• Ikuti kami :

Anggota BPUPKI yang Ikut Serta Melahirkan Indonesia Merdeka dan Meninggal Sebagai Warga Negara RRC

Dipublikasikan Rabu, 15 Februari 2017 dalam rubrik  Cerita Foto

Siapa yang tahu akan takdir masa datang. Begitu kiranya dalam melihat riwayat hidup seorang Liem Koen Hian. Terlahir di Kota Banjarmasin pada 1896, Liem Koen Hian adalah pemuda peranakan Cina di Indonesia. Liem kecil menerima pendidikan sekolah dasar Belanda. Liem tergolong sebagai pemuda berkecerdasan tinggi. Dengan modal belajar sendiri, ia berhasil lulus ujian masuk sekolah hukum di Jakarta.

Dalam bidang pekerjaannya, ia hidup di dunia kewartawanan. Ia tercatat menjadi ketua dewan direksi koran Tjoen Tjhio pada 1915-1916, Sao Lim Po pada 1917, Sinar Sumatera pada 1918-1921,dan Pewarta Surabaya pada 1921-1925.

Liem Koen Hian bersama dengan teman-teman seperanakannya mendirikan Partai Tionghoa Indonesia (PTI). Organisasi ini tercatat sebagai wadah penyebaran gagasan kebangsaan di Indonesia pada masyarakat Cina di Indonesia zaman pergerakan menjelang kemerdekaan. Ketika Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) membuka tawaran keanggotaan bagi kaum peranakan Cina, ia tertarik akan hal itu. Liem meninggalkan PTI, organisasi yang turut ia besarkan,dan masuk ke Gerindo.

Tahun 1938 Liem menerbitkan buku yang menentang imperialisme Jepang. Liem sempat ditahan Jepang ketika masa pendudukan Jepang. Kemudian, ia dilepaskan.

Sewaktu BPUPKI didirikan, ia duduk menjadi salah satu anggotanya. Ia mewakili masyarakat Cina di Indonesia, salah satu dari empat perwakilan etnis ini di BPUPKI. Di rapat itu ia menjelaskan, alasan banyak masyarakat Cina di Indonesia tidak tanggap dengan politik zaman pergerakan era kolonial karena kekuatan Belanda yang kuat mengancam masyarakat Cina kala itu. Hal itu tercatat dalam risalah pidatonya pada buku Risalah Sidang Badan Penyelidikan Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)-Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) 29 Mei 1945-19 Agustus 1945 , terbitan Sekretariat Negara, Jakarta, tahun 1992, halaman 142—143.

Liem sempat berkarier di pergerakan politik selepas masa kemerdekaan. Setelah proklamasi, ia duduk sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Ia juga pernah menjadi salah satu anggota delegasi yang mewakili Republik Indonesia di Konferensi Renville (Perjanjian Renville). Di sana dia berhadapan dengan delegasi Belanda dari masyarakat Cina pro-Belanda, Thio Thiam Tjong.

Pada tahun 1951, Liem ditahan oleh pemerintah Republik Indonesia pada masa Perdana Menteri Sukiman. Liem dituduh sebagai mata-mata RRC. Setelah dibebaskan, ia menolak kewarganegaraan Indonesia. Tahun 1952, setahun setelah dilepaskan dari tahanan, ia wafat di Kota Medan sebagai pengusaha yang berkewarganegaraan RRC. Begitulah Liem tercatat dalam buku Risalah Sidang Badan Penyelidikan Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)-Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI): 29 Mei 1945-19 Agustus 1945 terbitan Sekretariat Negara Republik Indonesia tahun 1992.

Seperti Liem, banyak juga saudara peranakan Cina yang punya bakti kepada bumi pertiwi dengan tenaga, darah, dan airmata, meski terkendala banyak hal. Orang-orang Partai Tionghoa Indonesia membuktikan itu.

Sumber foto: Risalah Sidang Badan Penyelidikan Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)-Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI): 29 Mei 1945-19 Agustus 1945 , Jakarta, Sekretariat Negara Republik Indonesia, 1992


Tulisan Terkait (Edisi Peranakan)

IKLAN BARIS