• Ikuti kami :

Dari Hamka untuk Para Pembayar Zakat

Dipublikasikan Jumat, 23 Juni 2017 dalam rubrik  Perbendaharaan Lama

Setiap akhir bulan Ramadan, orang Islam (yang mampu) diwajibkan membayar zakat. Orang menyebutnya Zakat Fitrah. Toa-toa masjid tak pernah lelah atau letih mengingatkan kewajiban ini. Seperti mana zakat itu berarti bagi kita? Uraian Buya Hamka berikut tentu dapat menebalkan makna zakat kita hari ini. Mudah-mudahan kita dapat berzakat dengan pemahaman yang lebih tebal. Sebab zakat bukan perlombaan prestasi atau urusan industri, ia penyuci jiwa dari kebakhilan, jangan dimain-mainkan, jangan dibisnis-bisniskan.

Berikut pandangan Buya Hamka mengenai zakat. Kami kutipkan dari Majalah Kiblat, No. 5, Tahun XXI, Agustus 1973, halaman 18-19. Redaksi menyalin dan melakukan penyuntingan sewajarnya terhadap tulisan asli dalam majalah Kiblat.

Mari menyimak uraian tokoh kita yang penuh anjuran dan nasihat bagi batin ini:

***

Zakat dan Hak Perorangan

Buat menghadapi soal hak mencari rezeki dan hak perseorangan itu, agama Islam mengadakan peraturan yang bernama zakat, yaitu satu di antara Rukun (tiang) Islam yang lima. Zakat adalah rukun, tempat tegaknya agama Islam yang ketiga, dengan arti bahwa keislaman tidak sah, kalau orang yang patut berzakat tidak berzakat. Zakat menunjukan, bahwa agama Islam bukanlah agama yang semata-mata ibadat diri dengan Tuhan saja, tetapi hubungan di dalam masyarakat bersama, termasuk satu tiang ibadah pula.

Cinta kepada harta benda adalah tabiat manusia. Walau bagaimana peraturan di negeri kapitalis atau di negeri komunis, namun segala manusia tetap cinta akan harta. Merampas rasa cinta kepada harta, adalah membawa manusia keluar dari tabiatnya. Untuk menjadikan cinta kepada harta berjalan di tengah, jangan merusak orang lain dan jangan merugikan diri sendiri, Islam menganjurkan lebih dahulu perangai pemurah, dan mencela sifat bakhil.

Sebab itulah diadakan peraturan zakat, bagi siapa hartanya telah mencukup nisab dan genap bilangan tahun. Zakat artinya pembersihan, yaitu pembersihan harta dari dakinya dan pembersihan jiwa dari penyakit bakhil yang sifatnya dari sifat egoistis, mementingkan diri sendiri yang menyangka dengan bakhil itu kekayaannya terpelihara, padahal miskinlah dia karena kedudukannya dalam masyarakat tidak terhormat lagi.

Zakat adalah pengorbanan yang tidak boleh tidak untuk masyarakat. Siapa yang bertambah tinggi jiwanya boleh ditambahnya dengan sedekah sunnat, derma, wakaf, hadiah dan hibah. Seumpama sembahyang, yang wajib ialah yang lima waktu; dan siapa yang ingin lebih utama, boleh tambah dengan sembahyang-sembahyang sunnat berbagai ragam. Berapa suka dan sanggup.

Firman Allah:

Barangsiapa dapat membersihkan kebakhilan dirinya itu, itu lah orang yang berolah kemenangan (Qur’an 59:9).

Kebakhilan menyakitkan hati sendiri dan mempersempit alam tempat tegak. Demawan menyebabkan terhubungnya tali masyarakat ramai.

Zakat adalah sebagai pertolongan bagi si fakir dan si miskin atau si buruh yang berhajat kepada pembahagian itu. Tiap-tiap tahun ada hak yang akan wajib mereka terima dari pada si kaya. Aturan yang demikian menghilangkan rasa benci dan perasaan renggang, mendekatkan silaturrahim. Kalau sekiranya mereka tidak pernah beroleh bahagian dari pada si kaya itu sekali jua, di luar dari pada bekas cucur peluhnya, timbullah perasaan si miskin bahwasannya orang kaya itu tidak lain daripada penghisap daran dan pencucut benak, karena hanya mau menerima tetapi tidak mau memberi. Padahal kekayaan yang diterima oleh orang kaya itu, sebahagian besar dikumpulkannya dari pada cucur peluh si miskin.

Kalau terlah terbit renggang, timbul kebencian, terbentang jurang yang memisahkan di antara si kaya dan si miskin, timbul percederaan buruh dengan majikan, timbul perebutan kepentingan. Inilah yang senantiasa menjadi sebab permusuhan dan kebencian, merusakan diri, harta dan anak, sampai merusakkan kepada keamanan dan ketentraman umum. Itulah pula sebabnya maka tumbuh pergerakan komunis itu di negeri-negeri yang demikian. Pengangguran bertambah menjadi, kaum modal bertambah senang! Tetapi senantiasa terancam.

Zakat yang dikeluarkan oleh si kaya kepada si miskin setiap tahun itu, menimbulkan pertanggungjawaban di dalam hati si miskin tadi untuk memelihara harta si kaya dan turut menjaganya, sebab dia pun turut berkepentingan atas harta itu. Kepada si kaya diberikan pula bujukan oleh Tuhan:

Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya pada jalan Alalh adalah seumpama suatu biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, satu tangkai menumbuhkan 100 buah; dan Allah akan melipatgandakan lagi untuk siapa yang dikehendaki-Nya (Qur’an 2: 261).

Harta zakat termasuk juga sabilillah, karena dikeluarkan lantaran mengikuti perintah Allah. Yang dijadikan Tuhan ilah yang sebiji akan menumbuhkan tujuh tangkai, setangkai menumbuhkan 100 buah. Tetapi yang tidak dijanjikan, yakni yang akan dianugerahkan lebih dari itu, ada pula, yaitu menurut keikhlasan hati yang beramal itu juga.

Pengeluaran zakat itu menimbulkan belas kasihan di dalam hati terhadap saudara sesama manusia, yang tidak jaya di dalam hidupnya. Hajatnya dilepaskan, utangnya dibayarkan, hatinya pun gembira. Di dalam Islam ada satu pendidikan dimasukkan Nabi Muhammad, yaitu hendaklah seorang Muslim merasa beruntung hidupnya kalau dapat memasukkan kegembiraan ke dalam hati sesamanya Islam.

Orang bertanya kepada Rasulullah: “Siapakah manusia yang paling engkau kasihi ya Rasulullah?”

Jawab beliau: “Manusia yang sanggup memberi manfaat kepada manusia”.

Tanya orang pula: “Apakah amalah yang lebih manfaat itu?”

Jawab beliau: “Memasukkan suka cita ke dalam hati sesama mukmin”.

Tanya orang itu: “Dengan jalan manakah memasukkan gembira itu?”

Jawab beliau: “kenyangkan makannya, lapangkan kesempitannya dan bayarkan hutangnya”.

Satu kemulian budi yang sejati!

Mengeluarkan zakat itu adalah suatu kesyukuran yang bukan saja diucapkan dengan mulut oleh si kaya, tetapi diikuti dengan perbuatan, atas nikmat Allah kepadanya, lantaran dia telah diberi nasib baik; maka untuk membuktikan itu, diberikannya sebahagian kecil dari pada harta itu kepada orang-orang yang masing menanggung sakit, sehingga timbul insyaf dalam hatinya bahwa kalau sekiranya dia tidak mendapat harta itu, akan samalah nasibnya dengan orang-orang yang diberinya sekarang itu. Maka bilamana harta sakat dikeluarkan dengan perasaan syukur, Allah berjanji akan memberinya pula berlipat-ganda:

Jikalau kamu bersyukur, demi akan Kami tambah harta itu; tetapi jika kamu ingkar, sesungguhnya azab Kami itu amat sangat (Qur’an 14:7).

Dengan adanya peraturan zakat, Tuhan menghidupkan perasaan cinta mencintai dan hidup sama rata di antara si fakir miskin dengan si kaya. Seluruh dunia Islam dikumpulkan di bawah satu rumah tangga, orang tua yang jadi ayahnya; yang membimbing tangan si fakir, melapangkan kesempitannya, dan mengurangi golongan peminta-minta dan pengemis dalam kalangan mereka. Dengan itu timbul semangat persatuan dan semangat bertolong-tolongan.

Pengeluaran zakat itu adalah guna pembentukan batin, peneguhan iman dan penguatan kekayaan. Karena sudah terang bahwa harta itu saudara kandung dari nafsu. Mengeluarkan berat bagi hati, lebih berat dari sembahyang dan puasa. Maka bilamana diri telah biasa menafkahkan barang yang paling dicintai, padahal tidak ada yang paling dicintai di dunia ini melebihi harta, maka dia menjadi seorang yang budiman tinggi, yang murah baginya menghadapi segala macam pengorbanan di dalam kesucian hidup ini:

Perumpamaan orang yang menafkahkan harta mereka, karena mengharapkan wajah Allah dan untuk peneguhkan hati mereka sendiri, adalah laksana kebun di tanah subur, datang hujan lebat, maka timbullah buahnya dua kali lipat ganda. Jika pun hujan tak turun, maka dia pun subur juga (Qur’an 2: 265).


Tanahnya memang telah subur juga, yaitu karena Allah, disiram pula dengan maksud meneguhkan hati, tentu berganda lipat hasilnya. Sedangkan tidak disiram dia memang telah subur dasarnya.

Pengeluaran zakat adalah memelihara harta dari pada keluar kepada yang tidak berguna. Harta mesti dibelanjakan, kalau tidak terbelanja kepada kesucian, tentu dia terbelanja kepada kemunkaran. Dan itu akan membawa sengsara diri dan jiwa:

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak, tidak dinafkankanya kepad jalan Allah, maka beri kabar sukalah mereka dengan azab yang pedih.

Di sini nyatalah perbedaannya teori komunis tadi dengan Islam. Dalam komunis “Harta kepunyaan bersama, hasilnya untuk sendiri-sendiri”

Di dalam Islam: “Harta kepunyaan sendiri, hasilnya tiap-tiap tahun dimakan bersama-sama”

Kemajuan Masyarakat dalam Islam

Peraturan mengeluarkan zakat dalam rukun Islam itu, membuktikan bahwa Islam memberikan perncaharian rezeki bagi tiap orang dengan syarat yang pasti dan peraturan yang tertentu, yaitu si kaya wajib mengeluarkan sekian persen dari pada hartanya untuk fakir, miskin, ibnu sabil, sabilillah, pendeknya kepada delapan jenis.

Hikmah-hikmah dan rahasia-rahasia yang terkandung di dalamnya dapat pula dipelajari dengan seksama.


Tulisan Terkait (Edisi Ramadhan)

IKLAN BARIS