• Ikuti kami :

Politik dan Hakikat Manusia

Komunitas Nuun

Perihal hubungan politik antara pemerintah dengan rakyatnya, dalam kitabnya itu dianalogikan oleh Teungku di Mulek bukan sebagai hubungan antarmakhluk, melainkan hubungan intramakhluk. Ini menunjukkan bahwa sedemikian intimnya hubungan politik antara peme

Cerita Foto Tentang Penyemir Sepatu

Komunitas Nuun

Anak-anak itu penyemir sepatu. Mereka memilih mencari uang daripada sekolah. “Malas sekolah, Pak,” kata mereka. Pengakuan mereka, keluarga mereka terpencar. Orang tua tinggal di kampung, sedangkan saudara entah memperjuangkan nasib. Mereka dari keluar

Gedung Pencakar Langit dan Keangkuhan

Komunitas Nuun

Di balik gagahnya bangunan-bangunan megah itu tersembunyi kekerdilan jiwa-jiwa manusia. Juga mengerdilkan hakikat kemanusiaan. Padahal, gedung-gedung harusnya memanusiakan manusia.

Delman dari Masa ke Masa

Komunitas Nuun

Meski diperlakukan dengan tidak adil, delman tetap ada. Setelah jadi lambang gengsi, dianggap simbol kekampungan, kini delman dijadikan ikon pariwisata. Segala yang telah disingkirkan dan “kalah” bisa dikirim museum. Bisa dikunjungi dan dikenang.

Kuli-Kuli dan Ketakwaan Sosial Kita

Komunitas Nuun

Seorang kuli bongkar muatan berusaha naik ke bak truk dengan satu tangan.

Ngurus Kali, Ngurus Anak Cucu

Komunitas Nuun

Namun, selalu ada orang-orang silap. Mereka merusak pergaulan dengan alam. Mereka mengotori kali dan kanal. Kali dan kanal mulai terbebani segala rupa sampah. Alirannya mampat, warnanya keruh, ikan-ikannya mati, dan baunya busuk.

Menenggang Rasa Orang-Orang Susah

Komunitas Nuun

Ketimpangan nasib yang menganga di kota-kota selalu ada. Miskin dan kaya selalu menjadi kenyataan yang kadang menyakitkan. Si papa sering dipandang sebagai daki yang mengganggu kaum berada. Kumuh dan kotor, tak enak dipandang mata. Mesti disingkirkan dari

Alun-Alun dan Kerinduan Kita

Komunitas Nuun

Kota Malang pada tahun 1900. Anak-anak menjadikan taman sebagai tempat bermain. Teduh dirimbuni pohon besar, cocok menjadi tempat istirahat selepas bermain. Setelah itu, ya, bermain lagi. Waktu itu memang belum ada perda larangan injak rumput.

Air Bersih Mengalir Ke Mana? Wajah Dunia Ketiga Kota Jakarta

Komunitas Nuun

Pihak kumpeni pun berpikir keras untuk mengurusi hal ini. Selain soal Pitung, soal air bersih juga masalah yang mengganggu kewibawaan pemerintah kolonial.