• Ikuti kami :

Ismail Marzuki: Dari Lagu Perjuangan Sampai Ditabok Setan

Komunitas NuuN 384

ayahnya pernah menegur, “Eh, Il! Kalo magrib, jangan besuit. Ngga bae. Ntar ditabok setan!”

HAMKA dan Kisah Sederhana Tentang Cinta

Komunitas NuuN 415

Disadur dari buku HAMKA, Kenang-kenangan Hidup, Jilid 1 (Penerbit Bulan Bintang, 1974, hlm 29-31).

Ketika Buya Hamka Ditahan Orde Lama

Komunitas NuuN 546

Meskipun yakin tidak bersalah, tapi ketua MUI pertama ini akhirnya memilih untuk mengaku. Beliau memilih “mengaku” daripada disiksa, karena ia merasa lebih membutuhkan tangan dan otaknya agar tidak rusak. Jika tangan dan otaknya rusak, maka ia tidak a

Kelapa Sawit dan Perdebatan Tentangnya

Komunitas NuuN 425

Seorang pekerja perkebunan kelapa sawit pada masa kolonial

Pariwisata dan Bali

Komunitas NuuN 347

Konflik terjadi. Kali ini masyarakat tidak tinggal diam. Reformasi menumbuhkan keberanian mereka untuk melawan penguasa.

Cina Benteng yang Tidak Kayak Cina

Komunitas NuuN 514

Akulturasi budaya juga tercipta. Baju pengantin keturunan Cina Benteng merupakan perpaduan budaya Cina dan Betawi. Selain itu, mereka mengiringi kesenian wayang cokek dengan irama gambang kromong khas Betawi.

Anggota BPUPKI yang Ikut Serta Melahirkan Indonesia Merdeka dan Meninggal Sebagai Warga Negara RRC

Komunitas NuuN 431

Seperti Liem, banyak juga saudara peranakan Cina yang punya bakti kepada bumi pertiwi dengan tenaga, darah, dan airmata, meski terkendala banyak hal. Orang-orang Partai Tionghoa Indonesia membuktikan itu.

Jamiat Khair : Bentuk Perjuangan Pendidikan Orang-Orang Islam di Batavia Melawan Kolonial

Komunitas NuuN 396

Yayasan ini kemudian mendirikan sekolah-sekolah madrasah yang tidak melulu mengajarkan hal-hal yang berkaitan dengan agama saja. Kurikulum saat itu meliputi berbagai subjek: berhitung, sejarah (terutama sejarah Islam), ilmu bumi, bahasa Melayu, bahasa Ara

Partai Arab Indonesia: Usaha Turunan Arab dalam Menegakkan Kebangsaan Indonesia

Komunitas NuuN 370

Keterangan foto: Kongres PAI (Partai Arab Indonesia) ke-V di Jakarta, 1939, di Gedung Permufakatan, Gang Kenari. Yang berpidato di atas mimbar adalah MR Amir Syarifuddin mewakili GAPI (Gabungan Politik Indonesia), dalam badan mana PAI menjadi anggota.