• Ikuti kami :

Editorial : Menafsir Peranakan, Menjadi Indonesia

Dipublikasikan Rabu, 08 Februari 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Persoalan politik yang memanas akhir-akhir ini telah melahirkan sikap tak wajar di antara bangsa kita. Ada kubu yang begitu anti terhadap Cina. Di sebelahnya, ada kubu yang membangun penolakan keras terhadap Arab. Anti-Cina dan anti-Arab menjadi ramai. Soal darah dan keturunan menjadi bahan perbalahan. Peranakan Arab dan peranakan Cina kembali dicurigai dan dipertanyakan keindonesiaannya. Gelagat tak sehat dalam kehidupan kebudayaan kita itu menambah sumpek hari-hari kita. Kita seperti bangsa yang tidak mahir memandang hal-hal yang sebenarnya lumrah dan wajar.

Sikap curiga terhadap peranakan Cina memang masalah lama. Orang-orang Cina sering kali dipandang penuh waspada oleh sebagian kita. Mereka dianggap kaum yang terpisah dan tidak sepenuhnya Indonesia. Akar budaya mereka ialah berasal dari nenek moyangnya dan itu membuat mereka dipandang tak sungguh-sungguh sebagai orang Indonesia. Kecurigaan tersebut ditambah dengan pengalaman politik kaum Cina peranakan yang sering kali ditafsirkan secara rancu. Orang-orang Cina sering dinilai sebagai kaum yang tak memiliki kesetiaan penuh pada NKRI dalam berbagai peristiwa politik. Persoalan lainnya tentu saja soal perilaku ekonomi sebagian dari kaum peranakan ini yang sering kali melahirkan kecemburuan sosial.

Selain masalah Cina, masalah Arab juga mencuat akhir-akhir ini. Arab dicurigai dan dianggap perlu diwaspadai. Radikal, keras, dan tidak toleran ialah citra yang dilekatkan kepada Arab akhir-akhir ini. Penolakan secara konyol terhadap segala sesuatu yang berbau Arab pun bermunculan. Celakanya, anti-Arab nyaris bersinonim dengan anti-Islam. Tentu saja ini juga menyerempet soal keturunan Arab di Indonesia. Mereka kerap diragukan keasliannya sebagai orang Indonesia. Ujaran-ujaran kebencian yang menghina pakaian dan kabilah orang-orang Arab bermunculan di beragam media. Bahkan, ada yang meminta orang yang berpakaian seperti orang Arab untuk pindah ke Arab sekalian.

Keluguan dalam memandang Arab dan Cina ini semakin keruh dengan hadirnya beragam isu tak sedap. Persoalan dominasi ekonomi, penyusupan kebudayaan dan kepentingan politik Cina atau Arab di Indonesia kemudian mencuat. Sikap waspada yang berlebihan terhadap Arab dan Cina menghasilkan kecurigaan tak berdasar kepada kaum keturunan ini. Maka persoalan huruf Cina atau pakaian Arab menjadi bahan keributan yang memilukan. Menjadikan kita seperti kaum yang tak pandai memilah masalah budaya dan masalah politik.

Menyebut batik lebih nasionalis dari pakaiannya Pangeran Diponegoro tentu sebuah kelucuan, apalagi sampai menafsirkan jilbab sebagai pakaian Arab. Pun keluguan dalam memandang kaum Cina sebagai orang-orang yang pasti terkait dengan komunisme. Sentimen keras antarsatu kaum dan kaum lainnya membuat kita tegang dan boleh jadi saling benci tanpa dasar dan tanpa sadar.

Tentu hal ini perlu direnungkan ulang. Satu-dua orang keturunan Cina bertindak menyebalkan bukan berarti seluruh peranakan Cina harus dimusnahkan. Satu-dua keturunan Arab yang bersikap radikal tak berarti seluruh peranakan Arab harus dicurigai dan diperiksa baik-baik. Apalagi sampai menempatkan kebab, nasi biryani, rebab, rebana, gambus, bakpau, bakso, dan siomay sebagai sesuatu yang anti-Indonesia.

Kita tidak boleh mendungu hanya karena sentimen-sentimen lancung seperti itu. Namun, hal tersebut tak memestikan kita melihat Arab dan Cina sebagai sesuatu yang tak mengandung persoalan. Kita harus secara berani melihat persoalan keadilan ekonomi sebagai sesuatu yang memang harus diselesaikan. Masalah ini ialah salah satu musabab lahirnya sentimen anti-peranakan.

Pun masalah kebudayaan yang ada mengenai peranakan ini. Misalkan begini, Cina atau Arab itu sebenarnya apa dalam tata budaya kita? Apa Cina dan Arab setara dengan Sunda dan Jawa sebagai sebuah suku bangsa? Atau Arab dan Cina hanya keturunan sehingga kita bisa menyebut orang Jawa keturunan Cina atau orang Sunda keturunan Arab? Hal semacam ini perlu juga diluruskan. Sebab, di Taman Mini Indonesia Indah ada Taman Budaya Tionghoa tetapi tidak ada Taman Budaya Arab atau Anjungan India. Hal ini penting untuk merajut kebangsaan kita dengan lebih saksama.

Kemembauran dan saling pengertian antarseluruh anak bangsa rasanya penting untuk selalu dan semakin dikuatkan. Sebagai Muslim, kita tentu dapat melihat orang-orang Cina keturunan dan orang-orang Arab keturunan (atau orang keturunan mana pun) sesuai ajaran Islam. Seluruh manusia harus dihormati, seluruh budaya harus dihargai.

Akan tetapi, Islam pun mengajarkan umatnya untuk selalu melawan kezaliman dan ketidakadilan. Oleh karena itu, menata hubungan dengan kaum peranakan dan menempatkannya sebagai bagian utuh dari bangsa kita ialah sebuah kemestian.

NuuN.id mengajak para pembaca sekalian untuk melihat persoalan peranakan dengan lebih saksama. Kita tidak bisa menempatkan peranakan (Arab, Cina, atau peranakan mana pun) sebagai orang yang tidak asli keindonesiaannya. Mereka ialah Indonesia sebagaimana warga lainnya. Dan karena kita semua Indonesia, kita harus bersedia merajut ruang hidup bersama yang nyaman bagi semua. Apabila ada persoalan kemembauran yang tak utuh dari sebagian peranakan, itu tugas kita bersama untuk mengatasinya. Baik yang keturunan dan yang bukan, harus sama-sama terbuka dan bersedia merawat dan menjadi Indonesia.

Selama 10 hari ke depan (09—18 Februari 2017), Insya Allah NuuN.id akan mengangkat persoalan peranakan ini dalam berbagai rubrik. Pandangan-pandangan ringkas mengenai peranakan dapat ditemui dalam Obrolan Warung Kopi atau OWK. Salah satu tulisan dalam rubrik ini ialah kisah rumit (bahkan bisa jadi merupakan nasib paling rumit) dari seorang anak peranakan yang wajahnya malah sangat mirip dengan penduduk asli.

Pada rubrik Khazanah kita dapat menyusuri beragam hal mengenai peranakan yang termuat dalam catatan lama. Kami mengajak pembaca semua untuk melihat bagaimana kaum Arab dan kaum Cina pernah juga menyatakan kesetiaannya kepada republik ini. Melalui beragam catatan lama (Perbendaharaan Lama) dan foto (Cerita Foto) yang kami olah ulang, moga-moga kita dapat mengenal peranakan dengan lebih saksama. Terakhir, kami coba melakukan kajian sederhana mengenai persoalan “Peranakan dan Kebangsaan Indonesia” dalam rubrik Tafakur.

Pada akhirnya, kami mengucapkan selamat membaca sajian kami dalam edisi “Peranakan dan Kebangsaan” ini. Selamat menjadi Arab, selamat menjadi Cina, selamat menjadi Indonesia.

Tulisan Terkait (Edisi Peranakan)

IKLAN BARIS