• Ikuti kami :

Alun-Alun dan Kerinduan Kita

Dipublikasikan Kamis, 19 Januari 2017 dalam rubrik  Cerita Foto

Alun-alun sebuah kota mesti memberi banyak kesan yang membekas kepada banyak orang. Pada sore hari atau pada hari-hari libur, warga kota biasa berkumpul di sana. Ada yang bermain sepak bola, ada yang sebatas nongkrong, ada juga yang berjalan-jalan, atau sekadar lari-lari mencari keringat. Tukang jajanan siap sedia menyambut perut lapar, penuh gaya mengundang selera.

Bisa jadi, alun-alun ialah bagian dari kenang-kenangan masa kecil yang tak terlupakan. Di sana ramai anak-anak bermain. Tang jongkok, tang umpet, maen pong, lompat karet, galasin, main benteng, dan masih banyak lagi. Itu permainan menyehatkan dan memberi arti tentang pertemanan, persaudaraan, dan kebertetanggaan. Itu semua dulu bisa dilakukan di alun-alun.

Malam terang bulan di Ramadhan lebih menyenangkan. Selepas berbuka waktu maghrib, anak-anak sudah bersiap-siap ke sana, ke alun-alun. Biasanya berbondong-bondong. Ada yang disertai izin orang tua, ada yang tidak, asal nyelonong (biasanya berdalih shalat Tarawih di masjid). Main petasan atau cari jajanan. Kembang api, boleh juga. Dihardik orang dewasa, semua bubar tunggang-langgang.

Kota Malang pada tahun 1900. Anak-anak menjadikan taman sebagai tempat bermain. Teduh dirimbuni pohon besar, cocok menjadi tempat istirahat selepas bermain. Setelah itu, ya, bermain lagi. Waktu itu memang belum ada perda larangan injak rumput.

Gambar: Alun-Alun Kota Malang tahun 1900

Sumber gambar: KITLV Collection 16,473. Courtesy of KITLV/Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies, Leiden.


Tulisan Terkait (Edisi Kota)

Populer

IKLAN BARIS