• Ikuti kami :

Tentang NuuN.id

*Menafsir Indonesia, Menyambung Peradaban*

Pada abad ke 21 ini, pola komunikasi antar manusia telah berubah dan lebih mencair. Perangkat komunikasi telah bergeser pada media-media yang lebih mudah diakses umum. Radio, koran, majalah tabloid bahkan televisi hadir bersama media sosial dan media dalam jaringan.
 
Keadaan ini tentu berpengaruh pada penderasan informasi yang dapat dijangkau oleh khalayak. Setiap media, setiap lembaga, bahkan setiap pribadi berusaha menyampaikan informasi kepada pihak lain. Upaya untuk saling memberi informasi dan sekaligus saling mempengaruhi kian ramai dan riuh. Dunia maya telah menjadi ruang sangat terbuka di mana setiap pihak dapat menyatakan pandangan, pendapat, sudut pandang atau pun kehendaknya secara terbuka.
 
Keadaan tersebut pada satu sisi melahirkan kesempatan berinformasi yang lebih terbuka. Akan tetapi di sisi lain, pendangkalan terhadap wibawa (otoritas) dan kemudian terhadap makna membiasa. Hal ini menjadikan limpahan informasi justru menghasilkan penurunan taraf berfikir kita, umat Islam.

Di antara hiruk pikuk dan centang perenang kabar dan media yang berkait secara rumit, rasanya diperlukan semacam jeda dan ruang yang lebih segar. Yang ringan tetapi mendalam, yang sehari-hari tetapi bermakna. Kita perlu berbicara tentang diri kita sendiri dengan lebih tenang. Lebih khusyu.

Ruang tersebut kami coba wujudkan dalam bentuk sosial news site www.nuun.id. Kami ingin menghadirkan ruang yang tenang untuk menakar diri hingga akhirnya lahir daya hidup yang dapat menjadi pendorong berbagai kerja-kerja kemanusiaan kita.

Kami ingin mengajak sebanyak mungkin saudara, sahabat, kawan untuk memandang setiap kenyataan dengan sesuatu yang paling dekat dengan diri kita. Sebagai seorang Muslim, tentu kita akan menjawab Allah sebagai yang paling dekat. Kita perlu memandang setiap kenyataan berdasarkan kedudukan kita sebagai hamba Allah.

Sebagai manusia yang merupakan hamba Allah, kita berhubungan dengan kenyataan hidup. Kenyataan hidup itu terdapat dalam dua hal, keseharian dan tradisi. Di dalam keseharian dan tradisi itu lah kita saling bertaut, berhubungan dengan diri sendiri, dengan manusia-manusia lain, dengan alam, dengan bermacam peristiwa dan kemudian semua itu musti terikat pada hubungan yang paling agung, yaitu hubungan manusia dengan Allah.

Pada keseharian kita perlu melihat tindakan-tindakan dan kebiasaan juga peristiwa-peristiwa yang biasa terjadi sebagai seorang hamba Allah. Persoalan-persoalan bersama yang kita alami perlu kita lihat dengan kaca mata kita sebagai muslim. Di dalam mandi pagi, bekerja, tidur, sikat gigi, pergi ke masjid, telepon genggam, bersepeda, makan, berpakaian, dan segala tindakan keseharian sebenarnya terangkum falsafah hidup kita. Bahwa kemusliman kita harusnya tercermin dalam keseharian kita.

Hanya saja, sehari-hari kita sebagai sebuah bangsa pada akhir-akhir ini terasa jauh dari kehambaan. Kita tidak “melihat Tuhan” di jalan raya yang macet, di hotel-hotel, di warung-warung pinggir pantai, di dalam pekerjaan, atau dalam hubungan sesama kita. Tuhan hanya kita ingat dalam ruang-ruang masjid, shalat dan pengajian. Di luar itu, di meja makan, di dapur, di dalam buku matematika anak-anak SD, di dalam penelitian orang utan di Kalimantan, di dalam majalah musik, kita semua seperti terlepas dari Tuhan.

Pada tradisi kita menelusuri urat diri kita, lafaz takbir, tahlil dan tahmid kita sampai ke nabi. Abad 20 seperti melepaskan kita pada abad-abad sebelumnya. Pada Raja Ali Haji, Syed Arsyad Al-Banjari, pada Syekh Yusuf al-Makasari, pada Syeh Hamzah Fanshuri, juga pada Taftazani, Imam al-Ghazali, Ibn Arabi, Imam Syafii dan para tabi’i. Pada abad ke-21 satu ini kita seperti melompat secara langsung menuju abad ke 6 Masehi, kembali kepada Nabi tanpa perantara kehadiran peradaban di 14 abad yang berlalu. Kita seperti terpisah dari keseluruhan, kita seperti sebagian yang kembali ke awal dengan cara yang tak lazim.

Setidaknya ada dua persoalan yang perlu kita hadapi dalam tradisi ini. Pertama menafsirkan Indonesia (sesuatu yang membentuk pada abad ke-20) dengan penafsiran yang lebih terbuka pada akar ke-melayu-an dan ke-Islam-an. Kedua, menyambungkan peradaban Indonesia ini dengan peradaban Islam pada abad-abad lalu.

Perpaduan antara keseharian dan tradisi diharapkan akan mengukuhkan kehambaan kita dalam menjalani hidup. Dan dengan itu kita dapat berjalan, membawa diri, keluarga dan umat ke dalam perjalanan menuju Tuhan.

NuuN.id hendak mengajak sebanyak mungkin sahabat dan kawan untuk menafsirkan keseharian sehingga detak nadi kita tersambung hingga ke Nabi.

NuuN.id, menafsir Indonesia, menyambung peradaban