepada zaman kita merdeka sekarang ini.

Sebagai seorang yang menghadapkan perhatian kepada bidang sastra terutama karena dia pula satu-satunya ahli kritik sastra Indonesia di zaman ini niscaya segala terjemah dari tafsir itu telah dibacanya.

Mau tidak mau di samping timbul cintanya kepada Al-Qur’an pasti tergugah rasa kritik sastranya atas terjemahan yang berbagai macam. Teranglah bahwa pengetahuan tentang perkembangan bahasa Indonesia, yang kepadanya Al-Qur’an diterjemahkan, tidak banyak ahli-ahli penerjemah dan penafsir itu yang mendalaminya. Bahkan kadang-kadang bahasa itu kaku, kadang-kadang terlalu terpengaruh dengan susunan bahasa Arab, bahkan kadang-kadang tidak dimengerti susun katanya oleh pembaca-pembaca yang mengerti jalan bahasa Indonesia. 

Apatah lagi pasti pula H.B. Jassin membaca terjemahan Marmaduck Prischal yang bernama The Glorious Kor’an dalam bahasa Inggris, yang  dalam terjemahan itu jelas bahwa Pitschal menguasai kedua bahasa itu, sehingga terjemahan itu pun enak dibaca. 

Pada pendapat saya ini lah sebagian besar yang mendorong saudara Dr. H.B. Jassin membuat terjemahan Al-Qur’an kedalam bahasa Indonesia dalam cara sastra. Maka bukanlah berarti bahwa H.B. Jassin membuat terjemahan Al-Qur’an dengan susunan sebagai syair, melainkan sekedar memilih kalimat dan susunan kata yang indah yang lebih layak bagi seorang muslim melakukannya demi menghormati bahasa Al-Qur’an. Karena sastra Indonesia baru pun sedang dalam perkembangan pula.

Dan dia pun lebih berani karena 20 tahun yang lalu koleganya di Yogyakarta, Muhammad Diponegoro, telah memulai terjemahan beberapa surat pendek secara sastra dan menyiarkannya dalam beberapa majalah.

Kawan itu berkata pula: “Sayang H.B. Jassin itu bukan ulama!” 

Lalu saya jawab: “Sayang pula karena kebanyakan ulama kita yang menerjemahkan Al-Qur’an bukan sastrawan! Memang jarang ulama merangkap jadi sastrawan sebagai terhimpun dalam diri Imam Syafi’i R.A.”.

Lalu kata saya seterusnya: “Jarang di antara kita yang melengkapi semua keahlian. Namun di segala golongan, sama-sama ada orang yang ingin berkhidmat kepada agamanya. H.B. Jassin sebagai seorang ahli kritik sastra ingin pula berkhidmat melakukan dakwah untuk agamanya dalam bidang yang dikuasainya. Bukankah di Mesir sendiri sebagai pusat kegiatan perkembangan fikiran Islam di zaman kini, timbul pula sastrawan-sastrawan Muslim yang bukan ulama? Bukan keluaran al-Azhar? Dan jasa para sastrawan itu tidak kurang kepada Islam dari jasa ulama-ulama itu sendiri. Di antara mereka ialah Abbas Mahmod Akkad, Dr. Husain Haikal, Dr. Ahmad Amin, Ahmad Hassan Zayyat dan Dr. Muhammad Al-Bahay.

Abbas Mahmod Akkad (meninggal 1964) sampai digelari “Imlaq al-udabaa” (raksasa para sastrawan) dari banyaknya buah tangan beliau dalam segala bidang kehidupan dan kebudayaan Islam. Buku-buku yang beliau tulis tentang Islam kadang-kadang tidak dapat ditandingi walau pun oleh 10 ulama Al-Azhar, karena pengetahuannya yang meluas dan mendalam meliputi soal-soal filsafat, politik, ekonomi, sosial, sejarah dan sastra dunia. Malahan di kala hidupnya bersama al-Ustadz Ahmad Hassan Zayyat beliau pun tetap menulis dalam majalah Al-Azhar dan majalah Mimbar al-Islam.

Maka dengan usaha Dr. H.B. Jassin menulis terjemahan Al-Qur’an ini dia telah sampai kepada batas yang dia tidak dapat mundur lagi buat seterusnya turut memperkuat perkembangan penyebaran fikiran Islam di tanah air kita bersama-sama dengan teman-temannya yang lain. Apatah lagi telah dijelaskan pendirian oleh Nabi Muhammad Saw sendiri “La Rahbaniyyata fil Islami” (Tidak ada kependetaan dalam Islam).

Tegasnya tidaklah golongan yang dinamai ulama selama ini saja yang harus menguasai medan fikiran dan yang lain dilarang kalau tidak sesuai dengan pendapat beliau.

Kalau terdapat salinan yang salah, bukan saja ulama, siapa jua pun asal ahli dan menguasai persoalannya berhak menegur dan menunjukkan perbaikannya untuk dilaksanakan perbaikan itu pada cetakan selanjutnya.

Jakarta 17 Februari 1977

Dikutip dari Panji Masyarakat, No. 253, Tahun Ke XX, 15 Agustus 1978/11 Ramadan 1398, halaman 28-30

Tulisan Terkait (Edisi Tradisi)

IKLAN BARIS