• Ikuti kami :

Dari Mulut Ke Jempol: Soal Kita dan Perujaran Sehari-hari

Dipublikasikan Selasa, 24 Januari 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Beberapa waktu lalu, mungkin sekitar 10 atau 15 tahun yang lalu, mulut ialah bagian tubuh utama yang digunakan untuk merujuk istilah berbicara. Mulutlah alat perujaran utama dalam kehidupan. Kita mengenal istilah “mulutmu harimaumu” atau “beradu mulut”. Yang pertama tidak diujarkan dengan maksud menyatakan mulut bercorak belang. Harimau ialah penamsilan dari ‘buas’, ‘ganas’, ‘berbahaya’. Apabila kita tak mampu menjinakkan mulut kita (“harimau” kita) tentu malapetaka akan menimpa. Sementara yang kedua (beradu mulut) tentu bukan bermakna mengadu organ tubuh yang letaknya di bawah hidung itu, tak pula berarti berciuman. Itu artinya bercekcok, seistilah dengan “perang mulut”.

Dua istilah di atas menunjukkan dominasi mulut dalam perujaran sehari-hari kita. Perujaran keseharian kita lebih sering diucapkan melalui mulut. Kalau kita kesal pada tukang becak yang mengambil jalan seenaknya, kita akan berujar dengan mulut kita: “dasar tukang becak nggak tahu aturan!” Andaikan ada orang menghina agama kita, kita datangi dia dengan parang lalu kita berujar: “Rayimu koyo asu, tak patani kon!” setelah itu kita bacok dia, orang penista itu mati dan kita masuk penjara. Kalau kita sayang sama seseorang, kita bilang “Kawulo tresno dumatheng panjenengan!”

Semuanya diucapkan dengan mulut. Perasaan, kilasan pemikiran, maksud, disampaikan secara lugas dan terbuka, sebagian besar langsung di hadapan muka orangnya. Agak muskil kita kesal kepada tukang bajaj lalu mencari tahu nomor telepon itu tukang bajaj, terus kita telepon dia hanya untuk mengucapkan “Emang ni jalan punya nenek moyang lu?”

Pada intinya, kita ialah manusia yang 20 tahun lalu lebih banyak berbicara dengan mulut kita. Kecuali orang yang usianya belum sampai 20 tahun, dahulu kita lebih sering berbicara daripada facebookan, WA-an, atau twitteran. Bahkan orang yang pendiam sekalipun ketika itu lebih banyak berbicara pakai mulut daripada menulis ujar-ujaran di media sosial. Waktu itu Facebook belum ada. Jadi orang yang pendiam tidak dapat berujar di Facebook.

Akan tetapi, kini terjadi pergeseran yang lumayan besar. Berujar tidak hanya dikuasai oleh mulut. Alat perujaran kita bertambah satu: jempol! Di tengah jalan, ketika enak-enaknya naik motor, tiba-tiba kita disalip tukang becak, jalan kita dirampas secara semena-mena oleh tukang becak. Ada kejengkelan, tapi kita tidak berteriak atau menelefon tukang becak itu. Kejengkelan itu kita ungkapkan di media sosial dengan menggunakan telepon pintar. Bukan mulut yang berucap mengeluarkan suara tetapi jempol yang mengetik huruf-huruf: “Astagfirullah, baru aja disalip tukang becak. Dasar tukang becak ngga ngerti Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan! Mudah-mudahan itu tukang becak bisa naik haji.”

Sekitar 20 atau 30 detik kemudian, kita buka kembali telepon pintar kita. Melihat berapa orang kawan yang menanggapi ujaran kita. Lantas kita bersama-sama membincangkan tukang becak, undang-undang lalu lintas, polisi, negara, harga bawang, dan lain sebagainya tanpa melibatkan tukang becak tersebut. Kita tidak mengujarkan kekesalan kita secara langsung tetapi mengetiknya dengan jempol (atau jari-jari yang lain). Tukang becak tersebut tidak mendengar kekesalan kita secara langsung. Apabila tukang becak tersebut memiliki telepon genggam pintar, mungkin ia akan membacanya (melihat keluhan kita) setelah keluhan itu menjadi gulungan informasi yang menyebar ke mana-mana. Misalkan ada 3.000 orang menyebarkan ulang keluhan itu dan sampailah ia pada tukang becak tesebut. Melalui telepon pintarnya, dengan jempolnya yang penuh otot-otot perjuangan, tukang becak itu turut pula membagikan keluhan kita dengan ditambahi pengantar: “Mari menjadi tukang becak yang baik dan mengerti undang-undang. Hindari menyalip pengendara motor ketika narik becak! Jadilah tukang becak yang bermartabat dan beradab!”

Ada yang tak tersampaikan. Tukang becak itu boleh jadi tak pernah menyadari bahwa yang kita kesali dan kita keluhkan ialah dia itu. Di media sosial, yang disindir bisa jadi tak merasa tersindir dan malah bergabung menjadi penyindir. Di media sosial, kita terlindungi dari tatapan mata, gurat-gurat watak wajah, juga ungkapan rasa yang terejawantah melalui suara dan gerak tubuh lainnya. Kita saling berujar tetapi masing-masing seperti bersembunyi di karung-karung pertahanan dalam perang. Dalam perang di masa kini, para tentara saling menembak dari jarak jauh, hendak saling membunuh, tetapi mereka tidak pernah saling mengenal dan memahami. Tidak lagi bertinju langsung adu jotos. Para tentara bertiarap dan bersembunyi di balik karung goni pertahanan mereka. Dan kita bersembunyi di balik layar telepon genggam kita, di balik layar komputer kita.

Rasanya ada yang meluntur di antara kita. Mutu perujaran sesama kita semakin menurun. Kita telah lama tak saling berbicara. Mungkin juga telah lama tak bertemu. Hanya saling membaca kata-kata di balik layar-layar pintar di kuasa jempol dan jari-jari kita. Seperti tentara-tentara yang bertiarap di balik karung-karung perlindungan. Ingin membunuh sembari menghindar dari keterbunuhan. Apakah kita masih bisa bertukar kata menyampaikan makna, saling menyatakan maksud untuk saling mengerti? Ataukah kita telah lama tak tahu cara untuk saling mengerti, seperti tukang becak dan pengendara motor dalam cerita tadi?

Mulut kita lebih sedikit berkata-kata. Jempol-jempol lebih banyak bergerak. Alat-alat untuk saling berbincang semakin mencanggih, kita bisa saling berbicara kapan saja dan di mana saja. Jarak dan waktu telah melumer dan seolah tak menjadi persoalan. Tetapi masalahnya bukan jarak dan waktu. Ini tentang perujaran kita yang tak lagi saling mengangkut makna yang kuat, tak lagi saling menukarkan pengertian secara mendalam. Kita telah sibuk dengan masing-masing diri dan mutu kesalingmengertian kita semakin merosot. Kebermaknaan ujaran kita semakin mendangkal. Kita semakin sendirian di tengah jutaan ujaran yang mengapung-ngapung di telepon genggam pintar kita.


Tulisan Terkait (Edisi Kota)

IKLAN BARIS