• Ikuti kami :

Ahok, Cina, dan Usaha Kemembauran Kita

Dipublikasikan Kamis, 09 Februari 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Siapa kira di tahun 2012 lalu ada partai yang berani mengajukan calon wakil gubernur DKI Jakarta keturunan Cina beragama Protestan? Sekitar 15 tahun lalu, orang-orang peranakan Cina masih jauh dari “berani” hadir di arena politik kita. Kini, Basuki Tjahaja Purnama ialah gubernur sekaligus calon gubernur dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

Kehadiran Ahok lima tahun lalu di arena politik Jakarta dapat disebut sebagai sesuatu yang tak terperkirakan sebelumnya. Orang Cina biasanya berdagang atau bermakelar, tidak berpolitik. Ahok lain, ia berani maju jadi wakil gubernur dan kemudian gubernur Jakarta. Menang pula. Tentu saja ini menjadi kontroversi. Bukan hanya karena kecinaannya, melainkan juga kelakuannya sebagai tukang hardik.

Pada Pilkada DKI Jakarta tahun 2012, Ahok yang berpasangan dengan Joko Widodo tampil cemerlang. Pada putaran pertama, keduanya memimpin perolehan suara, menempati urutan teratas, mengalahkan orang-orang Islam yang berpeci, berbatik, dan (salah satunya) bergelar ustaz. Basuki hadir sebagai Cina, tidak berpura-pura menjadi apa pun. Ia Cina seutuhnya dengan panggilan sangat Cina: Ahok. Pada putaran kedua, Basuki dan Joko menang pula.

Bagi saya, peristiwa Basuki ini bukan hanya perkara politik, melainkan juga peristiwa budaya. Orang Cina, khususnya selepas Reformasi, telah berupaya mengaitkan diri seutuhnya ke dalam konsep keindonesiaan. Mereka bergerak di segala lini, berusaha menjadi bagian dari Indonesia seutuhnya. Dan dengan segala takzim dan hormat kepada orang-orang peranakan ini saya mengatakan upaya mereka ini cukup berhasil. Mereka telah bekerja susah payah untuk menjadi bagian dari Indonesia, bukan kaum yang “cuma” indekos dan numpang nyari makan di negeri ini.

Sebelum saya mengenal nama Basuki Tjahaja Purnama, saya sudah berkenalan dengan upaya kaum peranakan ini di lapangan kebudayaan. Dalam ranah sastra, muncul apa yang dinamakan sastra Melayu Tionghoa, yang oleh beberapa kritikus sastra didaulat menjadi pelopor sastra Indonesia modern. Kita mengenal “La Fen Koei” dan cerita lain dari khazanah sastra Melayu Tionghoa ini. Dalam upaya pembentukan kesadaran nasional, mereka mengajukan nama Tiong Hoa Hwua Kuan (THHK) sebagai organisasi modern pertama di Hindia Belanda, berdiri 1900. Harian Sin Po didaku menjadi harian pertama di Indonesia. Harian itulah yang pada 10 November 1928 menyiarkan syair Indonesia Raya.

Dalam bidang bahasa, orang-orang Cina sesungguhnya menggunakan Melayu yang tak lazim, Melayu pasar—ragam bahasa Melayu yang tak diakui sebagai Melayu tinggi atau Melayu resmi. Tetapi, pada zaman ini mereka telah berhasil mengemansipasi yang tak resmi itu sebagai bagian dari khazanah budaya bangsa.

Seorang dosen FIB UI menyatakan bahwa buku pelajaran bahasa Melayu terawal justru disusun oleh Lie Kim Hok, keturunan imigran asal Cina yang datang ke Indonesia abad ke-19. Lie lahir di Bogor tahun 1853 dan menulis buku Malajoe Batawi: Kitab deri Hal Perkataan-perkataan Malajoe, Hal Memetjah Oedjar-oedjar Malajoe dan Hal Pernahkan Tanda-tanda Batja dan Hoeroef-hoeroef Besar yang terbit pada 1884. Buku ini menunjukkan sumbangan orang keturunan Cina dalam pembangunan bahasa Indonesia.

Upaya-upaya kaum peranakan Cina bukanlah upaya sambil lalu. Mereka terus berupaya menggali sumbangan kaumnya bagi Indonesia. Bukan hanya perkara bulu tangkis tentunya. Yang saya lihat, orang peranakan Cina berupaya menempatkan diri sebagai bagian resmi dari Indonesia, kemudian menampilkan secara tertata peran mereka dalam hadirnya Indonesia. Sastra Melayu Tionghoa, THHK, Sin Po, dan lainnya ialah upaya mereka menggali sejarahnya di Indonesia. Kerja keras dan kerja ilmiah itulah yang mengantarkan etnik Cina ini dapat hadir dalam keseharian kita dengan lebih jelas: bagian dari Indonesia.

Kita tentu dapat berdebat panjang mengenai kepeloporan THHK, sastra Melayu Tionghoa, Sin Po, atau Lie Kim Hok. Saya pun mengajukan keberatan mengenai kepeloporan kaum Tionghoa tersebut. Namun, bukan itu inti persoalannya. Yang harus dihormati ialah upaya kaum peranakan Cina meleburkan kedirian mereka ke dalam budaya Indonesia. Penelusuran sejarah, kesabaran dalam berpolitik, pemunculan bentuk budaya semacam Imlek, dan upaya untuk memperbaiki citra kaumnya telah berhasil menghadirkan peranakan Cina yang berwajah Indonesia. Peranakan Cina yang pelan-pelan menjadi Indonesia seutuhnya.

Usaha keras, upaya budaya yang dilakukan orang-orang Cina itu kini menampakkan bentuknya yang lain. Orang Cina berpolitik. Jika itu terjadi 10 tahun lalu mungkin banyak orang yang akan terperangah. Namun, pada tahun 2017 ini Ahok ialah calon gubernur Jakarta sekaligus tersangka penista agama. Kita dapat melihat Ahok ini dengan lebih saksama, bukan sekadar urusan politik.

Integrasi orang-orang keturunan Cina ke dalam kebangsaan Indonesia sangat penting bagi kita. Orang-orang Cina pada kadar tertentu memang harus benar-benar menjadi Indonesia. Andai kata suatu hari terjadi perang antara Indonesia dan Cina, kaum keturunan Cina harus ada di pihak kita. Andai kata Cina hendak mencaplok wilayah nasional kita di Natuna sana, mereka harus bersedia bersama-sama membela kedaulatan bangsa. Kaum peranakan Cina harus benar-benar menjadi Indonesia.

Pada titik ini Ahok bisa menjadi persoalan. Di satu sisi, kehadirannya dapat dipandang sebagai keberhasilan kaum peranakan Cina di bidang politik. Di sisi yang lain, kebiasaannya menghardik dan muntab sembarangan di muka umum dapat merusak usaha-usaha kaum peranakan Cina untuk membaur menjadi Indonesia.

Tidak mudah untuk terbuka menerima Cina sebagai bagian dari bangsa kita jika mengingat perjalanan sejarah yang panjang. Mafhum, seperti diketahui bersama, pada masa-masa krusial dalam perjalanan bangsa kita sikap kaum peranakan Cina sering ambigu. Sering pula kita melihat citra kaum Cina yang menutup diri dan tak membaur dengan anak bangsa yang lain. Pun tak mudah menghapus kecurigaan terhadap kaum Cina perihal keadilan ekonomi. Oleh karena itu, usaha-usaha untuk memperbaiki persoalan ini patut dihargai.

Kehadiran Ahok dengan gaya muntabnya yang atraktif dan teatrikal tentu dapat merusak ikhtiar-ikhtiar tersebut tadi. Baik dari kaum peranakan sendiri ataupun dari “pribumi” yang telah bersedia membuka diri terhadap kaum Cina. Kemembauran yang telah diupayakan bisa jadi mundur kembali.

Cara-cara Ahok yang tampak kurang menghargai keyakinan dan budaya pihak lain dapat menyurutkan langkah pembauran dan keutuhan kebangsaan kita jauh ke belakang. Hasilnya dapat dilihat hari ini, sentimen anti-Cina kembali menguat. Pun keberpihakan Ahok pada masalah Sumber Waras dan reklamasi yang begitu kental dengan keterlibatan pihak keturunan Cina, hal itu akan semakin mengukuhkan kecurigaan banyak orang mengenai adanya konspirasi orang-orang Cina untuk menguasai Indonesia.  Ujungnya, sentimen anti-Cina akan kembali meluas. Hal yang tidak kita inginkan, tentu saja.

Bagaimana kita, umat Islam, menghadapi kenyataan ini? Sudah ratusan tahun kita hidup berdampingan dengan orang-orang Cina, baik Cina Islam maupun Cina kafir. Oleh karena itu, kita pertama-tama harus bisa melihat Ahok sebagai Ahok, bukan perwakilan keturunan Cina secara keseluruhan. Toh, ada pula keturunan Cina yang beragama Islam. Selain saudara sebangsa, mereka juga saudara seiman bagi kaum Muslimin. Kita patut menuntut keadilan atas tindakan-tindakan Ahok yang telah melukai keyakinan kita. Namun, itu tak berarti kita menutup ruang kemembauran sebagai bangsa terhadap orang-orang keturunan Cina.

Saya yakin, orang-orang Islam dapat hidup berdampingan dengan siapa saja, apa pun agamanya, dengan baik dan rukun. Kita dapat hidup bersama dengan yang berbeda tanpa harus kehilangan keyakinan. Saya berharap kita dapat hidup sebangsa dengan wajar dan baik bersama orang-orang keturunan Cina ataupun peranakan yang lain. Bertetangga dan saling menikmati kebudayaan masing-masing, tanpa perlu ketegangan, tanpa kecurigaan. Membaur satu sama lain dengan tetap saling menghormati keyakinan masing-masing. Hal tersebut diiringi dengan hadirnya keadilan ekonomi bagi seluruh anak bangsa.

Indah tentunya.
 



Tulisan Terkait (Edisi Peranakan)

Populer

IKLAN BARIS