• Ikuti kami :

Berlibur ke Rumah Nenek: Benci dan Rindu, Kota dan Desa

Dipublikasikan Jumat, 12 Februari 2016 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Berlibur ke rumah Nenek ialah ingatan bersama (imaji kolektif) tentang kepermaian desa yang termuat dalam mata pelajaran bahasa Indonesia pada masa sekolah dasar dahulu. Berlibur. Sebuah laku mengunjungi kesyahduan dan kebersahajaan rumah Nenek. Rumah yang indah dan menawan dengan alam yang masih murni tanpa bising dan pikuk gedung menjulang, klakson kendaraan, radio, atau televisi.

Permai, syahdu, dan sahaja tentu saja ialah kosakata milik kaum kota. Sebab di desa itu semua menjadi keseharian yang malah berbentuk kedaruratan, kemelaratan, dan diam-diam ketidakadilan. Bayangan yang tercipta di khayal orang-orang Jakarta dan penghuni kota-kota besar lainnya tentang desa memang tercipta bukan dari keadaan sebenar desa itu sendiri. Bayangan itu tercipta dari kerinduan pada yang murni, pada yang asli, dan pada yang alami setelah sekian lelah menjalani hidup yang cemar, palsu, dan serbabuatan.

Rindu pada tanah kelahiran ialah semacam pelampiasan dari kebosanan atau mungkin kemuakan pada kota. Banyak orang kota merasa hidup di desa itu lebih nyaman. Udara murni tanpa timbal, tetumbuhan di lahan perawan, sawah kuning menghampar, dan pegunungan hijau. Desa ialah kesenangan yang tiada tara. Hidup di desa tampak lebih bermutu daripada hidup di kota yang bising dan ribut. Desa itu nyaman dan tenteram. Gemah ripah loh jinawi. Orang kota selalu memuja kepermaian desa. Kenyataannya, mereka selalu tetap di kota.

Desa ialah tempat bagi sebuah kunjungan di suatu waktu untuk menunjukkan pundi-pundi keberhasilan. Di mana seluruh diri dapat ditumpahkan di wajah-wajah bersahaja orang desa yang memuja mobil, tilpun genggam, pakaian yang menawan, anak-anak yang sudah bisa berbahasa Inggris, dan sandal atau celana dalam yang semerek dengan yang ada di iklan. Desa ialah tempat memamerkan kejayaan.

Dari desa kita mengangkuti kebersahajaan dalam bermacam foto. Bahwa kita masih punya akar dan makan ubi. Tetapi desa ialah penebusan. Bahwa kita masih punya tempat lahir yang permai itu, yang layak untuk di foto dan ditampilkan di media sosial sehingga kawan-kawan kita dapat menyebut kita sebagai … mungkin manusia yang murni, manusia yang otentik dan memiliki asal.

Desa ialah penebusan atas kesalahan-kesalahan pada alam, pada pemborosan energi, dan pada segala ketidakpuasan atas apa yang ada di dalam kota. Desa ialah saat di mana kita akan terlihat maju ketika mengunjunginya dan semua orang menadah tatap, kagum pada keberhasilan kita. Desa adalah pameran di mana kita akan memaksakan untuk tampak baik-baik saja, berhasil, dan bahagia dengan uang pinjaman dan serba persoalan serta kekecewaan yang kita tinggalkan di kota sana.

Desa adalah pantai-pantai dengan nyiur melambai yang sangat elok bukan untuk dipandang tapi untuk dipakai berfoto. Pada desa kita sibuk untuk menjepret-jepretkan kamera agar gunung, laut, langit, tanah, angin, dan sungai-sungai dapat kita abadikan lalu kita angkut seluruhnya untuk kita pamerkan pada kawan-kawan di kota sana. Desa adalah sarana pelampiasan diri yang hilang dan terasing di kota. Kita tak pernah sungguh-sungguh menikmati kepermaian itu, kita cuma terlalu bernafsu berfoto di sana. Kita tak pernah menyeriusi menghirup udara segar itu, kita terlalu naif dan terlalu sering berpikir tentang bagaimana caranya memamerkan sebuah kunjungan sehingga kita tak dapat dengan baik bersentuhan dengan kemurnian air yang pelan-pelan menetes di daun pagi penuh embun itu. Kita terlalu palsu untuk benar-benar berseleras dengan angin, dengan laut, dengan tanah, dengan air, dan dengan semesta keberadaan seluruhnya.

Dan karena itu kita hanya mampu melihat desa yang permai dengan segala keindahan alamnya. Demi kepuasan dan hasrat kita sendiri. Kita tak lagi sanggup meraba nasib petani yang susah, nelayan yang melarat, atau peladang miskin. Kita mengerat-ngerat keindahan alam dan melupakan manusia yang berkerak di dalamnya. Kita gagal menjadi makhluk layak merasai rasa makhluk lainnya. Kita terlalu sering berjalan-jalan di pantai tanpa mau tahu susahnya hidup orang-orang tepi laut.

Tak jauh dari pantai indah tempat sekumpulan anak muda berfoto sambil melompat, di sana ada Paidin, ada Mursal, ada Resno mengadu nasib di tengah laut. Ketika Michael, Alan, Alex, Tamara, Inez, dan Hanna sedang berswafoto dengan menahan mulut menganga selama beberapa detik, ada ibu yang menunggu suaminya pulang melaut. Ada anak yang menunggu bapaknya pulang membawa uang untuk membeli pensil warna dan buku gambar.

Dan anak itu beserta kawan-kawannya melihat Michael, Alan, Alex, Tamara, Inez, dan Hanna bersenda gurau di pinggir pantai dengan pakaian warna-warni serba-pas-pasan. Anak-anak itu melihat merekalah sang panutan, seperti apa yang mereka tonton di TV kreditan bapaknya.

Michael memeluk Hanna hangat, ya, Hanna dengan kacamata besar gelap dan kulit putih dijalari rambut terurai berwarna bulu jagung terpanggang sinar matahari. Lalu Alex kejar-mengejar dengan Inez. Rambut sebahu Inez berayun-ayun, mirip tembakau mole racik cengkih yang biasa dilinting Pak Kepala Sekolah Idris. Tamara sibuk difoto Alan bersama kerang, rumput laut, ganggang, pasir, batu, karang, perahu, sandal jepit di debur ombak, bendera perahu nelayan, batang bambu, dan apa saja. Semua akan terlihat lebih indah di Instagram.

Anak-anak itu lupa bapak mereka belum pulang. Anak-anak itu lupa ibunya menunggu di rumah, memasaki mereka singkong. Anak-anak itu lupa dengan pensil warna dan buku gambar. Ibu mereka masih menunggu di rumah. Jadwal mengaji telah dilanggar. Di malam hari mereka makan dengan nasi di piring seng. Dengan sepotong ikan asin dan sambal terasi. Di ingatan mereka berkeliaran Hanna dan Alex, Alan dan Tamara, Michael juga Inez. Mereka bosan dengan pantai dan daun-daun kelapa yang nyiur di pantai. Mereka jemu dengan senja romantis berwarna emas yang tiap sore mengiringi kemelaratan mereka. Anak-anak itu kagum melihat Tamara dan Alan memamah singkong rebus penuh kenikmatan. Sebab mereka sudah muak pada singkong. Sebab singkong telah mereka pangani selama bertahun-tahun. Hidup mereka adalah singkong dan singkong. Tapi bagi Tamara dan Alan, singkong rebus adalah semacam piknik yang mengesankan.

Anak-anak desa muak dengan nasib. Mereka ingin menjadi Alan. Mereka ingin menjadi Tamara. Masa-masa sekolah dasar mereka ialah masa bodo mengutuki berlibur ke rumah Nenek karena rumah Nenek ada di desa sebelah. Rumah dengan kemelaratan yang sama, dengan kerak-kerak derita yang sama dengan rumah mereka sendiri. Tak ada yang bisa diliburi di rumah Nenek. Mereka ingin liburan yang lain, bukan berlibur ke desa sebelah untuk bertemu Nenek yang selalu saja menggerutu perkara harus begini begitu dan jangan begini begitu.

Mereka ingin liburan milik Tamara dan Alan. Liburan yang mahal dan tergantung di mimpi yang teramat jauh yang hanya dapat mereka gapai dalam harap dan bayang. Enaknya menjadi Tamara, indahnya menjadi Alan. Dan betapa bosannya menjadi anak desa.

Mereka tumbuh dengan kerinduan pada Alan, pada Tamara, pada cerita indah FTV. Tentang lelaki kaya bertemu perempuan desa lalu mereka jatuh cinta. Atau tentang seorang mahasiswi cantik rupawan yang berlibur ke rumah nenek dan jatuh cinta pada pemuda desa penjual lemper. Masa-masa remaja mereka dipenuhi bayangan indah Tamara dan Alan. Mereka kerap pergi ke pasar kecamatan. Membeli rok pendek yang sepertinya pernah dipakai Tamara tapi jelas tak pernah dipakai Tamara. Atau membeli kaos yang sepertinya pernah dipakai Alan tapi jelas Alan tak pernah memakainya. Seorang pemudi, dengan rok pendek yang sepertinya pernah dipakai Tamara, membedaki wajah dan menggincui bibir tebal-tebal. Semuanya salah warna. Tak ada serasi. Tak ada Tamara. Berpeluk dengan seorang pemuda dengan rambut undercut salah potong memakai kaos yang sepertinya pernah dipakai Alan. Sepertinya. Rindu mereka adalah rindu pada atau menjadi Alan, pada atau menjadi Tamara. Rindu mereka adalah rindu pada cerita FTV, pada harap yang tak jadi-jadi di kenyataan.

Mereka ingin seperti Tamara. Mereka ingin seperti Alan. Mereka ingin menjadi Tamara. Mereka ingin menjadi Alan. Mereka ingin mereka adalah Tamara. Mereka ingin mereka adalah Alan. Tapi mereka tak seperti Tamara, tak seperti Alan, tak pernah jadi Tamara, tak pernah jadi Alan dan mereka bukan Alan bukan Tamara. Mereka adalah baris-baris kemiskinan yang menggapai-gapai mimpi para rindu, pada Alan dan Tamara.

Di kota, Tamara dan Alan sudah lama putus cinta. Hidup dalam keruwetan di kebingungan atas keberadaan. Atas sekian kecemaran, benda-benda buatan, dan ratusan kepalsuan. Alan dan Tamara terasing di kebisingan televisi, klakson suara kendaraan, dan gedung-gedung menjulang. Dalam kehampaan dan ketidakpuasan mereka merindu pada sawah menguning, gunung menghijau, nyiur melambai, dan senja bercahaya emas yang tenang dan syahdu. Mereka rindu berlibur ke rumah Nenek yang sepertinya pernah mereka alami.

Entah kapan, entah dengan siapa, entah di mana.., Sepi..,

Tulisan Terkait (Edisi Lama)

Populer

IKLAN BARIS