• Ikuti kami :

Dongeng tentang Ayam dan Sebuah Kepercayaan

Dipublikasikan Jumat, 24 Februari 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Pada zaman dahulu kala, tersebutlah seorang pemuda gagah, tampan, pemberani, dan cerdas bernama Aris. Nama lengkapnya Raden Mas Aristo Widodo Yudoyono (bukan nama yang sebenarnya). Pemuda itu hidup di pinggiran sebuah kota. Ketika itu apa yang dinamakan kota masihlah sebuah wilayah yang dikelilingi oleh benteng. Orang-orang hidup berguyub di dalamnya dengan kepemimpinan seorang Raja. Tata kehidupan kota pada masa itu amat dinaungi kepercayaan terhadap dewa-dewa.

Masyarakat di sana yakin bahwa setiap unsur alam ada yang menjagai. Setiap peristiwa ada yang menaungi. Bahkan di dapur. Ketika masakan seorang ibu tak lagi sedap rasanya, seisi rumah percaya persembahan kepada seorang dewi yang menaungi dapur, Hestia namanya, mestilah kurang. Dewi Hestia kurang berkenan pada persembahan yang dijalankan di dapur sehingga rasa lezat dari masakan ia cabut. Para pemilik rumah mesti memberi kurban kepada Dewi Hestia agar kelak kelezatan diperkenankan kembali hadir dalam masakan.

Setiap kejadian dan peristiwa yang dialami manusia dijelaskan dalam kerangka kepercayaan tersebut. Alam dimaknai sebagai terdiri atas yang wadag (terlihat dengan mata dan dapat dirasa indra manusia) dan yang tak wadag. Ada dewa-dewa dalam peristiwa kelahiran, ayam berkokok, gerhana rembulan, perkawinan, hujan, mendung di langit, deru ombak di lautan, tumbuhnya tanaman di ladang, perselingkuhan, timbulnya bisul, dan semua hal.

Keyakinan terhadap alam yang ditunggui sekian dewa itu telah lama direnungi Mas Aris. Ia tak tinggal di rumah orang tuanya yang kaya raya di dalam kota. Lelaki itu lebih senang tinggal di pinggir luar benteng. Orang tuanya punya ladang dan peternakan di sana. Pada orang tuanya ia memang meminta izin untuk mengurus ternak dan ladang itu. Namun, Mas Aris tidak hanya mengurus gandum dan ayam. Ia mulai mencobai kebenaran adanya dewa-dewa itu.

Diam-diam ia tak lagi menyajikan persembahan di pojok ladang gandum. Dan ternyata gandum tetap tumbuh dan menghasilkan panen yang melimpah. Ia tak lagi beribadah untuk membuktikan adanya murka dewa-dewa. Dan Dewa tak murka. Atau tak ada murka dewa. Atau memang Dewa tak ada. Kesejahteraan tetap berpihak kepadanya. Mas Aris berpikir dan merenung. Ia gusar dengan kepercayaan-kepercayaan yang ada pada masyarakatnya. Dalam sebuah ketika di perenungannya, ia melihat seekor ayam.

“Bagaimana ayam ini dapat menjadi ayam, padahal sebelumnya ia adalah sebutir telur? Benarkah ini perbuatan dewa- dewa?” tanyanya di dalam pikiran.

Ketika itu orang-orang percaya ada sesosok dewa yang mengubah telur-telur menjadi seekor ayam. Mas Aris ingin membuktikan kebenaran dari praduga-praduga tersebut. Setelah mengamati dengan saksama, ia melihat bahwa telur ayam akan menetas dalam 21 hari sejak ia keluar dari induknya. Telur-telur itu dierami sang induk selama tiga minggu dan kemudian menetas menjadi ayam kecil yang berciak.

Aris kemudian mengumpulkan 21 telur yang baru dikeluarkan induknya. Kebetulan akhir-akhir itu banyak ayam kawin di peternakannya. Kemudian ia eramkan telur itu pada tubuh dua ekor induk ayam. Setiap hari ia mengambil sebutir telur yang dierami itu, kemudian menggambarkan isinya dalam sebuah kertas. Begitu ia lakukan setiap hari selama tiga minggu. Telur terakhir yang ia hendak pecahkan telah berciak menjadi seekor anak ayam.

Kini Mas Aris telah memiliki 21 gambar yang menjelaskan perkembangan telur ayam. Dari hari pertama telur itu keluar dari induk ayam hingga kemudian menetas dan berciak 21 hari kemudian.

Pemuda gagah nan cerdas itu terus mengamati gambar-gambarnya. Ia tidak melihat sesosok dewa pun di sana. Yang ia lihat ialah perubahan-perubahan yang wajar dari satu fase ke fase lainnya. Dan hal itu dapat dijelaskan, dapat diamati, dapat dirumuskan dan dapat dikuasai, diketahui oleh dirinya. Mas Aris berkesimpulan bahwa dewa-dewa tidak pernah terlibat dalam peristiwa menetasnya telur ayam. Hal itu merupakan peristiwa alamiah belaka. Tak ada yang terlibat selain apa yang ada di alam, di dunia ini.

Pemuda tampan rupawan itu memandang jauh ke sebuah jauhar di suatu senja. Ia tak lagi yakin dengan dewa-dewanya. Tak ada murka dan perkenan dewa. Tak ada dewa. Yang ada hanyalah peristiwa alami bersifat keduniawian yang bisa dijelaskan tanpa perlu melibatkan dewa-dewa itu. Meski raja akan menghukum dirinya karena kesimpulan-kesimpulannya, Mas Aris yakin dan teguh tak akan mengubah pandangannya.

                                                                                ***

Berpuluh abad kemudian, orang-orang meyakini, memercayai, bahwa dongeng tentang ayam dalam 21 gambar Mas Aris di masa lalu itu ialah satu-satunya jalan bagi manusia untuk menggapai kebenaran. Manusia tidak akan mencapai apa pun selain dari yang ia usahakan, selain berusaha dengan apa yang ada pada dirinya. Di luar dirinya dan alam semesta, tak ada apa pun. Kalaupun ada, manusia tak dapat mengetahuinya secara pasti, ia hanya dapat mempercayai tanpa pembuktian yang di luar alam itu. Kepercayaan yang terlepas dari pengetahuan. Dan pun pengetahuan yang dibebaskan dari kepercayaan.

Perlahan sains itulah yang menjadi semacam kepercayaan. Sains diyakini dan dianggap benar dan hanya itu yang benar. Di luarnya tak ada apa pun. Matematika, biologi, kimia, sosiologi, dan segala pengetahuan hanyalah berkaitan dengan alam dan hanya dapat dipahami dengan cara-cara manusiawi belaka. Manusia sendiri hanya dipahami sekadar badan dan akal pikiran. Inilah keyakinan yang lahir dari ketidakpercayaan terhadap apa pun di luar alam dan manusia sebagai pengetahuan.

Begitulah sains kemudian dipercayai oleh orang-orang modern, sebagai sebuah keyakinan ilmu pengetahuan dibangun di atas mitos. Tentu mitos tentang sains berbeda dengan mitos tentang dewa-dewa. Mitos dalam sains wujud dalam dogma bahwa yang ada dan dapat diketahui adalah hanya yang dapat dibuktikan oleh kemanusiaan (akal dan pancaindera). Mitos lainnya ialah bahwa manusia tidak memiliki perangkat lain selain akal dan pancaindranya untuk menggapai kebenaran. Orang-orang peyakin sains juga memungkiri wahyu sebagai sumber pengetahuan. Mereka akan mencibir sinis pada keyakinan-keyakinan lain di luar dirinya. Mereka teguh memegang dogma, tak ada ruang bagi agama dalam sains mereka. Agama apa pun. Baik agamanya Mas Aris maupun agamanya Mas Agus.

Keyakinan yang bebal terhadap sains secara prosedur tak jauh berbeda dengan kepercayaan terhadap dewa-dewa di masa Pemuda Aris. Prosedur yakin dalam jiwa keduanya ialah sama meski perangkat dan dasarnya berbeda. Jika dulu kebenaran diperoleh dari mimpi para dukun, para saintis mendapati kebenaran dari penelitian. Keduanya diyakini benar sebagai kebenaran dan kebenaran lain di luar itu ialah tidak benar. Jika dulu para raja akan menghukum mereka yang tak percaya sebagai pendosa, kini para pemegang takhta keyakinan terhadap sains akan menuding tak ilmiah terhadap mereka yang berjalan di luarnya.

Kepercayaan yang dibangun dari 21 gambar pertumbuhan telur Mas Aris telah menjadi keyakinan yang menahun, mengabad, kemudian melapuk dan menekan kemanusiaan. Mengasingkan manusia dari kekudusan yang lampus. Kudus yang tak terlihat di bawah mikroskop tetapi selalu ada. Kebenaran-kebenaran yang lebih hakiki sebenarnya tak dapat diperoleh baik dengan keyakinan Mas Aris maupun keyakinan para raja terhadap dewa-dewa.

Yang hakikat dan abadi ada di kebenaran sejati. Berasal dari Yang Mahabenar dan dapat diketahui dengan cara-cara yang diperkenankan Sang Mahabenar itu. Atau itu diperoleh sebagai pemberian dengan kasih sayang dan perkenan Sang Mahabenar kepada insan yang siap dan Ia kehendaki.

Berabad hal ini diabaikan tetapi selalu dirindukan. Manusia senantiasa merindukan cinta pada yang hakikat. Namun, sains model Aris dan para pengikutnya sepanjang abad telah menyekat rindu cinta itu.

Saatnya menjemput rindu itu ….


Tulisan Terkait (Edisi Alam)

IKLAN BARIS