• Ikuti kami :

Berjabat Tangan dengan Masa Lalu

Dipublikasikan Rabu, 14 Mei 2014 dalam rubrik  Peristiwa

Ulasan singkat atas buku Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu karya Syed Muhammad Naquib al-Attas

Ketika Islam menyentuh bumi Melayu-Nusantara, manusia-manusia di daerah ini tak hanya mengenal sebuah cara menyembah Tuhan yang baru. Islam telah memperkenalkan cara hidup yang menderaskan cahaya Ilahi. Lebih jauh dari itu, Islam membawa cara pandang baru terhadap segala sesuatu. Islam memperkenalkan cara pandang baru terhadap raja; bahwa raja adalah manusia biasa, bukan anak dewa. Ajaran Nabi menelusuk masuk ke dalam alam pikir orang-orang di Melayu-Nusantara, maka alam ditempatkan sebagai ayat, tanda-tanda keagungan Tuhan, bukan sesuatu yang layak disembah atau ditakuti. Dan cahaya Islam menjadi keseharian, mengubah alam pikir manusia Melayu-Nusantara, menghadirkan tata hidup baru.

Islam memberi nilai baru pada bahasa Melayu, bahasa yang kemudian mampu menyentuh persoalan-persoalan rumit filosofis. Islam telah mendewasakan bahasa Melayu menjadi bahasa ilmiah yang sanggup mengungkapkan pemikiran-pemikiran luhur mengenai ketuhanan, kefilsafatan, dan ilmu pengetahuan. Dengan bahasa Melayu baru itu mengalir pula dasar-dasar berpikir baru yang menderaskan perubahan tata budaya masyarakat Melayu. Bahasa yang berlandas bahasa Melayu itu pula yang hari ini mengikat ratusan juta manusia penduduk Indonesia, Malaysia, Singapura, Syiam, Brunei, dan bahkan jauh di Afrika sana.

Islam ialah sumber perubahan dasar bagi kehidupan di alam Melayu-Nusantara, perubahan tata pikir dan laku hidup. Islam telah mengerek kebudayan baru yang mencerahkan, yang menyetarakan kemanusiaan raja dan rakyat biasa; bahwa raja dan rakyat sama-sama hamba Allah SWT, yang nilai dan maknanya di hadapan Allah SWT ditentukan takwa serta keamanahannya dalam mengemban peran. Maka lahirlah kehidupan cerah yang telah mengirimkan kejayaan bagi bermacam kerajaan. Ilmu pengetahuan mencapai puncak-puncak luhur, sehingga ilmu tentang alam, filsafat, dan ketuhanan disenaraikan dengan indah dalam ratusan karya ulama, cerdik cendekia yang menerangi hari-hari orang di Melayu-Nusantara.

Maka dalam kebudayaan Melayu-Nusantara, Islam ialah daging dari kayu yang tumbuh. Ia bukan hanya pelitur yang memoles ukir-ukir kayu kehidupan. Islamlah darah daging kebudayaan Melayu-Nusantara. Tanpa Islam, Melayu bukanlah Melayu. Dan tanpa sentuhan Islam, Melayu-Nusantara hanya kerangka kehidupan tanpa jiwa. Tubuh kebangsaan kita pernah dirajam penjajahan ratusan tahun lamanya. Namun, para penjajah hanya mampu menggerus kekuasaan politik sultan atau raja, tetapi ia tak mampu merebut iman penduduknya.

Peran Islam yang mengaliri syaraf kehidupan bangsa Melayu-Nusantara tak terbantahkan kebenarannya. Sayangnya, kaum Islam justru sering alpa mengeja sejarahnya sendiri. Maka, ramai para orientalis merundung bumi kita dengan kajian-kajian tekun bertahun. Mereka membangun “sejarah” baru, menerjemahkan semua kejadian di kehidupan bangsa ini dengan cara pandang mereka. Lalu mereka menguar-uar kehebatan Borobudur dan keluhuran Majapahit sembari mencecerkan karya luhung ulama-ulama Islam. Tak mengherankan jika generasi baru bangsa begitu fasih menyebut nama Gajah Mada, Hayam Wuruk, namun kemudian kelu menggerakkan lidah ketika menyebut nama Hamzah Fanshuri atau Nuruddin ar-Raniri. Dan Hamka, dan Buya Natsir menyeru di abad lalu agar kita tekun menelusuri budaya dan sejarah kita. Suara mereka belum lagi hilang ditelan gelombang zaman.

Namun adalah kenyataan jika pada zaman ini kaum Muslim tampak mulai kehilangan jejak pada sejarahnya, pada budayanya. Tak lagi kenal siapa yang membawa cahaya Islam ke bumi Melayu-Nusantara ini. Tak lagi mampu menelusuri alur masa lalunya sendiri.

Dengan keadaan ini, kita terbata-bata merumuskan Indonesia. Apa itu Indonesia? Dan bagaimana kita akan mengenal bangsa jika kita tak lantas belajar menekuni sejarah? Bagaimana kita mengarungi waktu dengan tantangan yang bersimaharajalela jika kita tak kenal siapa kita, bagaimana sejarah kita, seperti mana kebudayaan kita, dan dari mana kita mengenal Islam?

Tun Sri Syed Muhammad Naquib al-Attas pernah mengingatkan betapa dalamnya makna sejarah dan kebudayaan bagi pembangunan jiwa bangsa. Dalam Pidato pengukuhannya sebagai profesor bahasa dan kesusastraan Melayu pada 24 januari 1972, beliau membacakan pidato ilmiah yang berjudul “Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu”. Dalam pidato itu, al-Attas mengingatkan berbagai kesilapan para orientalis dalam memahami sejarah Melayu sembari memberi arahan pada pemahaman sejarah Islam di dunia Melayu-Nusantara yang menyeluruh.

Tentu saja, menelaah (kembali) pemikiran al-Attas tentang sejarah menjadi hal yang penting untuk dilakukan di tengah keadaan kita sekarang ini. Kita perlu mengukuhkan kembali jati diri keislaman kita yang berlandaskan pada penelaahan masa lalu. Agar kita dapat berkata tanpa ragu bahwa kebangsaan dan keislaman kita bukanlah sesuatu yang berbeda dan bertentangan; bahwa Islam dan Indonesia tidak semestinya berada dalam posisi saling berseberangan. Menjadi Muslim (seharusnya) tak lain menjadi Indonesia. Seutuhnya, sepenuhnya.Kita perlu berjabat tangan dengan masa lalu, agar hari-hari dan napas hidup kita tersambung dalam alur waktu yang runut, tertib sampai kepada Baginda Rasulullah SAW. Mengenal sejarah, mengenal budaya bangsa, ialah mengenal kesejatian kita sebagai orang Islam yang beranak-bercucu hidup di negeri ini.

Melihat pentingnya kajian mengenai sejarah tersebut, maka penting untuk membaca dan menelaah serta kemudiaan mengembangkan kembali pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas mengenai Islam dalam sejarah dan kebudayaan Melayu. Penting pula bagi para sarjana sejarah, para pembelajar bahasa, para pelaku sastra, dan peminat kebudayaan untuk mengembangkan berbagai kajiannya berlandaskan karya ini.

Sudah sepantasnya persoalan sejarah, bahasa, sastra, dan kajian kebudayaan lain diteroka dengan cara pandang Islam. Dan karya Syed Naquib tepat untuk dijadikan landasan kajian-kajian tersebut.


Judul Buku
Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu
PenulisSyed Muhammad Naquib al-Attas
Penerbit
Angkatan Belia Islam Malaysia
Tahun Terbit1999 (Cetakan Keenam)


Tulisan Terkait (Edisi Lama)

IKLAN BARIS