• Ikuti kami :

Delman dari Masa ke Masa

Dipublikasikan Senin, 23 Januari 2017 dalam rubrik  Cerita Foto

Pada awalnya, delman ialah kendaraan para ambtenaar. Hanya orang-orang yang punya, banda, sugih, yang bisa punya delman. Ngurus kuda sama bayar kusir tentu tidak murah. Delman merupakan lambang gengsi. Memilikinya berarti menunjukkan kemampuan berharta yang tinggi. Para pejabat, tuan tanah, dan orang-orang kaya yang biasanya punya delman.

Tapi kemudian hadir mobil. Oto kata orang Melayu dan motor kata orang Medan. Juga kendaraan-kendaraan lain seperti trem dan kereta api. Delman mulai turun gengsi. Pakai delman jadi searti dengan tak mampu beli mobil. Delman menjadi simbol rakyat kecil. Orang-orang kampung yang enggak punya kemampuan buat pakai dan beli mobil.

Lama-lama delman dilarang masuk jalan raya. Kendaraan bertenaga makhluk hidup itu hanya boleh ada di kawasan-kawasan tertentu. Di jalan-jalan protokol, tidak boleh. Alasannya karena lajunya lambat dan kelakuan si kuda yang sering tidak sopan, buang hajat di tengah jalan menimbulkan bau tak sedap dan mengganggu pandangan mata.

Sebenarnya dua alasan itu juga bisa disandangkan kepada kendaraan bermotor yang ada sekarang ini. Lambat jalannya karena sering macet, dan polusi udara gas CO, CO2, dan NO2. Kalau delman tidak boleh beredar di jalan raya karena jalannya lambat dan menghasilkan bau tak sedap, kendaraan-kendaraan bermotor zaman sekarang seharusnya diperlakukan dengan sama.

Meski diperlakukan dengan tidak adil, delman tetap ada. Setelah jadi lambang gengsi, dianggap simbol kekampungan, kini delman dijadikan ikon pariwisata. Segala yang telah disingkirkan dan “kalah” bisa dikirim museum. Bisa dikunjungi dan dikenang.

Sumber gambar: Majalah Life


Tulisan Terkait (Edisi Kota)

IKLAN BARIS