• Ikuti kami :

Douwes Dekker: Indo Mualaf Pecinta Negeri

Dipublikasikan Selasa, 29 Agustus 2017 dalam rubrik  Cerita Foto

Indische Partij adalah organisasi politik yang menjadi peletak nasionalisme Hindia. Ia disebut-sebut lebih radikal dari Boedi Oetomo, karena selain menolak diskriminasi, partai ini juga menyerukan perombakan di bidang pelayanan administrasi, mengusug reformasi politik pertanian, dan juga perpajakan. Meski hanya berumur pendek karena dibubarkan oleh pemerintah Hindia-Belanda, tapi Indische Partij telah berhasil menyuburkan semangat dan harapan bagi orang-orang di Hindia.

Ernest François Eugène Douwes Dekker atau Danudirdja Setiabudi adalah orang yang berada di belakang Indische Partij. Meskipun darah yang mengalir di tubuhnya lebih banyak dari Eropa, tapi cita-citanya dalam memperjuangkan kemerdekaan tidak kalah dari siapapun jua. Douwes Dekker lahir di Pasuruan, Jawa Timur pada 8 Oktober 1879. Ayahnya adalah orang Belanda yang keluarganya telah menetap di Hindia-Belanda, sedangkan ibunya lahir dari pasangan Jerman-Jawa. Douwes Dekker memiliki hubungan darah dengan pengarang Max Havelaar, Multatuli. Multatuli yang merupakan nama pena dari Eduard Douwes Dekker adalah kakak dari kakeknya. 

Pada September 1912, Douwes Dekker membentuk Indische Partij bersama para tokoh Insulinde. Diskriminasi pemerintah Hindia-Belanda kepada peranakan dan pribumi menjadi salah satu alasan berdirinya partai ini. Tujuan lainnya adalah untuk memperjuangkan kemerdekaan Hindia. Setelah Indische Partij berdiri, Douwes Dekker pergi ke Bandung, Cirebon, Pekalongan, Tegal, Yogyakarta, Semarang, Madiun, dan Surabaya. Partai ini memiliki 30 cabang dan sekitar 7.300 anggota.

Pada bulan Desember di tahun yang sama, Tjipto Mangoenkoesoemo diangkat sebagai Wakil Ketua. Tjipto awalnya merupakan bagian dari Boedi Oetomo, tapi ia kecewa karena Budi Oetomo terlalu lembek terhadap pemerinah colonial. Selain itu, sebagai sebuah organisasi Budi Oetomo tidaklah terlalu setara, karena tidak terbuka bagi semua suku dan golongan, tetapi hanya untuk orang Jawa saja. Tjipto melihat kesamaan visi dengan Douwes Dekker, sehingga ia bergabung dengan Indische Partij. Partai politik ini kemudian semakin kuat dengan bergabungnya Soewardi Soerjaningrat yang kemudian kita kenal dengan Ki Hajar Dewantara. Tiga tokoh yang kita kenal sebagai Tiga Serangkai ini memperjuangkan cita-cita mereka melalui Indische Partij.

Sayangnya, Indische Partij tidak bertahan lama, karena dibubarkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada 31 Maret 1913. Setengah tahun setelahnya, Tiga Serangkai ini dibuang ke Belanda. Di negeri kincir angin itu, mereka beriga melanjutkan studi sambil tetap menjalankan aksi politiknya. Soewardi melanjutkan ke sekolah guru, Tjipto ke sekolah kedokteran, sedangkan Douwes Dekker memilih belajar ekonomi politik di Zurich, Swiss.

Lima tahun kemudian, ia kembali ke tanah air. Bersama dua sahabatnya ia kembali mendirikan partai, yang kali ini dinamai National Indische Partij. Sayangnya, partai ini kembali dilarang oleh belanda pada tahun 1922. Setelah partai itu dilarang, Douwes Dekker pindah dari Semarang ke Sukabumi. Setahun setelahnya, yaitu pada September 1923, ia mendirikan Ksatrian Instituut di Bandung. Namun, langkahnya ini kembali mendapat halangan dari Pemerintah Kolonial. Buku-buku di Ksatrian Instituut disita dan dibakar antara tahun 1936-1940. Setelah itu, ia memutuskan untuk bekerja di kamar dagang Jepang di Jakarta.

Aktivitas politik lelaki yang biasa dipanggil Nest atau DD ini, menyebabkannya berkali-kali ditahan oleh Pemerintah Kolonial. Tahun 1919 misalnya, ia ditahan karena dianggap memprovokasi gerakan buruh di perkebunan Polanharjo, Klaten. Kemudian pada 1942, ia dibuang ke Suriname atas tuduhan menjadi kaki tangan Jepang. Untungnya ia berhasil melarikan diri ke tanah air pada 6 Desember 1946, dengan menggunakan dokumen Jopie Radjiman. Perawatnya, Nelly Alberta Kruymel, yang kemudian menjadi istri ketiganya (setelah dua kali bercerai) ikut serta. Nelly kemudian mengubah namanya menjadi Harumi Wanasita.

Tak lama setelah berhasil kembali ke tanah air, Douwes Dekker, berkunjung ke Istana Negara Yogyakarta untuk menemui Presiden Soekarno dan para tokoh lainnya. Di masa kemerdekaan, ia pernah menjabat sebagai menteri negara, anggota Dewan Pertimbangan Agung, dan Kepala Bagian Historiografi pada Bagian Dokumentasi Kementerian Penerangan.

Pada awal 1947, Douwes Dekker mengucapkan dua kalimat syahadat di Yogyakarta. Ia kemudian mengubah namanya menjadi Danudirdja Setiabudi, nama yang diberikan oleh Presiden Soekarno untuknya. Setelah memeluk Islam, ia sering mengenakan kopiah hitam dan ikut aktif di dalam Partai Masyumi. Keputusan masuk Islam Douwes Dekker dinilai dipengaruhi oleh Natsir, karena ketika tinggal di Bandung ia cukup dekat dengan intelektual Islam di Bandung seperti Natsir dan Sjahrir.

Ketika Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948, Douwes Dekker ditangkap oleh Belanda. Setelah itu, kondisi fisiknya terus menurun hingga ia dibebaskan pada 1949. Setelah dibebaskan, ia tinggal di Bandung hingga akhir hayatnya. Douwes Dekker meninggal dunia pada Senin sore pukul 15.50 28 Agustus 1950 di rumahnya, yang ia namai Djiwa Djuwita. Sebelumnya, ia telah dirawat di Rumah Sakit Rantja Badak selama beberapa waktu karena sakit jantung, tapi ia kemudian diizinkan pulang karena kondisinya telah membaik. Siapa sangka setelah seminggu di rumah ia justru menghadap ke Yang Maha Kuasa. 

Sebelum meninggal dunia, ia meninggalkan pesan kepada kerabat dekatnya, agar dia dimakamkan secara Islam. Meski telah tiga tahun menjadi Muslim, tapi ia khawatir ada familinya yang akan menguburnya dengan cara agama lain, misalnya Protestan.

Diolah dari:

Tim Buku Tempo, Douwes Dekker: Sang Inspirator Revolusi (Jakarta: KPG, 2012)

Mimbar Indonesia No. 36, Tahun IV, 9 September 1950, hlm. 26


Tulisan Terkait (Edisi Tradisi)

IKLAN BARIS