• Ikuti kami :

Agus Salim dan Kebaktian Nyonya Zainatun Nahar

Dipublikasikan Rabu, 05 April 2017 dalam rubrik  Cerita Foto

Foto: Wikipedia

Di belakang orang besar, ada perempuan yang menjadi penyokongnya. Sebut saja Baharuddin Jusuf Habibie dengan Nyonya Ainun. Bahkan, di belakang Rasulullah SAW ada Khadijah, yang kemudian digantikan oleh ‘Aisyah dan istri-istri beliau lainnya. Mereka adalah wanita cerdas dan tahan banting, sehingga mampu mendampingi suaminya yang mendapatkan amanah berat sebagai nabi.

2 Desember 1977, bagi keluarga Haji Agus Salim menjadi penanda akan kehilangan satu tokoh penting lagi. Sepeninggal Agus Salim tahun 1955, giliran sahabat setianya, sang istri menyusulnya di negeri yang kekal. Nyonya Zainatun Nahar Agus Salim memang tidak dikenal sebagai tokoh nasional. Tapi ia menjadi pendamping setia Haji Agus Salim, hingga akhir hayat pahlawan Muslim dan bangsa Indonesia itu.

Menikah pada tahun 1912, rentang usia antara Nyonya Zainatun dengan Haji Agus Salim berjarak sembilan tahun. Mengikuti wejangan suaminya, Nyonya Zainatun banyak membaca dan belajar. “Sebab kalau kita nanti dapat anak, kemungkinan tidak akan kita sekolahkan.” Begitu kata Agus Salim suatu masa di awal perkawinan mereka, saat masih pengantin baru.

Agus Salim memang enggan menyekolahkan anak-anaknya di sekolah kolonial. Moehammad Roem yang mengagumi Agus Salim mengatakan, meskipun anak-anak Agus Salim tidak disekolahkan di sekolah umum, anak-anaknya tidak ketinggalan cerdasnya dengan anak-anak didikan Belanda. Anak-anaknya sukses, istilahnya semuanya jadi orang.

Zaman pergolakan nasional, Agus Salim dan sekeluarga tidak sepi dari hidup susah. Saat bermukim di Tanah Tinggi, beliau tidak mampu untuk mencukupi biaya sewa. Oleh karena itu, keluarganya berpindah-pindah rumah kontrakan setiap tiga bulan. Keadaannya berat sekali sewaktu pindah-pindah itu, anak-anaknya masih kecil-kecil pula. Nyonya Zainatun tidak mengeluh, barangkali berbeda dengan umumnya para nyonya masa kini.

Soal Nyonya Zainatun, anak-anaknya bercerita bagaimana mereka dibimbing dengan sabar oleh ibunya baik kala bermain maupun dalam belajar membaca dan menulis.

Gubernur DKI, Tjokropranolo, memang tidak ada hubungan keluarga apapun dengan Haji Agus Salim, ataupun Nyonya Zainatun. Tetapi di saat pemakaman Nyonya Zaitun di Pemakaman Karet, Tjokropranolo memberi sepatah dua patah kata untuk mengiringi jenazah dikebumikan. Tjokropranolo mengucap terima kasih atas kesediaan Nyonya Zainatun untuk berbakti kepada Agus Salim semasa hidupnya.

Ada cerita menarik tentang Nyonya Zainatun dan Haji Agus Salim. Suatu ketika, Nyonya dan Pak Haji memetik kopi. Seperti layaknya pemetik kopi, tentulah kopi yang berwarna merah, pertanda matang. Tapi yang dilihatnya, Haji Agus Salim memetik kopi yang berwarna hijau. Kiranya Haji Agus Salim salah pilih, tidak sengaja, begitu batin Nyonya Zainatun. Tapi Haji Agus Salim memetik yang berwarna hijau melulu. Akhirnya, Nyonya Zainatun ikutan memetik yang berwarna hijau. Setelah selesai acara petik memetik kopi itu, barulah Nyonya Zainatun tersadar. Ah, ternyata Haji Agus Salim itu buta warna. Wajar saja tidak bisa membedakan yang berwarna merah dan yang hijau.

Disadur dari Tempo, 10 Desember 1977, halaman 48-49.



Tulisan Terkait (Edisi Anak)

IKLAN BARIS