• Ikuti kami :

Gumaman Jabo, Cita-cita Susan, dan Persoalan Murid Budiman

Dipublikasikan Jumat, 31 Maret 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Perkembangan zaman, pembangunan, kemajuan, dan teknologi yang selalu semakin mencanggih telah menghadirkan kegembiraan dalam hidup. Semua jadi serba mudah. Batas-batas dan serba ketidakmungkinan telah dikalahkan. Yang dulu tak terbayangkan, kini dapat dilakukan. Namun, teknologi juga melahirkan kekhawatiran. Tanpa pengawasan dan perencanaan yang memadai, perkembangan teknologi dapat mengancam anak-anak.

Kumpulan suami-suami muda telah menangkap persoalan itu pada tahun 1991. Sawung Jabo, seorang musikus yang senang mengawinkan tradisi dengan modernitas, menulis sebuah lirik lagu berjudul Na Na Na Na Na Na. Lirik itu kemudian ditingkahi nada-nada lugas yang disusun Inisisri, salah satu penggebuk drum terbaik yang pernah ada di Indonesia, dan dilengkapi pula oleh Iwan Fals. Sentuhan Inisisri membuat lagu ini menjadi sangat kaya dengan tetabuhan.

Oh, iya, Jabo dan Iwan Fals saat itu masih berstatus suami-suami muda. Mereka membentuk grup musik Swami. Sebuah grup yang dijanjikan akan bubar setelah urusannya tuntas. Persis para suami yang harus kembali ke rumah setelah urusan mereka selesai. Tak boleh keluyuran. Apalagi di zaman Orde Baru, Swami hanya melahirkan dua album, Swami I (1989) dan Swami II (1991). Setelah itu beneran bubar. Padahal mereka ditopang produser bonafide, Setiawan Djodi, pemilik Airo Record. Lagu-lagu mereka tetap masyhur sampai hari ini. Kita mengenal Bento, Hio, Badut, Nyanyian Jiwa, Kuda Lumping, dan lagu-lagu lain yang berlirik kuat, kritis, dengan nada yang lugas.

Na Na Na Na Na ada di album Swami II. Kurang tenar memang, kalah dengan Bento. Lagu ini sebenarnya berbicara tentang pembangunan Waduk Gajah Mungkur yang menenggelamkan beberapa desa. Namun, di dalamnya terselip persoalan yang selalu menjadi pikiran banyak orang tua.

Nyanyian, harapan
Anak-anak di desa bermain dengan alam
Bermain bayang bayang di bawah sinar bulan

Lihatlah,
Di lorong perkampungan kota
Anak-anak kecil bermain
Imajinasi dikebiri
Surga mereka telah pergi

Saat senja perlahan mendekati
Mereka duduk di dalam ruangan
Televisi gantikan dongengan
Tidak pernah tahu masa lalu

Pada 1991, anak-anak kota telah terjebak televisi. Imajinasi mereka dikebiri dan surga mereka telah pergi. Suatu paradoks yang kuat dengan keadaan anak-anak desa yang bermain bayang-bayang di bawah sinar bulan. Tapi desa mereka juga hilang, sebab demi pembangunan harus ada waduk yang menampung air. Di desa, keceriaan kanak-kanak hilang, tergusur kemajuan, tenggelam oleh rencana pembangunan. Tenggelam dalam arti sesungguhnya, hilang diterpa air, dan tenggelam karena desa dipaksa menyerah pada tata pembangunan yang tak pernah ramah.

Pada 1991, tekanan pembangunan Orde Baru banyak mengusir kecerian masa kecil dari desa-desa. Sementara Satelit Palapa telah membuat bangsa kita lebih akrab dengan televisi. Tayangan-tayangan lacuh kadang muncul dalam film-film dewasa. Para bocah mencuri-curi menontonnya dengan penasaran di ruang tamu. Sembunyi-sembunyi dari pengawasan orang tua yang disibukkan program pendongkrakan perkembangan ekonomi gaya Orba. Kini ancaman itu tidak hanya mematung di ruang tamu, tetapi telah merayap di genggaman kanak-kanak kita.

Lagu ini ialah peringatan keras bagi siapa saja, bahwa teknologi, pembangunan, perkembangan, dan kemajuan yang tak terencana dan tanpa kebijaksanaan boleh jadi menggusur banyak keceriaan. Khususnya keceriaan kanak-kanak. Ini semacam peringatan abadi yang maknanya bisa digusur ke mana-mana. Kita bisa memaknainya sebagai: jangan sembarangan mengurug laut, anak-anak harus tahu pantai, nenek moyangnya orang pelaut.

Na Na Na Na Na seperti gumaman panjang Sawung Jabo yang mengkhawatirkan bahkan memprotes pembangun dan kemajuan yang menggusur kebijaksanaan, kemanusiaan, dan keadilan. Meniadakan keberadaban dan hanya merayakan hasrat kekuasaan.

Namun, nampaknya semua sudah terlambat. Pada tahun 1993, album Susan Punya Cita-cita menjadi album terlaris pada tahun itu. Susan mau jadi dokter, supaya bisa nyuntik orang lewat.

“Lho, kalau nggak sakit kenapa disuntik?” tanya Kak Ria Enes.

Jawaban Susan amat mengejutkan: “Biar obatnya laku.”

Anak-anak pada masa itu telah dipaksa untuk berfikir amat komersil, sejak cita-cita mereka. Orang tak sakit disuntik demi obatnya laku. Bukan hanya dokter, Susan juga bercita-cita menjadi insinyur. Mengerikan. Anak sekecil itu telah berkehendak membangun gedung bertingkat agar jadi konglomerat. Cita-cita Susan yang lain: jadi presiden.

Nampaknya, Orde Baru memang amat sistemik mencengkeram daya pikir rakyat Indonesia melalui berbagai cara. Kanak-kanak tidak diperkenankan untuk bercita-cita menjadi aktivis yang melawan korupsi, petani, penyair, orang kritis, atau pejuang buruh. Ustadz dan Ulama juga bukan cita-cita. Jadi orang baik dan masuk surga juga bukan. Anak-anak tak dapat melihat kemungkinan jalan-jalan tersebut sebagai sebuah profesi. Semua itu adalah pembangkangan dan tempat akhirnya ialah penjara atau kemelaratan.

Untunglah ada Ibu Sud yang menciptakan lagu Pergi Belajar. Lagu ini cukup moderat. Mendorong anak-anak untuk rajin tanpa mengarahkan kepada profesi yang “pro-pembangunan” atau yang “anti-pembangunan”. Lagu ini diciptakan pada 1943. Sebelum Indonesia merdeka, anak-anak telah rajin belajar dan hormat pada guru, juga sayang kepada teman.

Oh, ibu dan ayah, selamat pagi
kupergi sekolah sampai kan nanti
Selamat belajar nak penuh semangat
Rajinlah selalu tentu kau dapat
Hormati gurumu sayangi teman
Itulah tandanya kau murid budiman

Masalahnya, ujung lirik lagu itu. Kau murid budiman. Anak yang rajin, menghormati guru, dan menyayangi teman adalah tanda murid budiman. Sementara Budiman ialah pemimpin PRD, Partai Rakyat Demokratik, kumpulan anak muda berangasan yang senang melawan (dulu). Kakak Budiman ditangkap Orde Baru karena tuduhan makar.

Celaka memang....

Tulisan Terkait (Edisi Anak)

IKLAN BARIS