• Ikuti kami :

5 Hal Ini Menunjukkan Pengaruh Komunisme di Ranah Tak Terduga Sekaligus Cara Melumatnya Secara Halalan Thayyiban. Nomor 4 Cocok untuk Pria Virgo!

Dipublikasikan Senin, 30 Oktober 2017 dalam rubrik  Obrolan Warung Kopi

Desas-desus kembangkitan kembali PKI sudah meredam, digantikan dengan pro-kontra tentang suami yang berpoligami dan gubernur baru yang mengucapkan kata “pribumi”. Di sepanjang September lalu, beranda Facebook dan media sosial lain diramaikan pendapat yang menyetujui dan tak menyetujui desas-desus itu. Sumber-sumber digali untuk membuktikan pendapat para pihak, dari mulai penelusuran sejarah secara memilih dan memilah, info A1, kemiripan nama, foto, logo, ciri, atau apa saja.

Sadar atau tidak, di sekeliling kita masih beredar, dengan amat leluasa, pengaruh Komunisme di ranah tak terduga. Tulisan berikut akan menguak pengaruh itu dengan kadar pertanggungjawaban yang kira-kira berbobot, dengan melakukan penggalian atas sumber-sumber yang telah disebutkan di atas.

(1)
Kira-kira dua pekan lalu, redaktur senior kebanggan kita, Mbak Fathia, mengundang anak-anak NuuN.id untuk sesuatu yang sangat tautologis: mengajak makan-makan dalam rangka mengajak makan-makan, bukan dalam rangka merayakan ulang tahun atau kelulusan magister pendidikan sejarahnya. Karena hari itu banyak yang sibuk, kami cuma makan berempat. Sebuah tempat makan serba olahan bebek di Lenteng Agung, dekat perbatasan Depok-Jakarta, dipilih.

Keterkejutan kami dimulai ketika membuka buku menu. Dari daftar menu di sana, saya tergoda untuk memesan bebek peking, karena sebelumnya hanya tahu istilah ini dari film, majalah, atau komik. Ingatan bawah sadar saya terpanggil ketika membaca kata “Peking” pada sebuah kota tempat seorang sastrawan angkatan ‘45, Utuy Tatang Sontani, pergi berobat atas saran D.N. Aidit. Waktu itu, Utuy baru menjadi anggota PKI selama 6 bulan. Dalam memoarnya, Di Bawah Langit tak Berbintang, hlm. 149, Utuy menceritakan alasan aneh dari kawan Komunis Cinanya.

Kepada Siao Kou tentu saja tidak kutanyakan dari siapa sesungguhnya dia menerima bungkusan makanan itu. Yang kutanyakan kepadanya ialah mengenai penyakitku, mengapa begitu parah sehingga perlu cepat mendapat perawatan.

“Memang parah,” jawabnya. “Dan obatnya sesungguhnya cuma satu.”
"Apa?” tanyaku.
“Kawan mesti belajar pikiran Mao Ce-Tung.”

Apakah Anda merasakan keanehan yang sama dengan saya setelah menyimak penggalan di atas? Ya, kekuasaan Komunis di Peking saat itu, barangkali: percaya pada sebuah cara politis untuk menyembuhkan perkara medis! Utuy wafat dan dimakamkan secara Islam di Moskow, tahun 1979, beberapa tahun setelah Gestapu ’65 di Indonesia yang mengakibatkan unsur-unsur PKI tak bisa kembali ke Indonesia. Al-Fatihah untuk beliau dan semoga tak terulang lagi penerapan Komunisme di dunia kesehatan.

Nah, ketika bebek peking itu tersaji, ia semakin menaruh kecurigaan saya atas pengaruh Komunisme di dalamnya. Entah sengaja atau tidak, pelayan restoran tersebut menyajikan bebeknya di hadapan saya seperti ini:

 

Apa yang aneh dari posisi ini? Sebagai muslim dan orang kampung yang terbiasa memakan pakai tangan kanan, saya amat kesulitan untuk menyuwir bebek dan mencocolkannya ke sambal jika posisinya seperti ini, apalagi untuk tahapan setelah itu: mencampurkannya ke nasi seperambilan tangan. Keadaan ergonomis akan tercapai jika saya memutar sajiannya 180 derajat, sehinga menjadi seperti ini:

Gara-gara memutarnya, si bebek peking kini berada di sebelah kiri. Ya, kiri!

(2)
Jika kasus bebek peking di atas adalah pengalaman pribadi yang menjadi bahan refleksi pengalaman politik global, maka hal berikut adalah kebalikannya, yakni pengalaman banyak orang yang menjadi bahan refleksi pengalaman politik nasional. Entah disengaja atau tidak (lebih baik jika Anda meyakininya sebagai sesuatu yang sangat tidak disengaja), hal ini mendesak keadaran kita, lagi-lagi, dalam berkuliner.

Mengapa kita meyakini bahwa saat ini, jumlah kader aktif PKI (setelah mengalami kebangkitan kembali) adalah 60.000.000 orang, tak kurang dan tak lebih. Jumlah kader PKI itu tidak, misalnya, ternyata 60.073.091 orang. Jumlah 60 juta orang ini berdasarkan sumber A1 yang berseliweran sehingga malah memunculkan kesan. masih adakah rahasia negara? Sumber tersebut mungkin menyimak dengan baik hasil penelitian Murdjiati Gardjito dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang mengatakan bahwa ada 75 jenis soto dengan 48 jenis bumbu di 22 derah di Indonesia. Lho, apa kaitan di antara ini semua? Demikianlah sebuah konspirasi bekerja, menggunakan celah-celah yang sangat tipis sehingga tak memberikan waktu kepada kita untuk segera menyadarinya.

Kekuatan tertentu telah memanfaatkan itu untuk mendata siapa-siapa yang menjadi penikmat soto. Jika para peneliti mengunjungi 22 tempat di Indonesia untuk mendapatkan data valid, dibutuhkan sekurang-kurangnya 600 sampel penikmat soto supaya data menjadi representatif. Oleh kekuatan tertentu itu, 600 sampel dianggap mewakili populasi sebanyak 100.000 kali lipatnya.

Maka, ada 600 x 100.000 orang yang menikmati soto; lebih gamblangnya, ada 60.000.000 orang yang suka soto; lebih gamblangnya lagi, ada 60.000.000 orang yang suka Nyoto*. Apakah hal ini sebuah ketaksengajaan? Penemuan kata kunci berupa “Peking” dan “Nyoto” ini mengharuskan kita lebih waspada dari kewaspadaan yang ada sebelumnya. Apalagi musim hujan telah tiba dan jentik nyamuk sering muncul di genangan, juga saluran air yang bisa menyebabkan banjir karena tersumbat sampah plastik akibat ulah tangan manusia-manusia kjokkenmoddinger.

(3)
Kita (atau mungkin, cuma saya saja) tentu terhenyak pada pengaruh komunisme di ranah kuliner. Sebuah hal yang tak diduga dan tak dipikirkan oleh orang paling waras sekali pun. Mereka tidak menggunakan cara-cara benderang macam memproduksi “Yoghurt Marx, Rasa Getir Perlawanan (Dingin Lebih Nikmat)” untuk mempengaruhi konsumen Yoghurt Cimory, atau “Rokok Sejoli, Sekali Jajal Langsung Revolusi” untuk mengambil hati (dan paru-paru) masyarakat akar rumput yang masih suka menikmati Sejati, kretek berbungkus biru yang terkenal itu.

Mau tak mau, suka tak suka, kita harus menyongsong seruan ilmiah Pak Natsir terkait komunisme. Pengumpulan data yang cermat, penarikan simpulan yang sistematis dan dapat dipertanggunjawabkan secara epistemologis, serta pengambilan keputusan dan kebijakan yang adil, menjadi arah yang harus dicapai oleh segenap kaum muslimin di Indonesia. Kalau sudah demikian, kita tak akan lagi dengan mudah terpancing, panik, dan marah oleh desas-desus kebangkitan kembali PKI hanya gara-gara membaca sumber yang belum jelas data dan kadar ilmiahnya, seperti tulisan yang sedang Anda baca ini.

(5)
Tetapi bagaimana bila terjadi keadaan tak dikehendaki, yang muncul setelah sebagian pembaca mempercayai butir (1) dan (2) di atas lalu kembali terpancing, panik, dan marah, tetapi meninggalkan butir setelahnya? Sepahit-pahitnya keadaan, bisa jadi, adalah persekusi dan demo menolak PKI di warung-warung bebek peking dan soto. Supaya hal konyol itu tak terjadi (dan sepertinya terlalu bodoh untuk bisa terjadi), kita bisa belajar dari penggalan novel Atheis, hlm. 108, karya Achdiat K. Mihardja berikut:

Dengan lincah jongos menaruh segala makanan dan minuman yang dipesan. Meja terlalu kecil. Diseret lagi sebuah meja yang lain.

“Ayo, kita mulai saja,” kata Rusli, setelah jongos selesai.

“Marilah kita makan seperti buruh tani yang kelaparan,” kata Anwar sambil mengaduk-aduk gado-gadonya dengan sendok dan garpunya.

“Ya,” sambung Rusli. “Jangan seperti Kapitalis yang harus makan makanan Kaum Proletar.

Percakapan seperti itu pasti hanya muncul dari mulut Kaum Komunis di aras mula-mula, yang berupaya menghayati ke-komunis-annya sampai ke atas meja makan. Memang seperti apa cara makan petani yang kelaparan? Apakah adegan-adegan di film atau lukisan, yang menggambarkan seorang petani makan siang dari bekal di rantang istrinya setelah lelah menggarap sawah, menunjukkan penggunaan sendok dan garpu? Penghayatan yang sungguh dibuat-buat ini melebar hingga ke mana-mana, menjadi suatu kegandrungan yang berusaha diamalkan barisan kiri pemula. Selain soal makanan, ada pula soal kecurigaan pada semua yang bersinggungan dengan harta, agama. bahkan Tuhan.

Maka marilah kita menyadari bahwa kegiatan bernama “makan” adalah salah satu pelaksanaan perintah Allah untuk memenuhi hak tubuh; memilih bahan dan cara yang halalan thayyiban, memulainya dengan berdoa, dengan porsi yang tak berlebihan atau berkekurangan, bersyukur kepada Allah, dan membagikan kesempatan serupa, jika mampu, kepada saudara-saudara kita yang kelaparan. Dengan demikian, makan menjadi sebuah peristiwa ruhaniah yang membebaskan kita dari pengaruh setan, hawa nafsu, dan ideologi komunisme.

Setelah melumat habis bebek peking, kami ternyata masih bergembira, baik-baik saja, dan melanjutkan diskusi tentang rencana-rencana ke depan, sambil menyempatkan diri beberapa detik untuk berfoto seperti ini:


 
Siapa sangka, saya yang mencintai Masyumi hari itu memakai kaos bergambar wajah tokoh PSI, berjumpa dan melumat unsur komunisme bernama bebek peking.

Wallahu a’lam.

*Plesetan nyoto (kata tak baku untuk frase “memakan soto”) menjadi Nyoto (nama petinggi PKI) adalah karya candaan seorang keponakan Njoto, guru besar filsafat kebudayaan Universitas Paramadina, sekaligus penyair, Abdul Hadi WM.

**Apakah Anda mencari nomor 4? Karena meyakini bahwa astrologi adalah keyakinan yang syirik, termasuk jika ada yang mengidentifikasi diri sebagai “Pria Virgo”, saya sengaja meniadakan nomor 4 supaya tidak bertambah orang yang syirik itu. Mudah-mudahan, keterangan tambahan ini bisa menjadi pesan moral, supaya artikel ini ada manfaatnya.

Tulisan Terkait (Edisi Setelah Gestapu)

IKLAN BARIS