• Ikuti kami :

Bertemu Sesama Manusia di Warung Kopi

Dipublikasikan Ahad, 15 Januari 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Layaknya orang kampung, penghuni kota juga manusia. Ia perlu berhubungan dengan sesama manusia, butuh menjalankan fungsi kemanusiaannya. Walau dinamika hidup di perkotaan hanya memberikan ruang yang sempit untuk hal-hal yang seperti itu, keperluan akan pertemuan dengan manusia lain tetap diperlukan. Kita perlu pertemuan. Bukan bertemu sebagai pejabat, bukan sebagai pekerja, dan bukan sebagai pemangku kedudukan tertentu. Kita perlu bertemu sebagai sesama manusia. Pertemuan antarjiwa, antarhati. Siapa pun kita, dari Sahara atau Kutub Utara, kita perlu disayangi, perlu menyayangi, perlu dicintai, perlu mencintai, perlu diakui,  dan perlu mengakui.

Hiruk pikuk kehidupan kota yang menuntut manusia di dalamnya untuk menghasilkan terus-menerus, bersaing terus-menerus, membuat sebagian masyarakat urban mengalami krisis batin. Sudah mafhum hidup di kota terlalu mekanistis dan tidak melihat jiwa manusia sebagai hal penting. Suatu hal dianggap penting jika dapat menghasilkan nilai tambah. Nilai tambah memang selalu menjadi biang kerok kalau tidak ditempatkan dengan bijak.

Sangat sedikit sarana perkotaan untuk memupuk dan memelihara keperluan akan pertemuan ini. Salah satu yang sedikit itu adalah warung kopi. Orang kota biasanya menyebutnya sebagai kafe. Kita mengunjungi kafe untuk saling berbicara antarsesama, antarmanusia. Selepas jam kantor, ramai orang bertemu di warung-warung kopi itu. Kegiatan minum kopi mereka jadikan ajang bersosialisasi, bertemu kawan lama, mengobrol dengan kenalan, dan sebagainya. Kafe menjadi tempat melepas kepenatan setelah delapan jam bekerja. Di kafe, orang-orang dapat mengobrol santai antarmanusia, membicarakan apa saja, sebagai manusia—setidaknya niatnya begitu.

Tapi apakah sebenarnya demikian? Tidak selalu begitu. Para pengunjung kafe tidak dengan serta-merta dapat menunaikan kebutuhan kemanusiaan itu dengan baik. Jika kita mengunjungi sebuah kafe, apakah kita berani bertegur sapa dengan orang yang tidak kita kenal? Saya tidak berani. Saya tidak akan berani untuk menyapa mbak-mbak cantik di meja sebelah, apalagi kalau dia sedang bermesraan dengan pacarnya. Tidak, teman-teman, kita sulit untuk berinteraksi dengan semesta penghuni kafe. Kita hanya bisa—atau lebih tepatnya berani—beromong-omong dengan teman satu meja, kawan-kawan yang kita kenal.

Kepada pramusaji pun kita jarang bertanya dari mana asalnya, sudah berapa lama bekerja di situ, apalagi perihal sudah menikah atau belum. Perhubungan kita dengan mereka paling banter soal pesanan menu dan bayaran. Kita tidak bertukar senyum, saling asing, dan berjarak.

Ada memang interaksi antarmanusia di sana, tapi hanya pada masing-masing meja. Antarmeja, tidak. Satu kelompok meja dengan meja yang lain tidak saling mengenal, tidak saling memperhatikan, apalagi saling berbagi pengakuan dan kasih sayang. Masing-masing kelompok meja berdiri sendiri, punya dunia sendiri. Ditambah lagi dengan tawaran internet gratis yang menjadi standar pelayanan sebuah kafe, peluang untuk berinteraksi antarmanusia semakin menurun. Perhatian kita akan teralihkan kepada media dalam jaringan yang kerap memberikan kepalsuan. Di kafe, di keramaian, akhirnya kita sekadar sibuk dengan kesunyian kita masing-masing. Saling tak peduli dan berusaha untuk tak terlibat satu sama lain.

Tapi tidak semua begitu.

Di Tanah Abang, Jakarta, ada sebuah warung kopi. Orang-orang menyebutnya “Warung Kopi Kak Mila”. Di kedai ini orang-orang terbiasa saling menyapa dan disapa, mengenal dan dikenal. Kalau kita ke sana, kita harus saling mengucapkan salam kepada seluruh pengunjung kedai yang lebih dulu hadir, sambil bersalaman. Kepada yang punya kedai pun demikian. Kita saling memperkenalkan diri dan akhirnya ngobrol-ngobrol. Ikhwal pembicaraan yang diketengahkan bisa membuat kita berdecak kagum. Kita berbincang tentang Betawi, kebudayaan, Islam, sejarah Jakarta, masalah-masalah sosial, sampai pengelolaan kota yang baik. Para pengunjung bisa saling bertukar pengalaman satu sama lain. Keakraban dan kemanusiaan masih terawat baik di sana.

Tidak hanya menyesap kopi Tenabang yang nikmat, di warung ini para pengunjung juga menjalin tali silaturahim. Kabar-kabar beredar secara lisan, masa lalu dikisahkan dan ditularkan dari yang tua kepada yang muda. Kesadaran akan jati diri bersama sebagai warga (warga lokal Tanah Abang tentunya) dirawat bersama-sama dalam sekian perbincangan panjang. Dari mulai tokoh budaya, guru silat, ustaz, pedagang, pekerja, pendatang, penjaga keamanan bertemu bual dengan alami di tempat ini. Pertemuan antarsesama manusia dapat terjadi dengan sangat mengalir di Warung Kak Mila.

Warung ini tak pernah tutup. Jika pemiliknya telah lelah, ia cukup meninggalkan warungnya dalam keadaan terbuka. Jika malam-malam ada orang datang ke sana, mereka bisa membuat kopi sendiri dan menyelipkan uang di bawah tatakan kopi mereka. Keamanan, kebersihan, dan ketertiban tempat ini dirawat bersama-sama. Isinya bukan sekadar sarana, bukan sekadar kursi, meja, dan kopi yang diseduh. Di sana juga ada saling percaya, saling menjaga, dan kesadaran akan kepentingan bersama.

Di Aceh, meski tak mirip sepenuhnya, hal yang sama juga masih bisa ditemui. Kebetulan saya ini asal Aceh. Kami orang Aceh punya tradisi minum kopi. Tidak sembarang minum kopi, orang-orang Aceh ngopi di keudhee kupi. Tak hanya kopi dan pendampingnya saja yang ditawarkan, tetapi ada yang khusus, yang tidak akan ada jika hanya minum kopi di rumah: obrolan antarteman.

Kedai Kak Mila dan sekian keudhe kupi di Aceh, juga tradisi mengopi di tempat-tempat lain, sebenarnya ialah ruang pertemuan alami antarsesama manusia. Tempat begini bukan hanya kumpulan benda yang bisa digunakan manusia untuk menyesap kopi. Tetapi juga bisa menjadi pusat penyebaran informasi dari mulut ke mulut, kadang jadi tempat jual beli tanah, bisa jadi arena debat antarideologi, bahkan merupakan medan pertarungan pulitik yang sebenarnya. Bahkan, boleh jadi dua orang bapak menjodohkan anak-anak mereka di warung kopi.

Nongkrong di warung kopi berlama-lama kadang dianggap sesuatu yang tak baik. Orang-orang warung kopi kadang dianggap pemalas yang hanya buang-buang waktu. Kadang lekat dengan citra perjudian dan hal-hal coleng lainnya. Tapi, ya, itu tadi, tidak semua begitu. Warung kopi, kedai kopi sebenarnya merupakan ruang terbuka tempat pertemuan manusia. Yang kenal dan yang tak kenal dapat berbagi sekadar senyum. Sesuatu yang semakin langka kita temukan di kota-kota yang menjadikan minum kopi sekadar masalah gaya dan urusan masing-masing, nirkebersamaan. Kebersamaan itu juga saling membahagiakan antarsesama manusia, dan membahagiakan manusia itu merupakan ibadah.

Memang terasa sulit zaman kini untuk memaknai tindakan kecil kita sebagai bentuk beribadah kepada Allah. Lingkungan menjadi salah satu penyebab hubungan antara interaksi kita dengan ibadah. Lingkungan kafe agaknya malah membuat kita susah memaknai tindakan di sana sebagai ibadah. Lingkungan Kedai Kak Mila justru sebaliknya, memfasilitasi kita untuk memaknainya sebagai ibadah.

Tulisan Terkait (Edisi Kota)

Populer

IKLAN BARIS