• Ikuti kami :

Daripada dan Siapa Tahu: Politik Darurat Melulu

Dipublikasikan Kamis, 02 Februari 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Menyoal politik hari ini, bagaimana sikap kita semestinya? Pertanyaan itu bukan remeh dan tidak perlu. Soal politik, agaknya para pelaku di dunia ini punya sebuah rumus baku. Rumus itu adalah logika ‘daripada’ dan logika ‘siapa tahu’. Dua rumus baku ini diterapkan pada semua tingkatan politik.

Logika ‘daripada’ dan logika ‘siapa tahu’ masing-masing digunakan untuk dua jenis keadaan yang biasa dialami oleh umat Muslim secara politik. Jika ada lawan tangguh, dan kita merasa mampu untuk melawannya, maka logika ‘daripada’ digunakan. Kalau sudah apes betul kekuatan kita, paling banter hanya beberapa persen peluangnya, maka logika ‘siapa tahu’  yang dikedepankan.

Yang pertama soal ‘daripada’. Misalnya “Daripada dikuasai antek Yahudi!” atau “Daripada dikuasai orang komunis!”. Itu dua contoh penggunaan logika ‘daripada’ dalam kalimat. Tentu saja dua kalimat ini adalah abstraksi dari tindakan politik keseharian kita. Tanpa sadar, di mata kita Yahudi itu sosok yang menakutkan. Kita khawatir betul kalau politik kita dikuasai antek-antek mereka.

Kekhawatiran ini malah membuat kita harus menghadapi pertanyaan penting: mengapa kita harus takut? Apa kita pasti akan kalah terhadap orang-orang itu? Apa kita tidak yakin bahwa kita adalah umat yang terbaik? Allah Swt dan Baginda Nabi Saw, lho yang mengatakannya. Situ nggak percaya sama firman Allah dan perkataan Nabi?

Begitu pula soal orang-orang komunis. Di Indonesia ini, orang-orang PKI itu punya sejarah yang memilukan. PKI itu berani melawan kita tapi kalah terus, padahal kita nggak pernah menang. PKI ternyata tidak garang. Malah cenderung lucu. Sering kelihatan galak sambil keseringan merengek. Sampai ke Belanda rengekan mereka. Marxist macam apa yang merengek begitu jauh. Pejuang proletar kok jalan jauh-jauh cuma untuk merengek.

Lihat Karl Marx, pengangguran, pemabuk, gagal jadi suami dan ayah yang baik. Diri dan keluarganya hidup dengan santunan Frederich Engels, temannya. Apa enggak kasihan kita melihatnya?

Lantas, kemudian kita takut sama orang-orang semacam itu? Celaka!

Yang kedua, perkara ‘siapa tahu’. Biasanya ini kita gunakan kalau sudah apes betul. Sudah tidak ada jalan yang lain, menjelang putus asa. Kalau sudah dihitung-hitung kekuatan kita lemah sekali, tidak ada lagi jalan keluar, ‘maen politik’ tinggal berharap apa adanya. Siapa tahu bisa menang. Logika politik ini bermain dengan bahan ‘untung-untungan’ dan ‘nasib-nasiban’. “Siapa tahu orang Yahudi bisa kalah”, “siapa tahu komunis bisa gagal bercokol di bumi pertiwi ini”,  itu dua contoh kalimat yang menggunakan ‘siapa tahu’ sebagai logika. Siapa yang tahu? Wong untung-untungan begitu. Tidak ada ikhtiar manusia yang mumpuni di sini. Itu menyedihkan.

Keadaan tersebut hadir karena keadaan darurat yang sepertinya selalu menimpa kehidupan politik kita. Kedaruratan politik ini sudah berlangsung lama, setidaknya dimulai dari awal reformasi. Kira-kira 18 tahun kita menghadapi masa darurat politik di tubuh umat Islam. Ini darurat yang kelamaan. Kalau begini, namanya darurat permanen.

Kenapa bisa begitu? Ada banyak sebab, sebab luaran dan sebab dalaman. Sebab luaran adalah sebab yang muncul dari luar tubuh umat Muslim. Ya soal Amerika, kapitalisme, dan lain sebagainya. Sebab dalaman itu adalah sebab yang muncul di dalam tubuh kita, umat Muslim sendiri. Soal ukhuwah, kemampuan berpikir, dan keberanian kita. Hal-hal itu perlu kita perhatikan dan kaji dengan baik.

Sebab luaran itu meskipun besar, tetapi bernilai cenderung tetap. Memang dari dahulu orang Yahudi sama orang komunis sikapnya begitu. Seperti setan, selalu menggoda manusia dengan kekuatan yang tetap. Yang bikin setan menang atau kalah, karena sikap kitanya sendiri.  Sikap kita ini adalah unsur dalaman. Kita bisa bayangkan kalau kita kuat secara politik. Kesatuan kita sepadu, kita berani bersikap tegas, pintar dan cerdas. Jangankan Yahudi atau Komunis, setan aja kabur ngeliat orang Islam bersatu.

Itu pernah terjadi di Indonesia abad lalu. Orang-orang Islam saat itu, banyak yang pintar, banyak yang jadi tokoh hebat. Itulah datuk-datuk kita. Mereka memiliki kemampuan, keberanian, dan semangat keakuran antarmuslim yang kuat, meskipun ada lah pertikaian kecil sedikit-sedikit.

Soal kemampuan, misalnya, disuruh perang lawan penjajah, orang-orang Islam zaman itu langsung perang, tanpa tawar menawar. Biarpun, untuk mengalahkan satu orang serdadu kompeni dibutuhkan lima nyawa orang Aceh, disanggupi. Mati syahid. Berpeluang masuk Surga.

Disuruh mikir? Datuk-datuk kita dulu, sekali berpikir hasilnya rancangan undang-undang dasar yang baru, untuk menggantikan UUD 1945, yang saat itu dianggap sebagai undang-undang sementara republik ini. Kejadiannya pada sidang Dewan Konstituante tahun 50’an dulu. Di saat kelompok ideologi yang lain masih kebingungan mencari rumusan dasar negara, persatuan nasional, dan kerakyatan, datuk-datuk kita sudah melangkah lebih maju, membuat rancangan undang-undang dasar. Sayang disikat dekrit 59.

Begitulah para datuk kita. Disuruh perang jago, disuruh mikir jago.

Beda dengan kita, disuruh mikir, susah. Disuruh melawan, paling cuma bentangin spanduk. Sekali ada yang berani, malah suka ngebom saudaranya sendiri. Bikin malu.

Kita sekarang cuma unggul perihal berkelahi sesama kita sendiri. Kita bisa saling berkelahi dengan khusyuk, tuma’minah, dan sempurna rukun dan syaratnya tanpa campur tangan Yahudi sama komunis. Bahkan komunis udah bubar kita masih juga berantem. Sampai komunis mau bangkit lagi. Mungkin mereka gatel ngeliat kita berhantam mulu. Jadi pengen ikutan. Makanya bangkit lagi.

Kita sering berupaya mempertahankan kemalasan berpikir. Setiap yang berfikir kita tuduh tidak konkret. Akhirnya kita berpikir sekenanya. Soal ‘daripada’ dan ‘siapa tahu’ sebenarnya menunjukan kemauan berpikir kita yang pas-pasan ini. Itu jadi sangat bermanfaat dalam menghadapi situasi darurat politik yang kita buat sendiri.

Kita mungkin terbiasa untuk bertindak secara politik, tapi lupa dasar filsafat politiknya. Kita biasa untuk berpusat pada pembangunan kekuasaan, tapi khilaf tentang hakikat kekuasaan. Kita membangun dengan cara lupa. Amnesia terhadap konsep para datuk kita, juga sejarah kita.

Kita perlu keluar dari keadaan-keadaan sedemikian. Sudah saatnya kita tidak hanya bergerak tetapi juga menggali khazanah politik kita. Kita musti melihat kembali karya-karya agung di bidang politik, khususnya karya Nuruddin ar-Raniri, Raja Ali Haji, Teungku di Mulek, dan masih banyak lagi.

Kita bisa berbenah, mengikuti jalan hidup para datuk kita dahulu. Jarak waktu kita dengan mereka sekitar 140 tahun kisarannya. Rentang waktu sebegitu tidak jauh. Kesan sejarah itu mestinya tertanam pada benak kita. Kita musti teruskan usaha mereka, melengkapi yang kurang, dan memperbaiki yang keliru (kalau ada).

Kita bisa, asal mau usaha.

Tulisan Terkait (Edisi Politik)

IKLAN BARIS