• Ikuti kami :

EDITORIAL: 109 Tahun Mohammad Natsir, Ikhtiar Mengingat Seorang Bapak

Dipublikasikan Jumat, 14 Juli 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Apa faedah mengenali seorang lelaki yang telah tiada, yang lahir dan wafat di abad lalu, bagi generasi kerlip lampu kamera sekarang ini? Jutaan lelaki telah lahir dan wafat pada abad 20 yang lalu. Namun, tak semua nama dapat dikenang. Tak semua sosok diperingati kehadirannya.

Abad 20 bagi bangsa Indonesia dapat dianggap sebagai abad kelahiran, bahkan abad kehadiran. Gagasan nasionalisme, modernisme, pembaharuan, dan semangat pencarian jati diri bangsa terhampar pada abad yang penuh lakon itu. Bermacam gagasan membentur masa lalu dan menyambungkan masa kini. Abad 20 riuh rendah dengan berbagai pergolakan dan usaha bersama menjadi utuh sebagai sebuah bangsa.

Pada abad 20 itulah lahir dan wafat seorang lelaki penuh kharisma yang hidupnya berlumur peristiwa pergulatan bangsa. Ia adalah bagian dari sejarah penting bangsa ini. Ia bergelut dengan Soekarno-Hatta hingga Soeharto, membentuk lajur keberadaan bangsa kita. Jejaknya tertinggal di beragam kejadian, buku, berita media massa, serta ingatan dari orang-orang yang masih tersisa.

Mohammad Natsir, lelaki kurus dengan sorot mata yang menyimpan kesejukan, bertaut senyum lembut nan menawan. Orang-orang telah berteduh dalam kesejukan dan kelembutannya di berbagai zaman, di macam-macam kerawanan, di puluhan ketegangan. Pak Natsir ialah sebuah elemen penting di abad ke-20. Pertautan Islam dan negara ialah pikiran dan laku politiknya; modernisme Islam berdenyut di nadi pikirnya; jati diri umat Islam di Indonesia terpoles melalui rautannya.

Di abad kini, mengingat nama Mohammad Natsir seharusnya memiliki makna yang penting. Pak Natsir dapat menjadi tempat berpegang ketika kita berdialog dengan globalisme yang telah menjadi keseharian kita. Pada zaman ketika informasi bersilangsengkarut dengan peradaban digital, kita memerlukan kekukuhan jati diri, kekuatan keyakinan, dan kedaulatan harga diri. Tanpa itu semua, kita akan hanyut dalam tsunami kata-kata yang diproduksi jutaan buah setiap detiknya.

Bermacam gagasan (atau sekadar seruan-seruan hampa) seperti “NKRI harga mati!”, “Saya Pancasila!”, Bhinneka Tunggal Ika, Gotong Royong, dan segala bunyi lain yang biasanya keluar dari mulut politisi, perlu ditimbang dengan saksama. Kita mesti takar, berapa benar seruan-seruan itu, dan sejauh mana mulut-mulut yang gemar mengucapkannya melaksanakannya dalam hidup mereka? Sebab, seperti yang pernah berlaku di abad yang lalu, seruan itu sekadar memberi gincu pada bibir-bibir kekuasaan sebagai penggoda rakyat untuk bersikap fanatik buta pada suatu entitas politik.

Perihal kebangsaan, kita dihinggapi kebingungan akut. Kita gagal menemukan hubungan yang baik dan benar antara Islam dengan negara, cenderung melihat kenyataan kebangsaan dengan gagap. Di sebuah sisi, seruan-seruan untuk memisahkan agama dari negara begitu bising. Di sisi yang lain, orang-orang yang kurang belajar sejarah ribut meneriaki negara ini sebagai thogut. Pada lain sisi yang juga suram, orang-orang mencurigai janggut dan cadar sebagai bagian dari makar. Tak kalah kelam, kita melihat kenyataan, ada orang yang tak mampu mendudukkan negara dalam keimanannya. Dalam bernegara, kita semakin sunyi. Negara dan iman semakin buram. Beriman dan bernegara seakan tak berhubungan, bahkan bertentangan.

Di antara sesama umat Islam, muncul saling menyalahkan. Tak ada kepemimpinan dan strategi pembangunan umat. Kadar keributan kita tak tertakar. Kita seperti umat yang tak punya rencana jangka panjang, yang bergerak dari satu kekhawatiran menuju kekhawatiran yang lain. Ketika isu Syi’ah muncul, ramai-ramai kita menentangnya. Ketika isu PKI (Partai Komunis Indonesia) hadir, pontang-panting kita bersiap menghadapinya. Kita tak pernah memastikan tingkatan ancaman itu. Berapa tenaga yang diperlukan untuk mengatasinya dan cara macam apa yang paling ampuh untuk menanggulanginya? Kita bergerak dari isu ke isu. Tenaga dan rencana menumpuk di gudang sejarah kita, tak sempat diperjuangkan dengan saksama dalam kehidupan kenegaraan kita.

Kita memerlukan kematangan gagasan dan ketertiban dalam bekerja. Kita tidak jarang menemukan rencana, tetapi tak memiliki kemampuan untuk menjadikannya nyata. Kita juga melihat banyak tindakan yang dilakukan tanpa hasil pemikiran yang matang. Kedalaman berpikir dan kemahiran dalam bertindak amat diperlukan hingga kita tak lagi kebingungan, terombang-ambing dalam pertentangan klasik: yang konkret dan yang ideal. Mereka yang merasa bertindak konkret biasa menuduh yang asyik di dunia gagasan sebagai pengkhayal. Sebaliknya, mereka yang menggeluti dunia gagasan akan menatap para pekerja yang terburu-buru sebagai reaksioner dan tak berarah.

Pak Natsir membangun gagasan kebangsaannya selama bertahun-tahun. Gagasan itu disepuh dalam perdebatan panjang dengan kaum nasionalis serta komunis. Ia dimatangkan dengan melalui beragam peristiwa suatu zaman. Ia diuji dengan tantangan-tantangan. Gagasan itu tak hanya mengawang di dunia khayalan. Ia terjemahkan pemikirannya dalam pertarungan politik yang terhormat dan penuh harga diri. Dengan gagasannya yang besar, ia melakukan tindakan yang besar. Mohammad Natsir ialah arsitek Negara Kesatuan Republik Indonesia. Falsafah dan keyakinannya sebagai seorang Muslim ia panggul dalam tugas-tugas politiknya.

Kita dapat melihat dengan jelas Mosi Integral Natsir; Mohammad Natsir sebagai perdana menteri; aksi politik cerdas dan keras Natsir dalam menghadapi PKI dan Sukarno dalam PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia); peranannya di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia serta Rabithah Alam Islam; Mohammad Natsir sebagai pahlawan nasional (2008). Itu semua merupakan jejak-jejak Pak Natsir dalam berbangsa dan bernegara. Tak hanya itu, kita dapat melihat beragam pemikiran dalam pidato-pidato tentang Islam dan negara di konstituante, perdebatan panjang mengenai Islam dan kebangsaan yang ia lakukan dengan sahabat sekaligus rival politiknya (Soekarno), dan pidato-pidato bagi orang modern di berbagai forum internasional mengenai Islam dan modernisme. Secara sederhana, kita dapat menyimpulkan, Pak Natsir ialah pemikir ulung sekaligus politisi Muslim yang berani dan cerdas.

Kami tak bermaksud memitoskan orang hebat di masa lalu. Sebagai mana ajaran Pak Natsir yang gemar membasmi takhayul dan khurafat, kami ingin mengingat Mohammad Natsir sebagai manusia. Namun, kita tahu, tidak semua manusia sama. Ada manusia yang pintar, ada yang tidak. Ada yang memiliki jasa besar terhadap umat dan bangsa, ada yang sekadar hidup untuk hidupnya sendiri. Pak Natsir, dalam kemanusiaannya, memiliki suatu hal yang berbeda. Ia khas dan tiada dua. Ia patut ditelaah dan diteladani. Jejak-jejak Pak Natsir itu bukan sekadar monumen yang perlu diseka, dicuci bersih, dan diperingati setiap tahun. Bangunan pikiran Pak Natsir dapat dipandang dan ditimbang agar terus berkembang, memberi kemanfaatan pada kehidupan masa kini dan masa yang akan datang.

Bagi kami, Mohammad Natsir ialah seorang bapak. Hampir sepanjang abad ke-20, kaum modernist bernaung kepada Bapak, menembus masa kolonial, menempuh dua rezim. Mohammad Natsir ialah Bapak Modernisme Islam di Indonesia. Kita tentu saja dapat menimbang ulang modernisme itu dengan menggunakan perbendaharaan yang kita miliki, yang membentang selama 14 abad.  

Dengan segala kelemahan dan kekurangan, nuun.id berikhtiar menampilkan edisi khusus mengenai Pak Natsir. Hal ini dilakukan sekaligus untuk memperingati 109 tahun kelahirannya. Semoga, ini bukan termasuk pemitosan sosok Pak Natsir atau ini tindak berkategori takhayul, bid’ah dan khurafat. Namun, menempuh tahun-tahun yang gamang tanpa mengenang Mohammad Natsir merupakan sebuah kehampaan.

Mari membaca Mohammad Natsir dalam pekan kelahirannya ini! Semoga bermanfaat.

15 Juli 2017,

Redaksi
 


Tulisan Terkait (Edisi Moh.Natsir)

IKLAN BARIS