• Ikuti kami :

Editorial : Membangun Kewajaran Bagi Anak-anak

Dipublikasikan Sabtu, 25 Maret 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Dunia anak-anak saat ini semakin terpojok oleh perkembangan teknologi, kehidupan sosial, perkembangan ekonomi dan industri, bahkan pergaduhan politik. Ruang yang wajar dan alami bagi anak-anak untuk menjadi dirinya sendiri semakin sempit. Fungsi-fungsi dasar keluarga telah terbenam oleh tuntutan-tuntutan keseharian yang semakin tak masuk akal. Sementara sekolah makin sering membangun gedung dan mengurus pengadaan alat dukung pendidikan. Hak anak semakin tiris. Mereka memang dibangunkan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak, tetapi imajinasi mereka tak terlindungi.

Ayah yang mendongeng semakin sedikit, tergantikan Ipin & Upin. Ibu semakin jarang mengajar mengaji, digantikan paket Lancar Mengaji 30 Jam Digital dengan bonus DVD Manasik Haji dan Umrah. Anak-anak tak lagi bermain bola, petak umpet, dan berhantam. Mereka main Angry Bird.

Anak-anak tumbuh di antara pertengkaran Julia Perez dan Dewi Persik. Juga kisah percintaan Ariel dan Luna Maya. Anak-anak terseret dalam ribut USBN dan UMN atau kisah hamil di luar nikah yang semakin membiasa. Anak-anak meraba masa depan di tuts gawai canggih di genggaman mereka. Dengan paparan macam-macam cerita. Mulai kodok presiden, salaman Raja Salman, pisuhan Ahok, dan pertunjukan bebas kakak-kakak (remaja) mereka. Generasi yang imajinasinya dipertaruhkan di hadapan mesin. Generasi yang semakin penasaran dengan hubungan misterius antara Sizuka dan Nobita.

Tiba-tiba kita merindukan Ibu Soed. Lagunya Hai Becak sudah tidak dimengerti anak-anak kota sebab becak nyaris musnah di kota-kota. Tak ada lagi dongeng radio, semua serba gerak audio visual nyaris tanpa ruang bagi imajinasi. Kita merindukan Ibu Soed sebab Si Unyil terlalu sering main ke pabrik dan bermain Laptop. Meski masih kecil, Unyil telah pandai menguatkan sekrup-sekrup industri.

Kita rindu lagu Katon Bagaskara tentang Negeri di Awan, negeri di mana kedamaian menjadi istananya. Pada kenyataannya, anak-anak hidup di bumi bulat ini, dengan segala beban kedewasaan yang terus mengintai. Orde baru telah tanggal, tapi anak-anak tak lagi bercita-cita menjadi Habibie. Mereka ingin menjadi artis.

Anak-anak di antara kambing beranak ialah dunia rawan dengan masa depan yang menghablur. Ancaman 7.000 pengidap kelainan seksual dan moralitas yang semakin retak ialah dunia yang harus dihadapi anak-anak Indonesia. Anak-anak yang terancam merkuri dalam thimerosal sejak dini. Kita tidak perlu merayakan apa-apa dari kelahiran dua ekor kambing. Namun jelas kita harus merawat dunia kanak-kanak agar masa depan tetap ada. Dan jernih.

Kita harus berani menadah tetes-tetes murni tatap mata kanak-kanak dan melindungi mereka dari televisi dan gawai. Anak-anak butuh kewajaran sebagai kanak-kanak. Mereka perlu mengenal lagu Abang Tukang Bakso, Anak Sehat, dan Sepohon Kayu. Mereka perlu tahu bagaimana caranya bershalawat kepada Nabi. Sebab Lelaki Kardus tidak ramah untuk imajinasi adik-adik kita. Mereka memerlukan permainan pintar di Taman Lalu Lintas Ade Irma Nasution, bukan terjangan di rusuk bapaknya yang membuat mereka menjadi yatim seumur hidup.

Anak-anak memerlukan kewajaran, memerlukan permainan, dan mainan untuk anak-anak. Mereka perlu sungai, perlu sawah, sebab tidak semua anak-anak akan menjadi insinyur. Kita perlu kanak-kanak yang tangguh, yang tidak hanya berani menjadi arsitek, tetapi juga berani membeton kaki mereka demi pembelaan kepada yang lemah.

Mari telusuri dunia kanak-kanak di tengah hiruk pikuk para pengicuh...

Bersama NuuN.id...


Tulisan Terkait (Edisi Anak)

Populer

IKLAN BARIS