• Ikuti kami :

Editorial: Belajar Tertib

Dipublikasikan Selasa, 09 Mei 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Kita ialah bangsa yang besar dengan ribuan pulau dan 250 juta penduduk bermacam-macam suku serta agama. Alam Indonesia amat menawan, bahkan seorang Syeikh salah faham dan melihat Indonesia sebagai sebongkah batu yang dicampakkan dari surga. Bangsa besar dengan alam amat menawan. Dan ke mana pun mata kita memandang, kita akan dengan mudah melihat pelanggaran, peraturan yang dicampakkan dan ketertiban yang diabaikan di negeri gemah ripah loh jinawi ini.

Di belakang truk, supir yang mengantuk buang hajat kecil seenaknya. Di tepi sungai ibu-ibu buang sampah dengan tenang, tanpa rasa bersalah. Di jalan raya orang-orang berlomba menerebos lalu lintas. Di ruang-ruang kelas para mahasiswa berbahasa tanpa mengindahkan ketertiban. Sementara di masjid, sandal-sandal bergelimpangan tak terurus saling tindih saling tumpuk. Kita bangsa besar dengan alam indah melimpah dan budaya tak tertib akut.

Tidak semua dari bangsa kita memahami bahwa ketika  lampu merah menyala di perempatan jalan, semua kendaraan harus berhenti. Anak-anak muda telah tak tahu lagi cara menghubungi guru mereka dengan baik dan benar melalui SMS. Banyak orang gagal untuk menyadari bahwa membuang sampah sembarangan ialah sebuah kedzaliman. Ketika ada orang berbicara, kita sangat biasa mengobrol sendiri, asyik sendiri. Kemampuan kita untuk menghargai dan menyimak telah semakin merosot. Sementara itu mencontek telah menjadi kebudayaan umum bangsa kita sehingga para pelajar yang melakukannya saat ulangan dapat dipandang sebagai pelestari kebudayaan bangsa.

Kita menjadi bangsa yang kurang atau bahkan tidak memiliki kesadaran hukum. Kewibawaan hukum telah tak lagi teguh. Pelanggaran hukum dapat berubah menjadi sebuah transaksi. Tak ada kepastian, tak ada keyakinan. Bangsa kita hidup dalam budaya hukum yang pengap. Kita bimbang dan tak lagi berusaha atau tak tahu lagi caranya untuk keluar dari keadaan itu. Kita bangsa yang kebingungan, kenapa setelah 73 tahun merdeka kita masih juga tak mampu mengurus sampah dengan seksama. Sementara hutan dibalak tanpa aturan, semuanya, seenaknya, suka-suka. Jangankan ingat anak cucu yang belum lahir, ingat Tuhan yang Maha Ada saja tidak.

Melihat keadaan-keadaan ketertiban bangsa kita yang semacam itu, patut lah kita berputus asa. Semua usaha menjadi seperti serba buntu dan kusut tak karuan. Untung lah Allah Swt melarang hamba-Nya berputus asa. Seruwet apa pun budaya tak tertib bangsa kita, kita tetap harus berikhtiar memperbaikinya. Dan kita selalu percaya, tak ada yang sia-sia dalam sebuah usaha, sebab Allah Swt tak pernah tidur.  

Ikhtiar untuk memperbaiki serba keruwetan itu sebenarnya selalu ada. Berbagai cara, berbagai pihak terus berusaha membangun budaya tertib. Umat Islam tentu harus turut serta dalam ikhtiar itu. Membangun budaya tertib adalah juga membangun peradaban kita. Ketertiban ialah salah satu bentuk ketinggian peradaban. Bangsa yang beradab tentu akan hidup dengan tata cara yang teratur, bukan dengan sikap seenaknya.

Nuun.id mengajak pembaca sekalian untuk turut serta merenungkan persoalan ini bersama-sama. Kenapa kita menjadi bangsa yang susah tertib? Kenapa pelanggaran begitu mudah terjadi di sekitar kita? Kenapa keteraturan menjadi hal yang terasa muskil di jalan raya? Bagaimana cara membangun kesadaran hukum yang wajar dan memadai? Kita dapat lagi menderet berbagai pertanyaan perihal persoalan ini. Ada banyak ketakwajaran dan ketakberterimaan dalam kehidupan kita. Ada banyak yang tak tertib dalam kehidupan kita. Dan jangan-jangan, kita ialah bagian dari ketaktertiban itu.

Ada baiknya kita mulai merenung tentang hal ini dengan agak lebih serius. Tak perlu terlalu jauh menuntut di luar diri kita. Mengatur pola tidur dan menjalankan sunah Nabi untuk tak tidur sehabis shalat shubuh juga tak kesiangan bangun pagi ialah di antara yang dapat kita lakukan. Ketertiban sesungguhnya adalah wajah iman kita.


Tulisan Terkait (Edisi Tertib)

Populer

IKLAN BARIS