• Ikuti kami :

Editorial: Pakaian, Kemanusiaan, dan Peradaban

Dipublikasikan Selasa, 25 April 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Apa yang kita pakai untuk melindungi tubuh tentu bukan sekadar urusan menutup badan guna melindungi diri dari debu dan lain sebagainya. Pakaian adalah juga identitas, jatidiri, tata kesopanan, penunjuk budaya, ciri kemanusiaan, bahkan jalan untuk memuliakan ajaran Tuhan. Oleh karena itu, pakaian tidak hanya dapat dibaca dari satu sudut pandang, pakaian ialah kekayaan kemanusiaan yang boleh ditelaah dengan beragam cara. Bagi Muslim, tentu pakaian bukan sekadar penutup tubuh, tetapi juga pemuliaan terhadap tubuh itu sendiri sebagai karunia Allah Swt.

Berbagai bangsa hadir di dunia dengan beragam pakaian bercorak warna, berbagai jenis. Islam mengajari umatnya untuk menutup aurat. Setiap bangsa yang telah memeluk Islam, kemudian memiliki pakaian khas. Warnanya bisa berlainan, bentuknya bisa bermacam-macam, bahannya bisa berbeda-beda tetapi yang pasti semua menutup aurat. Tak ada yang tidak. Apa pun kebudayaannya, di pantai atau di gunung, pakaian Muslim pasti menutup aurat. Dari kulit kayu atau dari kain meteran Tanah Abang, semua menutup aurat.

Di dunia Melayu-Nusantara, Islam memberikan kekhasan pada pola berpakaian. Meski sering jadi perbalahan, tapi baju Muslim Melayu sebenarnya sangat sopan dan (seharusnya) menutup aurat. Orang Melayu tidak menampilkan tubuhnya secara sembarangan. Tubuh ditutup rapi dengan sandang yang memadai. Tubuh dimuliakan, diperlakukan sesuai ajaran Tuhan. Ini tak berarti tak ada kreativitas dan beku. Ada celana komprang, ada celana pangsi, ada juga sarung. Ada topi haji, ada peci, ada kopiah. Ada telekung, ada mukena, ada pula rukuh. Ada kerudung, ada jilbab, ada ciput, sampai tengkuluk.

Macam-macam pakaian itu tentu tidak hanya menunjukkan jatidiri kemusliman, melainkan juga identitas kedaerahan bahkan kebijaksanaan sebuah masyarakat. Masyarakat kita ialah masyarakat yang kaya akan makna dan senang membangun beragam tanda untuk berbagai makna tersebut ke dalam beragam bentuk. Dalam pakaian pun demikian. Kiai memakai pakaian yang berbeda dengan santri. Orang tua memakai baju yang berbeda dengan anak muda. Petani tak berseragam, berbeda dengan tentara atau pulisi. Pakaian guru berbeda dengan murid. Anak SD berbeda pakaiannya dengan anak SMP. Pakaian mereka yang pergi nonton sepakbola berbeda dengan mereka yang hendak shalat Idul Fitri. Pakaian ialah tanda keragaman budaya yang mudah ditangkap mata.

Satu lagi, mau tak mau kita harus menyebut pula moralitas sebagai sesuatu yang terkandung dalam pakaian. Lelaki yang berpakaian kotak-kotak, mengancam tentara, bicara keras-keras, sok jago dapat dinilai sebagai lelaki yang tak baik. Orang berpeci, memakai kain batik, bercelana pantalon, dan bersepatu hitam rapi mengkilat dapat dinilai sebagai “orang penting” atau orang yang sok penting. Sementara mereka yang bersorban, berbaju putih, bersarung, dan membawa tasbih kita bisa menilai dia ialah kiai atau orang yang pura-pura jadi kiai. Perempuan berjilbab berbeda dengan perempuan yang memakai topi koboi. Dalam pakaian ada moralitas. Tentu setiap kelompok dan setiap orang boleh jadi memiliki standar moral yang berbeda-beda. Dan karenanya ada orang yang keluar rumah memakai baju tidur ada pula yang memakai celana pendek.

Akhirnya, pakaian sesungguhnya ialah keseharian kita yang sangat dekat. Tubuh kita lebih sering tertutup daripada terbuka. Pakaian kita ialah juga peradaban kita. Moralitas, kebudayaan, dan jatidiri kita. Kita perlu memikirkan pakaian kita dengan lebih dalam. Sebab boleh jadi, waktu untuk merenungkan pakaian semakin sedikit, kalah banyak dengan waktu untuk memilih sarung, peci, pashmina, khimar, shawl, dan hijab ultra-syar’i di pasar dalam jaringan.

Mari sedikit menyisihkan waktu untuk membaca pakaian bersama nuun.id.

Tulisan Terkait (Edisi Pakaian)

Populer

IKLAN BARIS