• Ikuti kami :

Air Bersih Mengalir Ke Mana? Wajah Dunia Ketiga Kota Jakarta

Dipublikasikan Rabu, 18 Januari 2017 dalam rubrik  Cerita Foto

Meskipun sudah menjadi kota jenis metropolitan, bahkan ada yang mengatakan megapolitan, Jakarta tetap tak sepi dari persoalan. Gedung megah, billboard raksasa, ditambah gawai mutakhir sekilas menunjukkan kemajuan. Jakarta ingin tampil bersaing dengan Paris, New York, London, dan beberapa kota besar di negara maju lainnya.

Setinggi-tingginya cita-cita, ternyata Jakarta masih sering mengalami persoalan yang biasanya hadir di pedalaman antah-berantah. Ya, Jakarta masih mengalami penyakit dunia ketiga: krisis air. Wilayah Priok dan sekitarnya, di utara Jakarta, soal itu menjadi keseharian penduduknya. Padahal, ini Jakarta, banyak air mengalir jadi banjir, bukan Gurun Sahara.

Perihal air-airan ini sudah dijumpai sejak zaman kolonial waktu Jakarta masih disebut Batavia. Persoalan ini cukup parah. Banyak sumber-sumber air di permukaan tanah yang terkena kontaminasi sehingga tidak dapat digunakan oleh penduduk Jakarta. Para londo pusing. Hal ini dapat ditemui dalam catatan dari Michelle Kooy dan Karen Bakker, (“(Post)Colonial Pipes: Urban Water Supply in Colonial and Contemporary Jakarta” dalam Freek Colombijn & Joost Cote, Cars, Conduits, and Kampongs: The Modernization of the Indonesian City, 1920-1960).

Pihak kumpeni pun berpikir keras untuk mengurusi hal ini. Selain soal Pitung, soal air bersih juga masalah yang mengganggu kewibawaan pemerintah kolonial. Governor dan para bedinde-nya bingung (macam gubernur sekarang mikirin banjir) menghadapi air-airan ini. Mereka putar otak. Mulai dari perhitungan jumlah penduduk yang menggunakannya serta laku budaya masyarakat penggunanya mereka pertimbangkan secara matang, berharap air bersih sudi bertandang.

Perilaku masyarakat Eropa di Batavia yang banyak menggunakan air berlebihan untuk hal-hal yang tidak vital bagi manusia diubah sedemikian rupa. Aturan-aturan baru dibuat untuk menghemat air demi menjaga ketersediaan air bersih yang layak minum.

Namun, entah mengapa, persediaan air bersih hingga saat ini sering bermasalah, dari zaman pemerintahan governor londo sampai gubernur yang itu. Namun, di beberapa wilayah, krisis air bersih sudah tak jadi persoalan bagi penduduknya. Sebab, penduduk di sana sudah raib, digusur. Mungkin ini cara yang paling mangkus. Kalau tak mampu mengatasi krisis, singkirkan saja orang-orang yang mengalami krisis itu.

Baginda Nabi pernah bersabda bahwa urusan air, api, dan padang gembalaan itu milik bersama kaum Muslim. Pengelolaannya mesti diurus sepatut-patutnya oleh negara. Lalu bagaimana kalau air bersih ini yang seharusnya diurus demi kemaslahatan rakyat banyak, seperti yang disebutkan oleh Undang-Undang Dasar, kok malah dijual-jualin ke pihak asing. Gimana, ayo?

Sumber gambar: Freek Colombijn & Joost Cote, Cars, Conduits, and Kampongs: The Modernization of the Indonesian City, 1920-1960, halaman 70


Tulisan Terkait (Edisi Kota)

IKLAN BARIS