• Ikuti kami :

Charlie yang Saya Kenal

Dipublikasikan Jumat, 20 Januari 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Sudah menjadi ritual tahunan, Pak RT di tempat tinggal saya blusukan ke kediaman warga demi mengumpulkan iuran 17-an. Satu-satu penghuni rumah diminta kesediaannya untuk berkontribusi dalam pendanaan dan kepanitiaan. Termasuk keluarga saya dan tetangga di sekitar rumah saya. Seperti biasa, dengan ber-salam-lekum Pak RT terus teriak-teriak mengabarkan maksud kedatangannya. Kami memang sudah saling mengenal satu sama lain.

Agak lebih jauh dari rumah saya, ada dua-tiga barisan rumah mewah (cluster). Berbeda dengan perlakuannya kepada warga di sekitar rumah saya, di perumahan itu Pak RT berlaku lebih formal. Memencet bel, berbicara dengan penjaga gerbang perihal kedatangannya, menunggu beberapa belas menit di depan gerbang, dan bertemu pembantu rumah tangga rumah itu. Hasilnya? Keluarlah uang iuran yang sama jumlahnya dengan warga biasa. Tambahannya: tuan dan nyonya rumah berpesan tidak bisa ikut serta dalam kepanitiaan.

Siapa itu tuan dan nyonya pemilik rumah? Silakan tanya Pak RT. Hanya beliau itu yang pernah beberapa kali bertemu muka dengan mereka, warga di sini jarang yang tahu. Saya juga, sumpah mati, tidak tahu. Kenal bentuk mukanya saja tidak. Saya cuma numpang lewat di depan rumahnya. Itu juga kadang-kadang. Memang agak aneh hubungan antarwarga di tempat saya tinggal. Walau masih satu RT, warga di cluster-cluster itu seperti hidup terpisah dengan kami.

Hanya satu rumah di cluster itu yang penghuninya bisa saya sapa. Itu pun bukan pemilik rumah, melainkan Pak Herman  (satpam rumah itu) dan pembantunya: Charlie. Kalau saya lewat depan rumah itu dan kebetulan ada Pak Herman atau Charlie, saya biasa meluangkan lima sampai sepuluh menit untuk saling menyapa dan melempar guyon. Pak Herman tampak jarang bercakap-cakap karena kawan setianya hanya Charlie. Jadi, Satpam itu senang-senang saja kalau saya ajak ngobrol.

Saya amat terkesan dengan Charlie. Bertubuh tegap dan agak gelap, tampangnya sangar tapi hatinya lembut dan ramah kepada setiap orang yang dia kenal. Walau banyak kekurangan, tak membuatnya urung untuk berteman dengan banyak orang. Kalau saya lewat di depan rumah itu, biasanya Charlie duluan yang menyapa, baru saya balas sapa. Tidak mudah beromong-omong dengan Charlie. Bahasa jadi kendala.

Meski demikian, Charlie senang berteman dengan semua orang. Persis di samping cluster perumahan mewah itu ada sekolah kejuruan. Banyak dari sekolah itu yang akrab dengan Charlie. Bahkan, di antara anak-anak sekolah itu ada juga yang suka bercanda dengan Charlie. Charlie sayang kepada semua orang yang dia kenal baik. Sayang, tidak semua orang mau paham.

Bagaimana dengan majikan Pak Herman dan Charlie? Saya pernah ingin bertanya kepada Pak Herman perihal mengapa pemilik rumah tidak pernah terlihat berakrab-akrab dengan masyarakat sini. Tapi saya urung, tidak jadi. Takut Pak Herman nanti bilang, “Yah, aku ndhak tau. Ndhak berani nanya. Aku iki sopo, wong cilik. Ndhak parem kalo nanya begitu ke majikan.” Kan susah jadinya. Apalagi kalau saya tanyakan kepada Charlie.

Soal kebertetanggaan ini, saya pernah ngobrol dengan tetangga saya, Mas Giyanto namanya, seorang Jawa berkelakuan Batak. Maklum, dia ini kernet Metro Mini jurusan Pondok Labu-Blok M. “Aku sih ndhak masalah. Aku ini netralisme,” (soal istilah ini, jangan tanya saya apa maksudnya. Hanya Allah dan dia yang tahu maknanya) katanya. “Kalau ndhak ganggu aku, terserah. Kalau ganggu, tak sikat ….” Galak, ya? Tapi dia ini orang baik, sebenarnya. Kalau ngobrol sama dia, bisa terpingkal-pingkal kita dibuatnya.

Maka jadilah Pak Herman dan Charlie berperan sebagai duta besar perwakilan tuan dan puan empunya rumah. Terkadang saya menganggap Pak Herman dan Charlielah pemilik sebenarnya rumah mewah itu. Baik sekali Charlie itu. Kadang dia tak sungkan mengantarkan saya berjalan sampai beberapa meter dari rumah itu.

Duh, Charlie. Andai tuan dan puanmu sebaik kamu. Andai ….

Tetapi, Charlie hanya seekor anjing. Sebagai pejantan dari jenis Rottweiler, Charlie termasuk anjing baik di dalam bangsanya.

Nabi kita sering mengajarkan tentang baiknya bertetangga. Saling sapa dan saling menguatkan bangunan sosial satu sama lain. Perkataan-perkataan baik Nabi itu sering kita pakai untuk pemanis, sebagai ornamen kecil agar elok bicara, agar berbau surga. Pada kenyataannya, sulit sekali kita untuk saling berbagi kasih sayang dengan tetangga. Kalau berpapasan sambil menganggukkan kepala, itu sudah Alhamdulillah sekali. Dan kita sering kepala batu jika ditegur soal itu.

Barangkali, di sini pentingnya si Charlie ini. Allah mengirimkan Charlie kepada kita, sebagai teguran keras, sebagai pengingat, dan semoga kita mendapatkan pelajaran darinya. Karena kita sudah kepala batu, seekor anjing ditunjuk-Nya sebagai wasilah. Betapa malu kita. Charlie itu tidak mengerti agama. Ia tidak beragama. Ia tidak bisa berpikir. Yang bisa berpikir dan beragama itu, ya, manusia.

Tapi perbuatan si Charlie itu mirip dengan yang diajarkan Nabi Suci. Kita saja tidak sampai sebegitunya. Lantas, kita yang mengaku-aku umat Nabi Terakhir, hamba Tuhan Semesta Alam, makhluk yang terbaik, termulia, dan tertinggi ini, malah kalah sama si Charlie ini.

Tapi, beruntunglah kita, masih Charlie yang menjadi pengingat. Bayangkan kalau Abu Jahal yang menggantikan posisi Charlie, apa tidak belingsatan kita disapa Abu Jahal tiap ketemu?


Tulisan Terkait (Edisi Kota)

IKLAN BARIS