• Ikuti kami :

Editorial: Menghayati Alam dengan Lebih Saksama

Dipublikasikan Rabu, 22 Februari 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Allah Swt telah menciptakan kita dengan beragam keperluan, bermacam kebutuhan. Kita memerlukan makanan, kita memerlukan udara, kita memerlukan minuman. Allah Swt menciptakan kita dengan kebutuhan-kebutuhan dan keperluan-keperluan. Selain menciptakan manusia yang berkeperluan, Allah Swt juga menciptakan alam semesta yang di dalamnya tersedia segala pemenuh kebutuhan dasar kita.

Ada tetumbuhan, ada air, ada udara, ada hewan-hewan bersama kita di alam dunia ini. Dan Allah menyertakan kemampuan, memberi kita daya (quwah), untuk mengelola alam. Kita hadir di dunia dengan kesertaan daya akal dalam diri kita. Dengan daya itulah kita mengelola alam untuk memenuhi keperluan-keperluan kita.

Kita adalah manusia yang menadah air hujan, menggali sumur, membuat bendungan, dan menata saluran-saluran. Kita mengatasi banjir, membuat tanggul, menahan ombak, dan bertahun-tahun menyodet sungai. Air dan kita telah sehidup.

Kita adalah manusia yang menanam tetumbuhan. Gandum-gandum dan padi. Segala jenis bebijian. Tanah kita olah, pertanian terhampar. Sayur-sayuran menyubur dan beragam umbi terhunjam di tanah. Kita memetik buah, membuat pupuk, dan hidup berpadu dengan beragam jenis pohon selama berabad.

Dan di padang rumput orang-orang menggembala kambing. Sapi-sapi merumput. Ayam bertelur. Domba-domba kita sembelih. Rendang, gulai, sate, hingga soto kita nikmati. Dari ulu sana di peternakan-peternakan, bersambung di pasar-pasar daging diperdagangkan hingga terhidang di meja makan. Perjalanan panjang. Silaturahim dengan sekian banyak manusia, sekian banyak makhluk, sekian banyak kejadian yang semuanya jarang kita renungkan.

Allah Sang Pencipta, menciptakan manusia dengan beragam keperluan, menganugerahi daya dalam diri manusia, dan alam terhampar dengan segala pemenuhan kemanusiaan kita. Kemudian Muhammad Nabi Suci membawa kabar gembira. Dengan kasih sayang-Nya, pemenuhan kebutuhan jasadi diiringi penjagaan yang batin.

Kita boleh memakan kambing, tetapi perlu disembelih dengan mengucap nama-Nya. Kita tak boleh memakan kambing curian. Jasad kita dijaga, batin kita dirasa. Bagi seorang Muslim, mengolah kambing pun sangat terkait dengan Tuhan. Dan perhubungan manusia dengan semesta, dengan setiap lembar daun, dengan setiap debu, dengan setiap tetes air sesungguhnya selalu melibatkan Tuhan. Hanya karena kuasa-Nya, hanya karena anugerah-Nya.

Namun telah lama penghayatan kita akan alam terlepas dari Tuhan. Kita lebih sering melihat alam sebagai fakta fisika, fakta kimia, fakta biologi, atau fakta-fakta alami belaka yang tak berkait dengan Tuhan. Kita telah melihat alam sebagai sarana penyenang dan pemenuh keperluan kemanusiaan kita belaka. Kita tak menyadari bahwa membuang sampah sembarangan, kencing sembarangan, menebang pohon sembarangan, atau mengotori udara sembarangan ialah juga dosa. Kita ialah kumpulan yang melupakan Tuhan di keseharian. Mungkin negara tak dapat menegakkan hukum pada dosa-dosa semacam itu. Namun Gusti Allah tidak pernah tidur.

NuuN.id mengajak para pembaca untuk menghayati alam dengan lebih saksama pada edisi kali ini. Dalam sepuluh hari ke depan kami akan secara perlahan menampilkan tulisan-tulisan mengenai alam. Pada air kita musti merenung tentang banjir. Mencintai air harus menghadapi banjir. Apakah banjir hanya perilaku alam apa adanya? Gunung meletus dan lain sebagainya? Ataukah ia terkait dengan perilaku manusia? Muslim tentu memiliki cara pandang yang khas terhadap kejadian-kejadian alam. Muslim memiliki cara pandang yang khas terhadap alam.

Semoga sepuluh hari ke depan kita dapat menajamkan cara pandang kita, lebih khusyu meneroka alam. Mudah-mudahan....

Tulisan Terkait (Edisi Alam)

Populer

IKLAN BARIS