• Ikuti kami :

Catatan Kecil HAMKA tentang Pernikahannya

Dipublikasikan Rabu, 13 Juli 2016 dalam rubrik  Cerita Foto

Sehabis kawin, usahakanlah melepaskan diri dari orang tua. Kasihanilah beliau. Hadapilah sendiri hidup itu, telanlah manisnya maupun pahitnya. Ketika dua orang manusia, seorang laki-laki muda dan seorang perempuan muda mulai dipertemukan dan diikatkan “ijab qabul”, berkerumunlah handai dan tolan, qarib dan ba’id, menunjukkan sukacita mereka atas pertemuan nasib itu.

Mulai waktu itu mereka telah menaiki sebuah perahu selodang kecil, dengan sebungkus nasi akan mengharung lautan kehidupan, atau bahrul hayat yang penuh ombak dan gelombang. Bersama-samalah seluruh kaum dan keluarga tadi tegak ke tepi pantai hendak mengucapkan “Selamat jalan”.

Oleh sebab hari masih pagi dan langit masih cerah, dan angin masih sepoi, naiklah kedua penegak hidup baru itu ke atas sampan selodangnya dengan riang gembira, hendak berlayar dengan penuh pengharapan. Maka mereka kayuhlah sampan selodangnya ke tengah mengharung laut, kian jauh tanah daratan, kian hilanglah dari penglihatan mata kaum keluarga yang tadi mengipaskan saputangan dari tepi pantai. Satu demi satu mereka telah mengundurkan diri.

Maka terapung-apunglah sampan selodang itu di tengah samudra; kecil di dalam bahana luasnya lautan. Di saat itulah kedua sejoli baru tahu apa artinya pelayaran.

Tanah daratan tak tampak lagi, untung nasib hanya bergantung kepada kepandaian mengayuh dan kepada perlindungan Tuhan.

Angin badai yang besar-besar pun turun, ribut tengah malam, tujuan kadang-kadang tidak nampak, maka tibalah masanya, tidak ada lagi tempat si istri bergantung, melainkan suaminya, dan tidak ada yang dipergantungi suami, melainkan istrinya. Bertahun-tahun, berlayar punya berlayar, tiba-tiba di kiri-kanan kelihatan anak-anak telah besar-besar; tanah tujuan telah nampak. Maka hilanglah apa yang dinamai cinta sebutan waktu muda, yang tersebab karena cantik rupa ataupun tampan badan. Rambut yang hitam menjadi putih, jengat yang tegang telah kendur, gigi telah habis. Tetapi kian hari terasalah puncak cinta yang tiada taranya, yang telah menjadikan satu dua jiwa yang terletak di dalam dua badan. Sehingga kadang-kadang raut muka pun telah disatukan, tidak ada perbedaannya lagi. Mawadah telah naik menjadi Rahmah.

Hamka, Kenang-kenangan Hidup (ii), Penerbit Bulan Bintang, 1974 (Cetakan ke-3, Cetalan Pertama1951), hlm 11—13

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

IKLAN BARIS