• Ikuti kami :

Gencatan Senjata dan Arti Penting Diplomasi

Dipublikasikan Selasa, 12 Juli 2016 dalam rubrik  Cerita Foto

Indonesia dan Belanda pernah bersepakat untuk melakukan gencatan senjata pada 14 Oktober 1946. Kesepakatan itu dicapai dalam konferensi yang cukup panjang yang kelak berujung pada Perjanjian Linggajati.

Gencatan senjata itu disepakati dalam sebuah sidang pleno dari konferensi tersebut. Mohamad Roem (saat itu Menteri Dalam Negeri) ialah salah satu perwakilan Indonesia dalam konferensi itu bersama Perdana Menteri Sutan Sjahrir, Susanto Tirtoprodjo (Menteri Kehakiman) dan Dr. Soedarsono (Menteri Negara).

Arti penting gencatan senjata 14 Oktober 1946 itu ialah pengakuan Belanda terhadap angkatan bersenjata kita. Pengakuan resmi terhadap TNI. Sebab kemudian dibentuk Panitia Bersama Gencatan Senjata Tingkat Tinggi yang berwenang memeriksa dan memutuskan segala kesulitan yang mungkin timbul dari gencatan senjata tersebut. Panitia ini juga berhak menerima pengaduan tentang pelanggaran gencatan senjata.

Panitia bersama itu terdiri atas pihak Inggris, pihak Belanda, dan pihak Indonesia. Pihak Indonesia diwakili Dr. Soedarsono, Jenderal Soedirman, Admiral Muda Nazir, dan Komodor Udara Suryadarma. Penyertaan jabatan jenderal, admiral muda, dan komodor udara pada pihak Indonesia menunjukkan pengakuan Belanda (dan Sekutu) terhadap jabatan-jabatan tersebut dan artinya lainnya: pengakuan terhadap TNI.

Ketika pihak Belanda menandatangani kesepakatan gencatan senjata tersebut artinya mereka mengakui juga ke-jenderal-an Panglima Soedirman. Dapat dibayangkan, bahwa berat untuk Belanda menyebut orang-orang Indonesia dengan pangkat-pangkat yang mentereng semacam itu, sebagaimana pangkat mereka sendiri. Sampai saat itu Belanda masih menamakan pasukan-pasukan kita sebagai gerombolan, extremis, teroris, dan sebagainya.

K.H. Agus Salim (ketika itu Menteri Muda Luar Negeri) menyimpulkan bahwa Gencatan Senjata pada tanggal 14 Oktober 1946 itu berarti pengakuan terhadap angkatan bersenjata kita. Pak Roem menyepakati kesimpulan ini. Sejak saat itu angkatan bersenjata kita berhadapan dengan Belanda dan Inggris “duduk sama rendah, tegak sama tinggi”

Diolah dari tulisan berjudul “Gencatan Senjata yang Pertama”, dalam Mohamad Roem, "Bunga Rampai dari Sejarah (II)", Penerbit Bulan Bintang (Cetakan Ke-II, 1977), Jakarta. Halaman 7-14.

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

IKLAN BARIS