• Ikuti kami :

Banyak Gaya, Banyak Pongah, Miskin Makna

Dipublikasikan Senin, 16 Januari 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Orang-orang datang ke kota mengadu harapan. Menyabung nasib. Kota dalam bayangan sekian orang ialah tempat mencari peruntungan, mengerek nasib dan mengubah kenyataan. Ada gengsi, ada simbol-simbol kemajuan, ada kesenangan di kota sana. Setiap tahun kota diserbu ribuan harapan. Katanya, di kota orang bisa bekerja apa saja, mencari uang gampang. Katanya. Kota sering dibayangkan sebagai lambang kemajuan.

Gaya orang-orang kota dianggap lebih maju. Tak mengherankan jika anak-anak muda rajin mengekor gaya artis sinetron. Artis-artis itu lambang pergaulan kota. Lambang gaya. Simbol gengsi. Cara hidup, cara bicara, cara berpakaian, intinya gaya orang kota, sering dijadikan panutan. Dalam bayangan banyak orang, menjadi maju perlu ditempuh dengan cara mengikuti orang-orang kota.

Dari mana pun anak-anak muda itu berasal, mereka kemudian merujuk diri mereka dengan sebutan gue (kadang ditulis gw) dan menunjuk lawan bicaranya dengan ujaran elo. Itu penggayaan dari ujaran anak Betawi: gua (bukan gue, gueh, apalagi gw) dan elu (bukan elo ataulah lagi eloh). Orang Betawi mungkin geli ngliat anak cewek bertato, pakai celana di atas lutut, cuap-cuap gueh-eloh. Itu Betawi mana? Betawi Belanda? Apa orang nyasar?

Berucap-ucap dengan sesama kawan menggunakan “gue-elu” itu tentu bukan sebuah dosa. Tidak apa-apa dan tidak dilarang agama. Pelakunya tidak perlu disunat ulang. Hanya saja itu menunjukkan bahwa kota (khususnya Jakarta) terlalu menjadi pusat. Ruang-ruang bagi kegayaan daerah seperti tak ada. Kota (Jakarta) terlalu jemawa sehingga segala kegayaan itu selalu mengarah ke sana.

Rambut-rambut dipikok warna bule, kacamata hitam yang buletannya kayak mata capung dipake tengah malam, dan kulit-kulit paha burik kurang perawatan bertebaran di jalan raya membahayakan pengendara kendaraan bermotor (mengganggu pandangan dan konsentrasi). Minumnya koka kola atau jus jeruk dan makannya di Mek-Di atau di Ke-Ef-Si. Itu sudah bikin seseorang jadi lebih gaya, lebih mirip orang kota dan celakanya dipikir lebih maju.

Rambut rapi belah pinggir, baju dimasukkan ke dalam celana, ikat pinggang rapi dan bicara “saya-kamu” kemudian ditertawakan dan dipojokkan sebagai kampungan. Sementara dialek Tegal diintimidasi sebagai pembantu, logat Sunda dianggap tukang kredit panci, cara bicara orang Batak dianggap sopir angkot, dan tuturan khas Minang dibilang tukang dagang kaki lima. Alangkah pongahnya kota, memojokkan sekian banyak ciri kedaerahan sebagai terbelakang.

Maka terpayah-payah orang Sunda berucap “Iyah, gueh mah, tidak begituh, tidak kaya eluh!” Di televisi, ini jadi bahan tertawaan, jadi hiburan. Kegagapan orang-orang daerah yang tergopoh-gopoh mengejar gaya Jakarta jadi bahan lelucon. Sebuah tindakan yang amat dungu terhadap kebudayaan kita sendiri.

Kemajuan tidak berhubungan dengan rambut yang dipikok, kacamata hitam, paha-paha burik yang bertebaran, atau cas-cis sok wicis dan sok well. Semua itu bukan ciri-ciri kemajuan, itu ciri-ciri bangsa yang tidak berwatak. Rambut dipikok, pakai kacamata hitam tengah malam, tapi masih buang sampah sembarangan dan kencing di belakang truk tentu bukan kemajuan. Itu jorok sekaligus sok gaya.

Gaya-gayaan itu juga menjangkiti pemuda-pemudi Islam harapan agama, bangsa, negara, orang tua, dan calon mertua. Jilbab itu, ya Tuhan, bahkan ada yang memakai nanas di atas kepalanya. Dan itu, warna merah yang lebih merah dari pantat babon di bibir-bibir Muslimah itu, alangkah begitunya. Setelah itu mereka makan ayam di Ke-Ef-Si, warna merah di bibir itu belepotan, kayak abis makan bayi. Mulutnya macam berlumur darah begitu. Minumnya koka kola. Habis makan mengucap alhamdulillah.

Tentu tak apa, sungguh tidak apa-apa menggincui bibir itu melebihi merah pantat babon (tapi sebenarnya ada juga pendapat yang bilang itu bagian dari tabaruj).  Hanya saja, ayolah. Jilbab-jilbab yang dipakai berputar-putar di kepala itu bukan lambang kemajuan. Bibir-bibir semerah (atau lebih merah dari) pantat babon itu bukan simbol ketinggian apalagi simbol majunya peradaban. Itu cuma gaya Muslimah kota, yang sering jadi bahan ikutan Muslimah-Muslimah lainnya di segenap penjuru. Muslimah yang paling baik itu ialah Muslimah yang paling bertakwa, bukan yang paling merah bibirnya. Fokus, ya ukhti!

Dan jenggot itu, ana-antum itu, akhi-ukhti itu, celana-celana itu, sudahlah, itu kita tempatkan sebagai sesuatu yang baik tapi jangan ditempatkan sebagai yang paling maju, apalagi simbol sebagai yang paling saleh. Sebab memakai sarung dan memakai celana itu merupakan kebaikan. Memakai kopiah hitam atau peci Arab sama-sama baik. Menjaga kesehatan tetaplah sunah, baik minum jamu maupun minum habatusauda. Istigasah atau mabit (malam bina iman dan takwa) itu sama-sama ibadah. Pesantren dan sekolah Islam terpadu itu sama-sama pendidikan Islam dan sama-sama banyak masalah. Yang satu tidak lebih kotaan dari yang lain. Untuk menjadi kotaan tidak perlu pesantren menjadi sekolah terpadu. Dan sekolah terpadu tidak menjadi kampungan kalau jadi pesantren.

Itu banyak kiai yang jenggotnya jarang-jarang, celananya tidak cingkrang, dan untuk menjaga kesehatan memakai parem kocok. Ya, ikhwan, ayolah. Kita tak perlu mengganti sarung dengan celana agar lebih maju, agar lebih kota, dan apalagi agar lebih bertakwa. Kita tidak perlu mengganti panggilan abah jadi abi atau ayah, emak jadi umi atau bunda, agar ketakwaan kita jadi lebih kekota-kotaan. Yang kita perlukan ialah meningkatkan taraf penghormatan kita kepada orang tua, mau panggil abi atau abah ya tidak apa-apa.

Kota dengan macam-macam simbolnya itu tidak selamanya ialah lambang kemajuan. Rambut dipikok atau jilbab bernanas itu bukan sebuah kemajuan peradaban. Tak lagi bersarung dan tak lagi berpeci hitam itu bukan ciri telah meninggalkan keterbelakangan. Itu cuma salah kaprah soal kegayaan. Sarung atau celana itu sama-sama baik, sama-sama sunah. Yang nggak nyunah itu kalau nggak pakai apa-apa.

Tingkatkan ibadah kita, kurangi ribut, banyak berzikir dan latihan berpikir yang bener, itu tanda kemajuan. Yang paling penting dari sekian simbol itu adalah maknanya. Apa makna dari rambut dipikok, bibir-bibir bergincu, jilbab-jilbab bernanas, atau ujar-ujaran kekota-kotaan itu? Jika sekadar gaya tapi tak bermakna, ya buat apa? Lebih wajar, lebih bermakna, itu lebih baik.  Kita memang perlu membangun simbol-simbol keislaman di kehidupan kita, tapi yang bermaknalah, jangan yang hampa begitu.

Para pemikir kita dahulu memang menjadikan apa yang berlaku di kota sebagai simbol kemajuan. Kota (madain) ialah tempat din dilaksanakan dengan paripurna. Pelaksanaan agama secara paripurna itulah yang melahirkan tamadun (civilizations). Tapi jelas, kota yang dimaksud bukan kota macam Jakarta dengan segala kegayaannya yang pongah.


Tulisan Terkait (Edisi Kota)

Populer

IKLAN BARIS