• Ikuti kami :

Cina Benteng yang Tidak Kayak Cina

Dipublikasikan Kamis, 16 Februari 2017 dalam rubrik  Cerita Foto

Kapal rombongan Tjen Tjie Lung, saudagar Cina dari wilayah Fukkien, hampir sampai di pelabuhan Jayakarta pada 1407. Tapi kapal mereka rusak sehingga harus berlabuh di muara Sungai Cisadane (sekarang Teluk Naga), daerah kekuasaan Sunda Pajajaran. Tjen, ditemani sembilan gadis dalam rombongan, lantas menghadap penguasa setempat, Sanghyang Anggalarang, untuk meminta bantuan.

Saat menghadap penguasa Pajajaran, Tjen beroleh tawaran sebidang tanah asalkan dia mengizinkan gadis bawaannya menjadi istri penguasa setempat. Tjen menerima tawaran itu dan memperoleh sebidang tanah di sebelah timur sungai Cisadane. Kemudian sebagian rombongan tinggal di tanah ini dan menikahi perempuan setempat. Kawin-mawin selama beberapa puluh tahun. Ini menjadi gelombang awal pemukim Cina di Tangerang. Begitu kisah sohor tentang muasal Cina Benteng (Cibet) di Tangerang menurut Tina Layang Parahyang, kitab sejarah Sunda. Hingga akhirnya bangsa Eropa menginjakkan kaki di kampung mereka dan mengubah garis hidup mereka.

Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) menduduki wilayah muara Cisadane pada abad ke-17. Mereka mendirikan benteng—dinamakan Benteng Makassar—untuk melindungi wilayah itu dari serangan musuh. Tapi benteng itu kini sudah rata dengan tanah.

Karena tak suka dengan aturan VOC, beberapa orang Cina keluar dari Benteng Makassar dan mendirikan permukiman di luar Benteng, antara lain di Sewan dan Kampung Melayu, Tangerang, sekarang. “Mereka berdiam di sana sejak tahun 1700-an. Di sinilah muncul istilah Cina Benteng,” tulis Suara Pembaruan, 18 Agustus 2005, mengutip Eddy Prabowo Witanto A, sinolog dari Universitas Indonesia.

Di Batavia, orang Cina juga menerima tekanan VOC. Puncaknya terjadi pada 1740. Huru hara menewaskan ribuan orang Cina. Sebagian orang Cina harus keluar tembok kota Batavia setelah huru hara itu. Mereka mencari permukiman baru. Salahsatu yang dituju adalah wilayah di sekitar muara sungai Cisadane. Mereka bergabung dengan orang Cina yang bermukim di luar Benteng Makassar.

Komposisi penduduk di sana kian kompleks. Kawin-mawin terjadi antar penduduk Cina setempat dengan orang Cina Batavia, antar orang Cina Batavia dengan penduduk tempatan. Akibatnya fisik mereka menjadi seperti orang-orang tempatan. Berkulit cokelat dan bermata lebar.

Akulturasi budaya juga tercipta. Baju pengantin keturunan Cina Benteng merupakan perpaduan budaya Cina dan Betawi. Selain itu, mereka mengiringi kesenian wayang cokek dengan irama gambang kromong khas Betawi (Lihat Wayang Cokek : Tradisi Lisan dan Pengelolaannya pada Masyarakat Cina Benteng, Tesis pada Program Studi Ilmu Susastra FIB-UI, karya Radjimo Sastro Wijono).

Keturunan Cibet pun berbahasa Melayu Pasar sesuai dengan bahasa Ibu kandung mereka. Mereka tidak bisa berbahasa Cina. Mereka juga bekerja sebagai petani, nelayan, dan peternak. Kondisi ekonomi mereka pas-pasan seperti kebanyakan penduduk setempat. Beralas hal-hal tersebut, mereka mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Indonesia. “Kami ini Indonesia asli karena yang melekat di tubuh kami ada juga keturunan Indonesianya,” kata Oey Tjing Eng, tokoh Cibet kepada Suara Pembaruan, 18 Agustus 2005.

Mona Lohanda, sejarawan dan arsiparis keturunan Cina Benteng, pernah mengisahkan kepada saya (Hendaru T.H.) tentang hubungan keturunan Cina Benteng dengan penduduk setempat. “Sangat harmonis,” katanya suatu ketika pada 2014 dalam wawancara untuk sebuah media tempat saya pernah bekerja. Leluhurnya memberi hadiah lebaran kepada orang Betawi Muslim. Pun sebaliknya saat imlek. Dia masih ingat ketika ayahnya diberi hadiah saat imlek. “Ketika warga datang ke toko Papa, mereka memberi kami oleh-oleh makanan ringan.”

Menurut sejumlah literatur seperti Kompleksitas Kemiskinan Tionghoa Benteng, disertasi pada Program Studi Pembagunan Universitas Kristen Satya Wacana karya E Purwanto, banyak Tionghoa Benteng yang hidup di bawah garis kemiskinan. Tak dipungkiri ada juga yang kaya. “Namun kenyataan di lapangan menunjukkan lebih banyak orang Tionghoa Benteng miskin daripada yang kaya,” tulis Edi Purwanto dalam disertasinya.

Sejarah Cibet menunjukkan kelompok keturunan Cina di negeri ini tak seragam. Mereka juga memiliki keunikan. Ada yang miskin, ada yang kaya, ada yang lantang menyatakan Indonesia, dan ada yang masih gamang mengidentifikasi diri mereka.

Sumber Foto :

http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced/start/60?q_searchfield=tangerang


Tulisan Terkait (Edisi Peranakan)

Populer

IKLAN BARIS